Tag Archives: Super Junior

The Reason Chapter 10

The Reason Chapter 10

thereasoncover

Author :

• HanneulKim

Title :

• The Reason Chapter 10 –Kesalahpahaman –

Category :

• Friendship, Yadong, NC-17,Chapter

Cast :

• Cho Kyuhyun

• Kim Hyuna (OC/ Bukan HyunA 4minute ya… eh tapi, tergantung pemikiran kalian deh.. hehe J)

Other cast :

• Lee Sungmin

• Choi Siwon

• Find other

Warning!!! Typo bertebaran…. Siapkan hati dan fikiran anda… terutama kantong muntah…

Happy reading Guys :*

Pagi ini begitu dingin, warna putih telah mendominasi seluruh kota. Salju yang turunlah menjadi penyebab utamanya. Mereka begitu sejuk, membuat siapapun terbuai olehnya. Begitu pula Hyuna, perempuan itu masih larut dalam selimutnya. Suhu yang cukup dingin bergesekan dengan kulitnya yang telanjang, membawanya lebih khusyuk kedalam mimpinya.

‘Kring… kring…’

“Sial!” Dia mengumpat pelan. Dengan terpaksa, ia beranjak dari tempat tidurnya. Dalam beberapa saat, dia baru menyadari bahwa pria itu tidak lagi tidur disampingnya.

“Kemana dia??” Hyuna berjalan pelan sembari memunguti pakaian yang berserakan di lantai. Mengingat apa yang terjadi semalam membuat pipinya memerah.
.
.

“Eommanim…” Hyuna menyapa seorang wanita paruh baya yang tengah dengan berbagai macam peralatan didapur. Semenjak pulang dari Hawai, mereka memilih untuk tinggal dirumah orang tua Kyuhyun. Well, sebenarnya mereka tidak begitu mempermasalahkan mengenai tempat tinggal. Mengingat, rumah orang tua mereka letaknya bersebelahan.

“Ah, Hyuna-ya. Kau sudah bangun rupanya!” Hyuna berjalan mendekat kearah Ibu mertuanya itu.

“Ne, apa ada yang bisa kubantu??” Tanya-nya. Saat ia hendak memegang pisau, sebuah tangan mencekalnya.

“Tidak perlu! Kau hanya perlu duduk manis disana, sayang! Aku yakin kau pasti lelah!” Mertuanya itu mengedipkan matanya jahil. Hyuna tersipu mendengar maksud terselubungnya itu. Matanya menyusuri setiap sudut ruangan, mencoba menemukan jejak- jejak Kyuhyun disana.

“Jika kau mencari ‘suamimu’ maka kau tak akan menemukannya disini, sayang! Dia sedang berlari pagi diluar.” Dia menghembuskan nafasnya. Bagaimana aku bisa melupakan kebiasaannya?? Bodoh!

Hyuna duduk diam dikursinya, menatap punggung wanita paruh baya itu penuh tanya. Kelembutan dan kehangatan yang diberikannya sama sekali tidak menggambarkan sosok ibu tiri, ataupun sosok perempuan perebut suami orang. Kasih sayangnya sungguh berbeda. Dia tampak menyayangi Kyuhyun sebagaimana darah dagingnya sendiri.

Ya, Kyuhyun memiliki ibu tiri yang selama ini ia panggil Eomma. Wanita itu begitu menyayangi Kyuhyun, bahkan melebihi kasih sayang ibu kandungnya sendiri. Ibu kandungnya bahkan meninggalkan luka yang sangat dalam dan berbekas dihatinya. Kalian akan mengerti apa yang kumaksudkan, bukan?

“Hyuna-ya! Jangan melamun terus.” Ucapnya lembut. Hyuna tersenyum pada wanita paruh baya itu. Dia menggeleng- gelengkan kepalanya pelan. Aku tahu maksudnya! Pipinya bersemu merah.


“Kyuhyun!” Pria itu menoleh. Namun tetap berkonsentrasi pada jalanan yang terhampar didepannya.

“Ada apa??” Hyuna berfikir sebentar. Apa sudah saatnya aku menanyakan hal itu padanya??

“Ah, tidak jadi.” Mereka terus diam. Perjalanan itu menjadi sangat panjang karena keanehan yang mereka buat sendiri.

“Kyu.. Apa nanti siang kau ada acara??” Kyuhyun menggeleng pelan.

“Kurasa tidak, ada apa??”

“Bagaimana jika kita makan siang bersama??” Matanya berbinar. Dia sangat ingin menikmati makan siang yang indah bersama suaminya itu.

“Baiklah, nanti akan kujemput.” Pria itu masih tetap berkonsentrasi pada jalanan dihadapannya. Tak lama, mobil yang mereka kendarai berhenti disebuah klinik tempat Hyuna bekerja.

“Aku pergi dulu, Kyu! Hati- hati dijalan.” Cupp. Hyuna mengecup pipi Kyuhyun , sebelum akhirnya memilih keluar dari mobil itu. Sementara Kyuhyun hanya diam, mencoba mengenali getaran aneh yang terus bergelayut manja didalam relung hatinya.


“Kau telah merebut suamiku! Dasar jalang!” Seorang yeoja maju beberapa langkah, wajahnya memerah menahan amarah. Dia berjalan mendekati perempuan lain yang tengah berdiri di hadapannya dengan ekspresi cemas.

“Kau salah, eonnie! Aku tak pernah merebutnya darimu, ini semua hanya salah paham!” Dia semakin merasa takut saat wanita itu semakin mendekat.

“Salah paham??!” Teriaknya. Suaranya menggelegar, terdengar begitu menyeramkan.

“Salah paham katamu, setelah bukti yang kuterima saat ini??” Dia menunjuk kearah perempuan itu, masih dalam nada yang cukup tinggi.

“Tidak, eonnie! Ini tidak seperti yang kau pikirkan!” Wanita yang dipanggil ‘eonnie’ itu mendenguskan nafasnya.

“Apa yang kau tahu tentang pikiranku??” Desisnya. Nadanya sangat pelan, namun mencekam. Wanita itu tertawa mengejek.

“Kau tak akan pernah tau, karena kau dan bayi sialanmu itu merebut segalanya dariku! Segalanya, sampai tak tersisa sedikitpun!” Perempuan itu mematung.

“Maafkan aku, eonnie. Ini semua salahku, apa yang harus aku lakukan untuk menebus segalanya??” Dia menangis. Beban yang berat menghimpit dadanya, dia tak pernah tau ini akan menyakiti wanita itu.

“Tak ada satupun yang bisa kau lakukan kecuali…” Wanita itu menyeringai, kemudian melanjutkan kalimat mengejutkannya.

“Tinggalkan Kyuhyun, dan menjauhlah dari kehidupan kami. Selama- lamanya!”


“Kyu, bolehkah aku bertanya sesuatu padamu???” Tanya Hyuna setelah menghabiskan suapan terakhir dipiringnya. Kyuhyun hanya menjawabnya dengan sebuah gumaman, karena pria itu masih asyik dengan makanan dihadapannya.

“Apa kau… err, menyayangi Ibumu??” Kyuhyun menghentikan makannya, menatap Hyuna dengan diam.

“Kau tak harus menjawabnya sekarang, Kyu. Aku akan menunggu kapanpun kau akan siap dengan jawabanmu!” Kyuhyun masih diam.

“Kyu, ayo lanjutkan saja makanmu! Anggap saja aku tak pernah menanyakan hal ini padamu!” Hyuna meletakkan tangan pria itu kembali pada tempat terakhirnya, dengan sendok dan garpunya. Tak lama, Kyuhyun melanjutkan kegiatannya dalam diam.

Hening melanda mereka, suasana canggung yang cukup kental begitu mengganggu. Kyuhyun menyelesaikan makannya, pria itu menatap piringnya yang telah bersih. Dia bingung, pertanyaan itu begitu membingungkan dan menyakitkan. Dia memiliki dua sosok Ibu yang ia kenal. Keduanya memiliki sifat yang berkebalikan, yang tidak seharusnya.

“Hyuna-ya…” Dia mendongak. Menatap Kyuhyun yang masih setia dengan piringnya.

“Hmm??”

“Aku berjanji akan menjawab pertanyaanmu, jika aku mampu.” Mereka saling bertatapan. Hyuna melemparkan senyumannya pada Kyuhyun, kemudian dia berdiri dan mengamit lengan Kyuhyun.

“Ya, tentu. Nah, kita memiliki pekerjaan lain sekarang. Ayo, jam makan siang sudah hampir habis!” Pria itu menyambutnya dengan sukacita, mereka berjalan beriringan. Hyuna berharap akan selalu ada pada posisi seperti ini selamanya.
.
.
Hyuna kembali ke klinik tempatnya bekerja dengan penuh senyum kebahagiaan. Namun, semuanya luntur seketika saat sebuah pemandangan mengacaukan penglihatannya. Seorang gadis yang begitu ia kenal tengah duduk manis di ruang tunggu, dia mengelus perutnya. Semua itu terasa tidak masuk akal baginya, baru satu bulan berlalu dan kini semuanya terasa sangat aneh. Tidak sesuai dengan waktu dan keadaan.

“Kim Haneul??” Perempuan itu mendongak. Ekspresinya terkejut saat melihat Hyuna yang menatapnya dalam ekspresi yang sama.

“Kau Kim Haneul kan??” Gadis itu berdiri dengan gugup, kemudian mengangguk pelan pada Hyuna.

“Nona Kim Haneul!” Seorang perawat keluar dari sebuah ruangan dan menghentikan niatan Hyuna untuk meminta penjelasan. Haneul berlalu menuju praktek dokter kandungan, menyisahkan kebingungan bersama Hyuna.

Hyuna menunggu Haneul didepan ruangan pemeriksaan di klinik itu. Dia ingin mengetahui cerita sebenarnya, apa yang menjadi kebenarannya. Sementara itu, Haneul memandang resah kearah dokter yang tengah memeriksakan keadaannya.

Dokter itu tersenyum pada Haneul, dan mengarahkan sebuah benda ke perut buncitnya yang teroleskan gel. Beberapa saat kemudian, keresahannya meluntur seketika begitu ia melihat gambaran kehidupan di perutnya. Hatinya menghangat, dia tak pernah merasa sebahagia ini sebelumnya. Merasa hidupnya tak selalu tidak berguna, dia merasa sangat diinginkan.

“Kandungan anda sangat sehat, nyonya. Saya harap anda dapat menjaga kesehatan anda, tidak terlalu lelah, atau stres, karena itu bisa mempengaruhi kehamilan anda!” Dokter itu membuyarkan lamunannya, kemudian menjelaskan hal- hal yang dibutuhkannya pada waktu yang akan datang.

Pertemuan itu berakhir sangat cepat, menurutnya. Tapi dapat membuatnya melupakan sebuah hal yang meresahkannya. Seseorang yang menanti penjelasannya dari balik pintu.

“Kim Haneul…” Dia menoleh kearah samping, dan mendapati Hyuna yang sedang duduk dikursi tunggu. Perempuan itu menampilkan wajah yang membutuhkan penjelasan padanya.

“Bisa kau ikut aku keruanganku, sekarang??” Tanyanya datar. Dengan pelan dan ragu, Haneul mengangguk. Gadis itu mengikuti Hyuna masuk kedalam ruangannya.


“Mianhaeyo, eonnie.”

“Kenapa kau harus meminta maaf padaku??” Hyuna mendengus. Dia belum mengerti kenapa gadis itu langsung meminta maaf padanya, memangnya dia punya salah apa??

“Aku telah merebut paksa Siwon oppa darimu…” Gumamnya pelan. Dia masih menunduk. Hyuna mendesah pelan.

“Memangnya aku memanggilmu untuk menanyakan hal itu??” Hyuna bertanya dengan ketus, sambil memegang pinggang.

“Tapi, hal itu mungkin berhubungan…”

“Apa??” Ucapnya saat mendengar bisikan Haneul. Namun, gadis itu hanya menggeleng pelan dan menunduk. Hatinya resah dan gelisah.

“Jadi bagaimana kau bisa memiliki perut sebesar ini, sementara kalian baru menikah satu bulan lamanya!” Haneul hanya diam. Dia masih takut untuk bersuara, atau tepatmya malu.

“Tapi, eonnie…” Dia terlihat ragu untuk menyampaikan kalimatnya.

“Kurasa ini bukan urusanmu…”Jawaban gadis itu membuat Hyuna bungkam. Ini memang bukan urusannya, dan seharusnya dia tak perlu perduli dengan kehidupan mereka. Karena dia memiliki kehidupannya sendiri.


“Hei!! Kenapa melamun?? ayo dimakan!” Ucap Kyuhyun yang menyadarkan Hyuna dari lamunannya. Perempuan itu melanjutkan makan malamnya, sementara otaknya masih terus berputar.

“Hyuna-ya!” Panggil Kyuhyun. Hyuna langsung menoleh padanya dan mengangkat satu alisnya.

“Ada apa, Kyu??”

“Mengenai pertanyaanmu tadi itu…” Kyuhyun terlihat ragu dengan kalimatnya.

“Tidak usah dijawab dulu, jika memang kau belum mau!” Kyuhyun menggeleng. Dia harus menjawab pertanyaan itu sekarang.

“Aku tidak tahu, apa yang kau maksud Ibu kandung atau Ibuku yang sekarang…” Kyuhyun memulai kalimatnya dengan satu tarikan nafas.

“Aku berbohong jika aku bilang aku tidak menyayangi Ibu kandungku… tapi, kau tahu bagaimana kejamnya dia saat aku kecil, dan itu membuatku ingin melupakannya!” Sambungnya.

“Mengenai Ibuku yang sekarang, aku sangat menyayanginya meskipun dia bukan Ibu kandungku! Tapi ada satu fakta yang membuatku meragukan kasih sayangku padanya…” Kyuhyun terlihat sedih.

“Apa itu?? Jika kau ingin memberitahuku!”

“Ibuku yang sekarang… adalah penyebab Ayah dan Ibuku berpisah, kau akan mengerti itu..”

‘Apa??’


“Eonnie…. Maafkan aku! Aku tidak bisa pergi darinya…” Seorang wanita yang terlihat tengah berlutut dihadapan seorang wanita yang lebih tua darinya.

“APA?!” Wanita yang lebih tua itu terlihat murka, api yang membara tergambar jelas dari kedua bola matanya.

“Sungguh! Kau wanita tidak tahu diri! Harusnya kau itu bersyukur karena orang tuaku masih mau mengurusmu, tapi apa yang kau perbuat?? Kau bahkan merebut suami kakakmu sendiri!” Teriaknya. Suaranya begitu menggambarkan apa yang dia pikirkan.

“Bisa tidak bisa, mau tidak mau, kau harus pergi darinya!”

“Eonnie, aku mungkin bisa meninggalkan Yeunghwan oppa… tapi tidak untuk putraku!” Wanita yang lebih tua itu tertawa pahit.

“Ya, seperti yang sudah aku katakan! Bisa ataupun tidak bisa, kau harus pergi dari kehidupan mereka!”

“Aku tetap tidak bisa, eonnie! Ibu mana yang bisa meninggalkan anaknya sendiri?? Bahkan hewanpun tidak mau meninggalkan anaknya…” Wanita yang lebih muda itu mencoba melawan.

“Kim Jihyun!”

“Eonnie… aku akan tetap pergi dari kehidupanmu! Tapi, izinkan aku membawa Kyuhyun bersamaku!” Suaranya melembut. Dia memohon pada wanita yang lebih tua darinya itu.

“Tidak!” Dia menggeleng keras.

“Jikyung Eonnie, pikirkan jika kaulah yang jadi aku! Bagaimana perasaanmu jika Ahra diambil secara paksa darimu??” Pandangan Jikyung melunak, tapi sebagian hatinya masih diselimuti oleh kebencian, trauma, dan dendam yang masih membara.

“Apa kau tidak pernah berfikir, jika kau yang jadi aku!!” Jikyung meninggikan suaranya. ‘Apa yang dia tau tentang bagaimana rasanya kehilangan itu??’ Bathinnya.

“Apa yang kau tahu tentang diriku??” Dia bertanya. Kali ini, nada suaranya terdengar begitu memilukan.

“Kau yang selalu ditatap Appa!! Kau yang selalu dibanggakan Appa!! Kau yang merebut Appa dari kami!! Kau dan Ibumu itu sama saja!!” Nadanya kembali berubah, seluruh intonasinya dipengaruhi oleh kebencian yang mendalam.

“Apa yang kau tahu tentang rasa sakit?? Apa yang kau tahu rasa sakit yang kualami ketika eomma melampiaskan kebenciannya pada Appa kepadaku?? Apa yang kau tahu tentang itu??” Jihyun terdiam, wanita itu benar!

“Dan akan kubuat Kyuhyun merasakan sakit yang kurasakan seumur hidupnya!”


“Yang aku tahu, Ibuku dan Ibuku yang sekarang adalah saudara tiri…” Kyuhyun menceritakan kisahnya, sebuah pengantar tidur bagi Hyuna.

“Kakek selalu memanjakan Jihyun eomma, tapi dia tak begitu memperhatikan nenek dan eomma..” Hyuna tengah berbaring, kepalanya beralaskan salah satu lengan Kyuhyun. Dia mendengarkan setiap kata yang diucapkan Kyuhyun tanpa terlewat satupun.

“Aku tak tahu apa yang terjadi pada mereka… tapi, menurutku ada sesuatu yang salah dari semua ini!” Ungkapnya lagi.

“Terlebih, aku merasakan ada hubungan yang kuat antara aku dan Jihyun eomma. Aku sendiri tidak mengerti, seharusnya aku membencinya bukan??” Hyuna menatap Kyuhyun, membelai pipi tembam pria itu.

“Tidak, Kyu! Bisa saja semua ini hanya salah paham…” Kyuhyun memejamkan matanya sebentar.

“Entahlah! Tapi semua yang kuingat mengatakan begitu, Jihyun eomma telah merebut appa, dan menyebabkan kepergian Ahra noona….” Hyuna menggeleng lagi.

“Kau tidak tau pasti apa yang terjadi, bukan?? Kenapa tidak kau tanyakan langsung saja??”


“Kyuhyun sayang…” Jihyun memanggil pria kecil yang tengah memainkan benda kecil persegi panjang itu dengan lembut.

“Ahjuma…”Kyuhyun mendekatinya, dan memeluknya erat melupakan mainan favoritnya. Baginya, wanita itu adalah seorang malaikat yang turun dari langit.

“Mulai sekarang, jangan panggil Jihyun ahjumma lagi, tapi panggil dia eomma!” Ucap ayahnya dari balik Jihyun, Kyuhyun menatap Ayahnya takut.

“Shireo!” Kyuhyun kecil melepaskan pelukannya. Dia memandang raut Jihyun yang penuh dengan kekecewaan.

“Mau ataupun tidak, kau harus memanggilnya eomma!” Ucap Ayahnya tegas. Namun, Kyuhyun belum bisa menerima permintaan ayahnya itu. Karena, menurutnya eomma nya hanya satu! Orang yang dipanggilnya eomma itu adalah sesosok monster yang selalu memukulinya. Dia tidak ingin Jihyun berubah menjadi monster saat Kyuhyun memanggilnya eomma.

“Andwe…” Kyuhyun kecil terus menggelengkan kepalanya. Dia tidak ingin mengulangi masa- masa menyakitkan itu lagi.

“Kyuhyun!”


“Eomma…” Kyuhyun memanggil ibunya dengan pelan, nyaris berbisik. Wanita itu berbalik, mengalihkan perhatiannya dari peralatan masak.

“Eomma…” Kyuhyun memikirkan kembali pertanyaan yang akan diajukannya. ‘Kenapa eomma menikahi Appa??’

“Mworago??” Tanyanya lembut. Kyuhyun hanya menggelengkan kepalanya dan tersenyum simpul.

“Tidak ada..” Dia kembali teringat kata- kata Hyuna semalam. ‘Kau tidak tau pasti apa yang terjadi, bukan?? Kenapa tidak kau tanyakan langsung saja??’

Dia sangat ingin mengetahui hal yang sesungguhnya, agar tidak terjadi kesalah pahaman. Tapi, hati kecilnya mengintruksikan agar dirinya tidak bertanya. Semuanya menjadi serba salah.

Hyuna melihat kebimbangan di mata Kyuhyun, wanita itu hanya diam dan mengawasi dari balik tembok pembatas ruang makan dan dapur. Mungkin Kyuhyun punya jalan sendiri untuk dirinya, dan Hyuna beranggapan dia tak punya hak untuk itu.

.
.

“Hyuna-ya??” Kyuhyun memanggil dengan pelan. Dia menoleh, menaikkan salah satu alisnya.

“Dulu sewaktu aku kecil, aku tidak pernah memanggil Ibuku dengan sebutan eomma…” Hyuna mendengarkan Kyuhyun. Suaminya itu mulai membuka dirinya, dan dia akan bercerita.

“Kenapa???” Hyuna tidak ingin terlalu banyak bertanya. Dia tidak mau merusak mood Kyuhyun yang sedang menceritakan masa lalunya.

“Karena, seorang yang akan kupanggil eomma akan menjadi sebuah monster yang sangat menyeramkan… Dan aku tidak ingin Ibu (Red: Ibu tiri) akan menjadi seperti eomma yang selalu memukulku dan noona! Tapi, dengan paksaan Appa akhirnya aku terbiasa memanggilnya eomma….” Dia menghela nafasnya pelan. Tapi itu semua belum apa- apa hingga Kyuhyun melanjutkan kalimatnya yang lebih mengejutkan.

“Aku tidak ingin menyayangi seorang perempuan, karena aku takut mereka meninggalkanku! Seperti Ahra noona dan eomma…”

.
.

“Hyuna-ya… Neo gwaenchana??” Kulit putihnya terlihat pucat, tubuhnya kaku, keringat dingin membasahi tubuhnya. Sedari tadi dia hanya menatap makanan siangnya tanpa minat, perutnya memang lapar tapi dia tidak sedang ingin makan saat ini.

“Ya, aku tidak apa- apa Dr. Kim!” Ucapnya.

“Jika kau memang tidak apa- apa, kenapa makanannya tidak dimakan??” Hyuna memandang makanannya tanpa minat.

“Tidak, aku hanya tidak sedang berselera! Kurasa aku terkena demam musim salju, ha-ha!” Candanya.

“Ada- ada saja kau ini! Apa itu demam musim dingin?? Selama aku menjadi dokter aku tidak pernah mendengar nama penyakit seperti itu…” Ucap Dr. Kim disela tawanya.

“Itu artinya, namaku bisa dimasukkan dalam sejarah!”


“Hhh… panas sekali..” Hyuna terbangun tidurnya. Langit masih belum menampakkan sinarnya. Malam itu, seluruh tubuhnya terasa panas, kepalanya juga terasa berputar.

“Apa yang terjadi denganmu, Hyuna-ya??” Kyuhyun yang melihat kegelisahan Hyuna tampak kebingungan.

“Tubuhku panas sekali…” Dia menyentuh kepala dengan punggung tangannya. Kyuhyun menatap Hyuna curiga, pria itu menautkan alisnya.

“Jangan- jangan…” Kyuhyun menggantungkan kalimatnya. Hyuna menatap bingung Kyuhyun yang pergi meninggalkannya menuju kamar mandi.

“Kau tidak minum obat ‘ini’ lagi kan??” Kyuhyun menodongkan obat ‘terlarang’ itu pada Hyuna. Obat yang menjadi penyebab tragedi malam pertama itu terjadi.

“Tentu saja tidak, bodoh!” Hyuna melempar Kyuhyun dengan bantal yang terbaring rapi disampingnya.

“Ya, mungkin saja kan?? Hey! Bukankah dia yang bodoh??” Gerutu Kyuhyun yang masih dapat didengar Hyuna, meskipun pria itu tengah melangkahkan kakinya kembali menuju ke kotak first aid disudut kamar.

“Aku mendengar itu, Cho Kyuhyun!”

.
.

“Kyuhyun….” Erang Hyuna dalam tidurnya. Kyuhyun yang berbaring disebelahnya itu terbangun karena Hyuna sedari tadi terus memanggil namanya.

“Hey… Hyuna- ya!” Kyuhyun menepuk pipinya pelan. Kyuhyun semakin panik saat kulit mereka bersentuhan, suhu tubuhnya sangat panas.

“Kyuhyun… uhhukk.. uhhukk..” Hyuna mengerang lagi sambil terbatuk.

“Hey bangun….” Kyuhyun menepuk pipinya lagi. Dia harus memastikan, apakah gadis itu masih sadar atau tidak.

“Kyuhyun!” Matanya yang merah itu terbuka, Hyuna menatapnya sendu sambil meracaukan hal yang tidak jelas.

“Kyuhyun cium aku… uhhukk… uhuukk..” Kyuhyun menaikkan salah satu alisnya bingung.

“Hey… kau ini kenapa??” Dia menepuk pipi Hyuna lagi.

“Kyuhyun cium aku… uhkk..”

“Hyuna kau ini… hmnpphh.” Ucapan Kyuhyun terpotong saat bibir perempuan itu membungkamnya. Hyuna mencium Kyuhyun dengan kesadaran yang rendah, namun permainannya mampu memancing gairah pria itu. Hingga akhirnya, Kyuhyun membalas ciuman Hyuna. Dia menyusupkan lidahnya kedalam mulut panas Hyuna.

“Kyuhh…” Hyuna mendesah pelan saat tangan liar Kyuhyun meraba tonjolan(?) kembarnya. Kegiatan mereka bertambah panas saat kecupan- kecupan nakal Kyuhyun berpindah kelehernya, dan meninggalkan jejak disana.

“Uhukk… uhhukk… Kyuhyun… Uhkk.” Kyuhyun tersadar. Pria itu terlalu larut dalam gairahnya, dia sampai lupa kalau Hyuna sedang sakit.

“Mianhae- yo… Aku akan mencarikan obat flu untukmu!” Kyuhyun menghentikan kegiatan mereka, pria itu beranjak menuju kotak first aid yang terletak disudut kamar. Dengan teliti, dia mengambil botol putih itu.


“Dr. Kim, mianhae sepertinya aku tidak bisa masuk bekerja hari ini uhhkk. Aku sedang terkena flu, hachimmm.” Hyuna sedang menelpon. Dia terlihat cukup sulit untuk berbicara, karena batuk dan bersin yang selalu mengganggu.

‘….’

“Oh ne… Tentu saja, uissa-nim! Oh, kau baik hati sekali… maaf merepotkanmu.”

‘…..’

“Ne, gamsha hamnida… Anyeong.” Dia memutus sambungan telepon itu. Huh, Hyuna sangat membenci saat- saat dimana dia harus terserang penyakit.
Dimana dia tidak akan bisa pergi kemana- mana dan kesepian dirumah. Kyuhyun sudah berangkat ke kantor tadi pagi, begitu pula dengan Ayah mertuanya. Kini, dia hanya berdua dirumah dengan sang Ibu mertua yang tengah sibuk didapur.

‘knock.. knock..’

“Hyuna- ya, apa kau sudah bangun??” Suara lembut Ibu mertuanya terdengar dari balik pintu.

“Ne… Silahkan masuk hhk.. uhhk, eomma-nim.” Jawabnya sambil berusaha bangun dari ranjangnya. Seluruh tubuhnya terasa lemas, kepalanya juga ikut berputar. Jika dipaksakan, mungkin dia akan berakhir pada toilet.

“Apa kepalamu masih pusing, sayang??” Ucap wanita paruh baya itu sambil membawa seperangkat sarapan disertai obat flu milik Hyuna yang baru saja diambilnya dari sudut kamar.

“Ne, eomma. Tapi, sudah lebih baik dibanding semalam hachim…” Jawabnya. Ibu mertuanya pun duduk disisi ranjang dan menempatkan nampan berisi bubur dan lain- lain itu di atas pangkuan Hyuna.

“Ayo dimakan, sayang! Kau harus sarapan dulu, lalu minum obat.” Ucapnya lembut. Hyuna mengangguk dan memulai sarapannya. Dia harus makan jika ingin sembuh, walaupun semua yang melewati tenggorokannya terasa hambar dan terkadang pahit.

“Gomawo-yo, eomma.” Ucap Hyuna setelah dia menghabiskan menu sarapannya, dan meminum obat flu.

“Eomma-nim…” Panggil Hyuna pelan saat ibunya itu beranjak dari sisi ranjangnya. Wanita paruh baya itu berbalik dan memberikan senyuman terhangatnya.

“Apa, sayang?? Ada sesuatu yang kau butuhkan??” Tanyanya dengan nada yang sangat lembut. Hyuna menggeleng, dia hanya ingin bertanya satu hal.

“Tapi… Bolehkah aku bertanya beberapa hal padamu, eomma-nim??” Jihyun kembali duduk disisi ranjang tadi dan meletakkan nampan yang dibawanya di meja samping ranjang.

“Tentu saja!”

“Ini mengenai masa kecilnya Kyuhyun…” Hyuna memelankan suaranya, terlebih saat melihat Ibu mertuanya itu terdiam. Wanita paruh baya itu menatap Hyuna sendu.

“Tidak perlu diceritakan jika eomma…”

“Tidak, tak apa! Hal yang wajar jika seorang istri ingin mengetahui masa lalu suaminya…” Jihyun tersenyum, yang Hyuna tau itu hanyalah sebuah senyum paksa. Ada sesuatu yang pahit yang di sembunyikannya.

“Ya…” Ucap Hyuna pelan. ‘Andai kau tahu, eomma! Aku melakukan semua ini karena aku ingin Kyuhyun kembali normal….’

“Eomma, apa kau sangat menyayangi Kyuhyun??” Tanya Hyuna pelan. Jihyun tersenyum penuh kasih sayang.

“Tentu saja, tidak ada ibu yang tidak mencintai anaknya…” Ucapnya penuh kebahagiaan.

“Bahkan, jika aku harus menukarkan nyawaku dengannya… aku rela, sayang!” Lanjutnya lagi.

“Mianhae, eomma…” Hyuna tertunduk, dia merasa sangat bersalah karena telah meragukan kasih sayang yang telah diberikan Jihyun pada suaminya.

“Aniya, gwaenchanna… Memang sudah wajar jika kau meragukan kasih sayangku pada Kyuhyun mengingat statusku yang hanya…”

“Bagi Kyuhyun, eomma merupakan orang yang paling dia sayangi…” Hyuna memotong kalimat Jihyun. Kemudian mereka saling berpelukan, penuh kasih dan sayang.

“Terima kasih karena sudah mendampingi Kyuhyun….” Ucap Sang Ibu mertua. Hyuna menggeleng pelan dan berkata.

“Seharusnya aku yang berterima kasih karena eomma mau menerimaku sebagai menantu dirumah ini…”

.
.

“Hyuna- ya… uhhkk…” Kyuhyun memanggil Hyuna saat dia memasuki kamar. Kyuhyun tampak pucat dan kelelahan. Hyuna yang berbaring diatas ranjang langsung berdiri dan melihat Kyuhyun khawatir.

“Hei… Apa kau baik- baik saja??” Suaranya menggambarkan kekhawatiran yang wanita itu rasakan. Dia berdiri dari tempat tidur, dan membantu Kyuhyun untuk duduk disofa dekat jendela.

“Tenggorokkanku sakit sekali… uhhk.. Apa kau sudah merasa lebih baik??” Kyuhyun terbatuk. Hyuna memandang Kyuhyun penuh penyesalan.

“Ya, aku merasa cukup sehat hari ini… Maaf, mungkin aku sudah menularkan penyakitku padamu…” Ucapnya penuh penyesalan.

“Ya… Tapi, aku suka caramu menularkannya padaku.” Kyuhyun tertawa genit. Hyuna hanya menatap Kyuhyun dengan tidak mengerti.

“Maksudmu?? Memangnya, bagaimana aku menularkan penyakitku padamu??” Tanya Hyuna penasaran. Kyuhyun mengacak rambut Hyuna pelan dan tertawa.

“Untuk yang satu itu, anak kecil sepertimu tidak boleh tau.” Ucapnya tenang sambil sesekali terbatuk.

“Yak!!! Cho Kyuhyun!!” Hyuna berteriak saat menyadari maksud terselubung Kyuhyun, walaupun dia mengabaikan fakta mengenai pipinya yang memerah.

“Ssstt! Berisik… uhukk..” Kyuhyun menutup mulut wanita itu dengan sebelah tangannya sambil berdiri.

“Cho Kyuhyun, apa kau sudah makan??” Tanya Hyuna setelah Kyuhyun melepaskan tangannya. Pria itu mengangguk dan berbaring, tanpa perlu melepaskan pakaian kerjanya.

“Apa sudah makan obat??” Tanpa suara, Kyuhyun menjawab dengan gelengan kepala pelan.

“Baiklah, tunggu disini! Aku akan mengambilkan obat untukmu…” Hyuna berjalan menuju sudut kamar dan mengambil sebuah botol putih dari kotak first aid, kemudian memberikannya pada Kyuhyun lengkap dengan air putihnya.

“Ini obatnya dimakan…” Kyuhyun langsung bangkit dari tidurnya, kemudian memakan obat yang diberikan Hyuna padanya.

.
.

“Hyuna- ya…” Kyuhyun memanggil Hyuna pelan, dia mencoba membangunkan wanita itu dari tidurnya. Namun, tidak ada tanggapan yang diberikan.

“Hyuna- ya…” Hyuna menggerakkan tubuhnya pelan, tapi belum juga membuka matanya. Kyuhyun menjadi kesal melihat Hyuna yang tidak kunjung bangun dari alam bawah sadarnya.

“Yak!! Hyuna-ya, ayo bangun…” Kyuhyun menaikkan nada suaranya. Pria itu menatap Hyuna dengan kesal. Bagaimanapun, Hyuna harus bangun dari tidurnya untuk membantunya. Entah apa yang diberikan perempuan itu padanya semalam, dia merasa kepanasan.

“Hmmm…” Setelah banyak usaha yang Kyuhyun lakukan, dia hanya mendapatkan gumaman aneh sebagai jawabannya.

“Hah… eottokhae???” Kyuhyun melepaskan piyamanya. Dia juga menyalakan AC dengan suhu yang cukup dingin. Hyuna yang tertidur lelap merasa kedinginan, dia lantas bersembunyi di balik bed cover. Sementara itu, Kyuhyun merasa gelisah karena suhu tubuhnya, terlebih bagian bawahnya yang menegang entah karena apa.

“Kyuhyun!! dingin!” Gumam Hyuna saat Kyuhyun menarik paksa bed cover itu dari tubuhnya.

“Kyuh… hhmmmph…” Belum sempat dia melayangkan protesnya yang kedua kali, pria itu langsung membungkamnya dengan ciuman yang penuh dengan gairah.

“Hah.. Kau ingin membunuhku ya???” Teriak Hyuna dengan terengah, saat Kyuhyun melepaskan bungkamannya. Mata merah Kyuhyun menatap Hyuna seperti seekor singa yang hendak menerkam mangsanya.

“Hyuna- ya…” Panggil Kyuhyun dengan suara seraknya. Hyuna hanya menaikkan sebelah alisnya melihat tingkah aneh Kyuhyun.

“Kau ini kenapa sih??” Kyuhyun mendekatkan wajahnya ke wajah Hyuna, membuat mereka saling merasakan deru nafas masing- masing.

“Aku… uhkk, butuh bantuanmu…” Jawabnya sambil sedikit terbatuk.

“Apa?? Apa masih sakit??” Hyuna memandang Kyuhyun khawatir. Tangannya sibuk memeriksa suhu tubuh Kyuhyun di kepalanya. Namun, tangan Kyuhyun memegang tangan Hyuna yang berada dikepalanya.

“Aku tidak butuh bantuan disitu… tapi disini….” Kyuhyun menarik tangan Hyuna dari atas kepalanya.

“Kyaa…” Hyuna terlonjak kaget saat tangan Kyuhyun meletakkan tangannya diatas benda keramat milik Kyuhyun yang sedang berdiri.

Ini cuman Previewnya aja guys… buat part penuhnya tunggu di FlyingNC aja yah… maaf gak bisa update cepet… maklum lagi sibuk banget…. setelah menyelesaikan ff ini, rencananya aku mau hiatus sementara, buat persiapan UN 2016

The Reason chapter. 4

image

Anak laki- laki berpakaian serba hitam itu tersenyum disisa- sisa tangisannya. Tangan kanannya tengah menggandeng seorang anak perempuan yang berusia sedikit lebih muda. Mereka berdua tersenyum sambil melangkahkan kaki mendekati keramaian.

Tentunya bukan keramaian yang biasa, keramaian disana dapat diartikan dalam suasana lain. Dimana semua orang berkumpul untuk membagi duka. Dimana kita juga dapat merasakan kesepian ditengah keramaian. Bisa disebut juga acara pemakaman.

Tak sedikit yang bersedih, termasuk Kyuhyun. Dia harus kehilangan ibu dan kakak perempuannya diusia muda. Dia sempat menangis dan menyendiri, namun seorang gadis kecil datang dan menghiburnya. Membuatnya melupakan dukanya untuk sesaat.

“Hyuna-ya… Kau darimana saja sayang??” Seorang wanita paruh baya itu menghampiri Kyuhyun dan gadis kecil bernama Hyuna itu. Beliau menampakkan raut khawatirnya pada bocah kecil yang tengah menggenggam tangan Kyuhyun.

“Eomma!! Lihat, namanya Cho Kyuhyun!!” Ucap anak kecil itu tanpa mengindahkan pertanyaan ibunya. Wanita itu menoleh kearah Kyuhyun yang tersenyum malu- malu padanya. Hati wanita itu sedikit tersentuh melihat Kyuhyun yang tengah tersenyum ditengah dukanya.

“Tentu saja eomma mengenalnya, sayang! Dia kan tetangga kita..” Hyuna membulatkan bibir mungilnya sambil menganggukkan kepalanya.

“Jadi, aku bisa bertemu Kyuhyun setiap hari??” Tanyanya dengan mata berbinar. Ibunya mengangguk dan tersenyum pada mereka.

“Cha… Kita harus memberi salam pada Cho ahjussi dulu…” Ucap wanita itu dan menggiring mereka pada kedua orang pria yang tengah berbincang.

“Appa..” Hyuna melepaskan genggaman tangannya pada Kyuhyun dan mendekati salah satu pria berpakaian serba hitam itu. Namun, Hyuna berbalik lagi dan menggandeng tangan Kyuhyun. Menarik pria kecil itu mendekat dengan Ayahnya.

****

“Hei!! Kau mau kemana?!” Kyuhyun memasukkan kedua tangannya kedalam saku jacketnya. Memandang Hyuna yang sedang berlari kecil melewati rumahnya. Kyuhyun mendengus sebal saat tidak mendapat tanggapan dari perempuan itu.
“Yak!! Hyuna-ya!!” Mau tidak mau Kyuhyun harus mengejar gadis itu yang tidak menggubrisnya. Kyuhyun terus mengikuti gadis itu dari belakang.
“Hyuna-ya!!” Kyuhyun akhirnya berlari mendekati gadis itu. Menarik tangannya dan membuat Hyuna menghentikan langkah kaki pendeknya. Namun, Hyuna masih diam menatap lurus kearah jalanan. Lebih memilih mendengarkan lagu dari balik earphone yang menggantung ditelinganya.
Chankaman….” Kyuhyun menarik earphone itu dan mendapatkan tatapan mematikan dari gadis itu.
Wae?!” Hyuna berteriak kesal dihadapan Kyuhyun.
“Aniya…” Jawab Kyuhyun santai. Hyuna menghembuskan nafasnya kasar dan pergi berlalu dari hadapan Kyuhyun. Pria itu mengikutinya lagi.
“Maaf, Kyu! Aku sedang tidak dalam mood untuk… Hei!! Apa yang kau lakukan?!” Ucapnya saat Kyuhyun tiba- tiba menarik tangannya menuju mobil sedan yang terparkir cantik dihalaman rumah Kyuhyun.

“Ayo kita jalan- jalan!” Kyuhyun memaksa Hyuna untuk masuk kedalam mobilnya. Sementara gadis itu hanya mengerutkan wajahnya saat pria jangkung itu menutup pintu penumpang.
Suasana hening menemani mereka selama perjalanan. Hyuna hanya diam memandang butiran- butiran salju yang memenuhi torotoar. Kyuhyun lebih memilih berkonsentrasi pada jalanan yang cukup ramai. Hyuna yang kalut pada dunianya yang akan berubah tak lama lagi.
Ban mobil yang berhenti membuat Hyuna sadar akan lamunannya. Gadis itu menatap Kyuhyun yang keluar dari mobilnya, dan membukakan pintu penumpang untuknya. Hyuna hanya diam menatap Kyuhyun yang membawanya ke pinggiran sungai Han yang sedikit membeku.
“Turunlah, sayang!” Hyuna mengerutkan dahinya mendengar kata ‘sayang’ dari Kyuhyun. Pria itu mengulurkan tangannya pada Hyuna, gadis itu terdiam sebentar sebelum menerima uluran tangannya.
Wae?” Gumam gadis itu, Kyuhyunmenundukkan kepalanya menatap Hyuna.
“Kenapa kau membawaku kesini, Cho Kyuhyun??” Kyuhyun tersenyum pada Hyuna, kemudian memandang kearah sungai Han.
“Berteriaklah!!” Ucap Kyuhyun. Pria itu masih memandangi sungai Han. “Berteriaklah!” Ucapnya sekali lagi, dia memandang Hyuna yang mengerutkan dahinya. Gadis itu memngisyaratkan ‘Untuk apa??’.
“Ayo kita berteriak bersama, membuang semua masalah dan biarkan mereka ikut membeku bersama air sungai…” Pria itu memandang Hyuna.
“Dan memulai sesuautu yang baru bersama- sama!” Lanjutnya. Hyuna merekahkan senyumannya, dan memamerkan deretan gigi putihnya.
“Kajja!!” Jawab Hyuna antusias dan menarik Kyuhyun untuk lebih mendekat dengan aliran sungai.
“AKU MEMBENCIMU, CHOI SIWON!!!!”
“SEMOGA KAU BERBAHAGIA DISANA!!! AKU MEMBENCIMU!!!!” Dia berteriak dengan lantang, mengeluarkan segala perasaan yang mengganjal dihatinya. Dia berbalik dan menatap Kyuhyun yang tersenyum padanya.
“Sudah lebih baik??” Tanya Kyuhyun. Gadis itu mengangguk dan memeluk tubuh berisi Kyuhyun.
“Sangat… Aku sangat baik, Kyu! Terima kasih…” Ucapnya disela- sela pelukannya. Kyuhyun mengusap rambut dengan sayang.
“Ya… Aku menyayangimu!”

****

“Kyuhyun…” Kyuhyun menolehkan kepalanya pada gadis itu dan tersenyum lembut. Kemudian mencoba kembali fokus terhadap jalanan.
“Mwo??”
“Apa kau yakin??” Kyuhyun menolehkan kepalanya sekali lagi. Pria itu mengerutkan dahinya, sedikit bingung dengan pertanyaan yang ditembakkan oleh Hyuna.
“Maksudmu??”
“Tentang.. ehm pernikahan itu, apa kau yakin Kyu?” Tanyanya. Hyuna mengenggam tangannya sendiri, bersiap- siap dengan segala jawaban yang Kyuhyun berikan. Pria itu menoleh lagi kepada Hyuna. Kyuhyun tersenyum dan terkekeh pelan sebelum menjawab pertanyaan gadis itu.
“Tentu saja, sayang… kalau aku tidak yakin, mana mungkin aku melamarmu didepan ayahmu, eoh?!” Jawaban Kyuhyun membuat senyumannya merekah, dia merasa cukup atau sangat puas dengan jawaban Kyuhyun.
“Terima kasih, Kyu..”
“Untuk?? Kurasa aku yang perlu berterima kasih padamu…” Hyuna menatap Kyuhyun yang masih sibuk dengan konsentrasinya pada jalanan, meminimalisir kemungkinan kecelakaan.
“Karena kau selalu ada untukku, karena kau selalu mengerti aku…. dan semua yang telah kau berikan padaku, Kyu!” Ucapnya panjang lebar. Sementara Kyuhyun hanya tersenyum simpul pada gadis itu.
“Ya…. Karena kau sudah kuanggap sebagai adikku sendiri, dan aku juga terima kasih atas semua yang kau berikan padaku, aku menyayangimu, Hyuna-ya!” Gadis itu sedikit tertegun dengan kalimat Kyuhyun. Terutama saat pria itu berkata ‘adik’ ada sesuatu yang mengganjal dihatinya. Kyuhyun mengusap rambutnya penuh kasih sayang, seperti yang biasa pria itu lakukan padanya.
“Nah… Sekarang kita harus bersiap- siap!” Kyuhyun memecahkan lamunan singkat Hyuna. Gadis itu menoleh dan menatap Kyuhyun dengan alisnya yang menyatu.
“Kemana?? Kita akan kemana, Kyuhyun oppa??” Tanya Hyuna dan tak lupa membuat nada manja pada akhir pertanyaannya. Kyuhyun tertawa dan mengacak- acak rambut gadis itu yang membuat Hyuna mendengus sebal.
“Hari ini appa akan keluar dari rumah sakit, tidakkah kau ingin menjenguk ‘your father in law’ yeobo??” Hyuna memutar bola matanya mendengar nada Kyuhyun saat berkata ‘yeobo’. Pria itu hanya terkikik pelan melihat respon yang diberikan Hyuna. Tanpa Kyuhyun sadari, gadis itu mengeluarkan smirknya.
“Tentu saja, sayangku…” Ucapnya dengan nada yang terdengar…… euh, menjijikkan. Mereka tertawa sepanjang perjalanan.
“Hyuna-ya….” Hyuna menoleh pada Kyuhyun setelah menghabiskan sisa tawa mereka. “hmm” Gumam gadis itu menjawab panggilan dari Kyuhyun.
“Ehm… itu… anu…” Kyuhyun kehilangan kata- katanya. Dia lupa cara untuk menyampaikan sesuatu yang ingin ditanyakannya pada gadis itu.
“Anu-nya apa??” Hyuna menoleh dan menatap Kyuhyun dengan curiga. Pria itu mulai salah tingkah dan kembali memikirkan kalimat yang pas untuk disampaikannya pada gadis itu.
“Ehm…. Undangan itu,”
“Undangan apa, Kyu?” Dia mulai memikirkan undangan yang dikatakan oleh Kyuhyun. Sesuatu yang berhubungan dengan undangan yang mungkin dilupakan gadis itu. Kyuhyun menggaruk belakang telinganya yang mungkin tidak gatal.
“Pernikahan….” Gumam pria itu, dan mencoba kembali fokus pada kegiatan mengemudinya.
“Ohhh, itu! Pernikahan Siwon oppa kan??” Jawabnya santai. Perubahan sikap gadis itu membuat Kyuhyun merasa sedikit bingung. Saat dia marah, tiba- tiba saja dia bisa menjadi orang yang lemah lembut.
“Y-ya… apa kau lupa??”

“Tentu saja tidak… tapi,” Kyuhyun menaikkan sebelah alisnya menunggu lanjutan kalimat dari ‘calon istrinya’ itu.
“Tapi… bukankah kita harus menjenguk ‘ayah mertua’ sekarang??” Gadis itu menekankan kata- kata pada akhir kalimat tanyanya pada Kyuhyun.

“Kau tidak berniat untuk menghadiri acara pernikahan itu kan??” Kyuhyun mengerutkan dahinya, memandang gadis itu penuh tanya. Hyuna hanya tertawa pelan dan menonjok pelan lengan berisi Kyuhyun.

“Tentu saja tidak, Tuan Cho! Aku bukan pengecut… tapi sungguh, menjenguk ayahmu lebih penting saat ini.” Kyuhyun terkekeh pelan mendengar jawaban gadis itu.

“Oh ya…? aku sungguh terharu!” Ucap Kyuhyun. Mereka berdua tertawa sepanjang perjalanan.

****

“Appa!!!” Teriak gadis kecil itu menghampiri kedua orang pria yang tengah berbincang, meski salah satu dari pria itu tengah menampilkan wajah dukanya yang tak tertahankan. Seseorang yang dipanggil appa tadi menoleh dan tersenyum melihat putri kecilnya yang sedang menggandeng anak laki-laki, dan istrinya tengah menghampiri mereka.
“Appa… Hyuna dapat teman baru! Namanya Kyuhyun!” Ucap gadis itu saat tiba dihadapan ayahnya. Pria itu tersenyum dan menatap Kyuhyun yang tengah berdiri dibelakang putrinya.
“Benarkah?!”Hyuna mengangguk ceria dan mendekat kearahnya. Pria itu berjongkok menyamakan tingginya dengan gadis kecil itu.
“Ayah, siapa ahjussi itu??” Bisiknya. “Dia Cho ahjussi, ayahnya Kyuhyun!” Jawab ayahnya sambil berbisik juga. Hyuna menatap ayahnya takjub dengan tatapan yang seolah mengatakan ‘benarkah??’. Pria itu mengangguk dan tersenyum.
“Cah… sekarang beri salam pada ahjussi!” Hyuna tersenyum saat Ayahnya menarik tangannya untuk mendekati pria tadi.
“Annyeonghaseyo ahjussi…”Hyuna membungkukkan tubuh mungilnya dan tersenyum tiga jari.
“Annyeonghaseyo, siapa namamu gadis manis??” Tanya Ayah Kyuhyun pada Hyuna.
“Naneun Hyuna imnida! Bolehkah aku berteman dengan Kyuhyun??” Tanyanya to-the-point. Ayah Kyuhyun tertawa pelan dan mengusap rambut gadis itu.
“Tentu saja! Bahkan jika menjadi menantuku kelak, akan kuizinkan!”


Hyuna meremas tangan kirinya, sementara tangannya yang lain tengah digenggam erat oleh pria disampingnya. Entah apa yang dirasakannya rasa takut, gugup, dan mungkin sedikit bahagia. Mereka berdua berjalan beriringan menelusuri koridor rumah sakit menuju ke ruangan dimana ayah Kyuhyun dirawat.
Sementara Hyuna sibuk dengan rasa cemasnya, Kyuhyun tetap tenang. Pria jangkung namun berisi itu lebih memilih memikirkan kata- kata yang akan diucapkannya. Kyuhyun terus menggenggam tangan yang terasa dingin itu hingga kedepan pintu ruang perawatan.

“Kyu, tunggu!” Hyuna menghentikan langkahnya tepat sebelum Kyuhyun memutar handle pintu putih itu.

“Kenapa??” Kyuhyun berbalik, menatap gadis yang tengah terlihat gugup itu.

“Tidak apa- apa, aku hanya sedikit gugup..” Ucapnya dan tersenyum. Kyuhyun menggelengkan kepalanya dan terkekeh sebelum akhirnya membuka pintu ruang rawat inap itu.

Krekkk

Pintu ruangan yang terbuka itu menampilkan sepasang pria dan wanita tua yang tengah bercengkrama, sang pria tengah terbaring diatas ranjang dan wanita itu dengan setia mendampinginya. Suara derit pintu menyadarkan mereka berdua. Pria tua itu tersenyum saat melihat siapa yang datang.

Kyuhyun melangkahkan kakinya masuk kedalam, Hyuna yang berjalan dibelakangnya menundukkan sambil kepala. Gadis itu terlalu canggung dengan suasana saat ini.
“Selamat datang, menantuku…”


Kau terlihat seperti kepiting rebus! Hahahaha.” Kyuhyun tertawa sambil membukakan pintu penumpang. Gadis bergaun biru itu hanya mengerutkan wajahnya mendengar Kyuhyun yang terus menggodanya.

“Huh! Diam kau Tuan Cho!” Dia mendengus sebal dan masuk kedalam mobil, meninggalkan Kyuhyun yang terus mentertawakannya. Merasa kesal dengan Kyuhyun, dia membuka kaca mobil dan menarik ujung jas abu- abu yang dikenakan Kyuhyun dengan kuat. Membuat pria yang tengah asyik tertawa itu hampir jatuh kehilangan keseimbangannya.

“Ya, ya ya…. kita berangkat sekarang, haha!” Kyuhyun masih sempat tertawa melihat tingkah lucu Hyuna saat ia mulai merasa kesal.

“Cepatlah!!! Aku tak ingin terlambat, Kyu!”

“Siap, Nyonya…” Kyuhyun menghidupkan mesin mobilnya dan berlalu dari tempat itu. Selama perjalanan, tak ada satupun yang ingin memulai percakapan. Mereka berdua lebih memilih diam dan sibuk dengan urusan masing- masing. Kyuhyun dengan kemudinya dan Hyuna tentang kunjungannya dirumah sakit tadi, yang membuat Kyuhyun terus mentertawainya.

***

“Selamat datang, menantuku…” Pria tua itu tersenyum pada Hyuna, membuat gadis itu mendongakkan kepalannya yang sedari tadi menunduk. Dia memamerkan senyuman kakunya.

“Ba- bagaimana kabarmu, ahjussi???” Tanyanya. Nada gugup gadis itu sangat terbaca. Kyuhyun hanya menahan tawa melihat tingkah gadis itu. Pria tua itu tersenyum ramah menatap Hyuna yang masih enggan menatapnya.

“Tentu saja aku baik… sangat baik, apalagi saat aku menerima kabar putraku akan menikah….” Jawabnya dan tersenyum. Hyuna masih menunduk dan terdiam, ini bukan gayanya.

“Sayang…” Bisik Kyuhyun. Hyuna menoleh kearahnya dan menatap bingung. ‘Apa?!’ Kyuhyun melampirkan tangannya kebahu Hyuna. Hyuna melebarkan matanya kearah Kyuhyun, kemudian menyikut pinggang pria itu dengan tangan kanannya. Kyuhyun semakin mengeratkan tangannya di bahu gadis itu.

“Tak perlu sungkan, sayang… Dia juga akan menjadi ayahmu!” Hyuna menjauh dari Kyuhyun yang terus saja menempel kearahnya.

“Aigoo, kalian sangat mesra, aku jadi iri!” Mereka menghentikan tingkah mereka saat suara Ayah Kyuhyun dan kekehan pelan ibunya menyela.

“Sepertinya mereka sudah tidak sabar lagi, yeobo!” Kini giliran ibu Kyuhyun yang bersuara. Hyuna kembali menundukkan kepalanya, wajahnya memerah!
.
.
Mereka semua berbincang, Kyuhyun dan ayahnya sedang membicarakan masalah perusahaan. Hyuna dan ibu Kyuhyun sibuk dengan obrolan perempuan. Hyuna sesekali menunduk malu, menyembunyikan wajahnya yang mulai memerah saat ibu Kyuhyun menggodanya. Ditengah- tengah obrolan, Kyuhyun mengajak Hyuna untuk pulang. Mereka harus bersiap untuk menghadiri upacara pernikahan Siwon.

“Appa! Kami pulang…” Kata Kyuhyun. Pria tua itu tersenyum dan menatap mereka lembut.

“Ya, aku mengerti! Anak muda selalu punya alasan untuk selalu berduaan…” Hyuna memerah, menundukkan kepalanya.

“Ahjussi… cepat sembuh eoh!!” Hyuna membungkukkan badannya, begitu pula dengan Kyuhyun. Saat Hyuna hendak membalikkan tubuhnya, dengan tidak sengaja dia menyandung tiang penyangga ranjang rumah sakit. Itu membuatnya limbung dan hampir terjatuh, beruntung Kyuhyun menangkapnya sebelum tubuh cantiknya mendarat dilantai marmer putih itu.

“Aigooo, lain kali hati- hati. Jangan terlalu tergesa- gesa, pernikahan kalian pasti akan dilaksanakan.” Ucapan pria tua itu membuat Hyuna memerah. Bukan karena sakit yang tidak seberapa, namun malu yang tak tertahankan. Betapa cerobohnya dia!!

bersambung…

akhirnya part.  4 ini dipublish juga… huft…

ff ini aku publish akibat ke-galau-an yang melanda karena FlyiNC akan ditutup T.T

Love In Sillence

Love-in-Sillence-poster-picsay2

Title :
Love in Sillence
Author :
HanneulKim
Cast :
Cho Kyuhyun, Kim Hyuna, and other.
Category :
Romance, Family, PG-15, Oneshoot.

‘Kau membuat diriku nyaman ditengah duniamu yang hening….’

Aku mengeraskan suara I-Pod ku, memendam semua makian yang terdengar ditelingaku. Headphone menjadi teman setiaku disaat suka dan duka. Aku memejamkan mata, meredam air yang terus mengalir dari mataku. Berjalan lebih cepat dari sebelumnya, tak peduli jika rintihan hujan terus menghunus kulitku.

Rasa dingin begitu menusuk kulitku, hingga membuatku merasa tidak lagi berpijak. Aku tak peduli, ini tidak sebanding dengan apa yang kulakukan. Aku terus menangis, aku rindu appa.

Aku memandang langit malam yang mendung, tak ada sinar rembulan ataupun bintang yang menghiasinya. Halte terasa sepi karena orang- orang lebih memilih menghangatkan diri dirumah. Tetapi, Aku tak berniat pulang meskipun hujan telah reda, meski dingin menyeruak dari pakaian basahku. Daripada nanti aku melukai mereka akan kehadiranku dirumah.

Aku merasakan seseorang duduk disebelahku, tapi aku tidak peduli karena terlalu larut dalam perasaanku. Aku hanya diam hingga sebuah tangan hangat menyentuh pundak-ku. Aku menolehkan kepalaku padanya, Dia tersenyum dan memandangku hangat.

Dia seorang pria, tubuhnya pucat dan cukup tinggi, hidungnya mancung dan mata coklatnya yang tajam itu menghunus mataku. Dia tersenyum dan membuka mantel coklatnya dan menyerahkan itu padaku.

“Maaf tuan… Aku tidak bisa menerimanya. Lagipula, hari ini sangat dingin.” Aku menolak mantelnya secara halus. Meskipun dia memakai pakaian tebal yang berlapis tapi tetap saja terasa dingin, ini musim gugur.

Pria itu mengerutkan dahinya dan menuliskan sesuatu pada note kecil ditangannya. Selesai menulis dia menatapku lembut dan memberikan secarik kertas itu padaku. Aku membaca tulisannya.

‘Gwaenchana… Hari ini begitu dingin nona! Bajumu juga basah, nanti kau bisa sakit ^^’

Aku sedikit tersenyum membaca tulisannya, senang jika masih ada yang mau memperhatikanku seperti ini.

“Baiklah tuan jika kau memaksa…. Gamsha hamnida..” Aku mengambil mantel itu dari tangan pria itu dan memakainya segera. Dia tersenyum dan memandang jalanan yang sepi.

Dia memberiku sebuah kertas kecil lagi padaku setelah kami diam selama beberapa waktu. Aku kembali tersenyum membaca notenya.

‘Apa yang kau lakukan dimalam yang dingin ini dengan pakaian yang basah nona?? Jika tidak terpaksa aku akan mengurung diriku dirumah…’

Baru kali ini aku merasa diperhatikan. Aku tersenyum ramah padanya dan kembali berkata.

“Aku hanya ingin jalan- jalan. Tapi, tak lama aku kehujanan..” ucapku padanya yang tersenyum padaku. Dia menganggukan kepalanya dan kembali memandang kearah jalanan. Tampak sebuah bis melaju perlahan dari kejauhan, pria itu tersenyum padaku dan kembali menuliskan notenya.

‘Namaku Cho Kyuhyun, bisku sudah sampai dan aku harus pergi. Siapa namamu?? Aku berharap kita akan bertemu lagi nanti.’ Aku kembali tersenyum menatapnya dan menggenggam tangan pucatnya.

“Namaku Hyuna, Kim Hyuna.” Ucapku dan dia tersenyum. Setelah kami bersalaman cukup lama, dia beranjak pergi dariku dan masuk kedalam bus yang telah berhenti tepat dihadapan kami. Dia tersenyum dan melambaikan tangannya padaku di pintu bus.

“Sampai jumpa lagi Kyuhyun-ssi” aku sedikit berteriak karena pintu bus yang mulai tertutup.
.
.
.
.
****
.
.
.
.
Pada hari selanjutnya di jam yang sama, Aku duduk sendirian di halte bus. Memegang sebuah mantel coklat milik Kyuhyun ditangan kananku. Aku begitu bodoh karena berharap bisa berjumpa lagi dengannya. Entah apa yang memikatku untuk bertemu lagi dengannya. Tapi, yang pasti aku sangat menghargainya karena sikap hangatnya padaku yang tak pernah kudapat dari orang lain kecuali appa.

Setetes air mata meluncur bebas dari mataku. Aku sangat merindukan beliau, aku membuka ponselku dan menatap fotonya. Aku selalu melihat wajah itu agar aku tak melupakannya. Tetesan kedua kembali meluncur, ketika aku mencoba untuk mengingat suaranya. Tak ada satupun memori yang hinggap diotakku tentang suaranya. Aku hanya diam dan mengosongkan fikiranku agar tidak menangis lagi.

Aku mendongakan kepalaku ketika sebuah tangan hangat itu menyapa pundakku lagi. Dia memamerkan senyum tiga jarinya dan mengatakan ‘annyeong’ meskipun tanpa suara. Akupun tersenyum dan mempersilahkan Kyuhyun duduk disampingku.

“Sepertinya harapanmu dikabulkan Kyuhyun-ssi. Senang bertemu denganmu lagi…” Dia tersenyum menyimak apapun yg kuucapkan, kemudian mengeluarkan sebuah note kecil dari saku kemejanya.

‘Ya… Kurasa ini benar- benar hari keberuntunganku.’

Aku menatapnya dengan sejuta rasa penasaran. Memang terlihat jelas dari raut wajahnya, dia sedang bahagia.

“Keberuntungan apa saja yang kau dapat hari ini?? Kau terlihat sangat bahagia hari ini…” Dia tersenyum dan memainkan jari- jarinya. Kemudian menuliskan beberapa kata pada notenya.

‘Banyak sekali… Salah satunya itu, mantel kesayanganku kembali.’

Aku menatapnya yang menunjuk jarinya ke arah mantel coklat yang ada ditanganku. Hampir saja aku lupa mengembalikannya.

Aku meletakan mantel itu ditangan Kyuhyun. Dia tersenyum padaku dan menggerakan bibir tebalnya. ‘Gomawo’ Meski tidak bersuara aku yakin kata itulah yang sedang dia katakan.

Aku tersenyum hangat padanya dan memandangi pohon- pohon disisi halte. Malam ini begitu dingin, daun- daun berguguran. Semua ini identik dengan musim gugur. Kutatap Kyuhyun dan tersenyum lagi padanya.

“Kyuhyun- ssi…. Apa kita bisa menjadi teman..?” Tanyaku, dia mengerutkan dahinya dan menuliskan sesuatu pada notenya.

‘Apa maksudmu nona?? Menurutku itu pertanyaan yang tak perlu dijawab.’

Aku menatap Kyuhyun dan menghembuskan nafasku dalam- dalam.

“Maksudku, kita baru saja mengenal dan….” Kuhentikan ucapanku ketika dia menempelkan note kecilnya didahiku.

‘Tentu saja… Kita sudah berteman bahkan sejak kemarin.’
Aku tersenyum hangat padanya, dan menganggukan kepalaku pelan. “Gomawo…”

Kami terdiam, sibuk dengan diri masing- masing. Tak lama sebuah bis melaju pelan dari kejauhan. Kyuhyun menatapku dan tersenyum, kemudian menuliskan sesuatu di notenya dan tersenyum padaku.

‘Bisku sudah datang. Padahal aku ingin bicara banyak denganmu, jika Tuhan mengizinkan aku ingin terus mengenalmu…’

Aku mengangguk dan tersenyum padanya. Kyuhyun berdiri dan kemudian berjalan pelan menuju ketepi jalan.

“Kyuhyun- ssi…” Aku memanggilnya. Kyuhyun membalikan tubuhnya dan tersenyum padaku.

“Sampai jumpa lagi…” Kyuhyun kembali tersenyum dan melambaikan tangan pucatnya. Lalu masuk kedalam bis yang telah berhenti pada tempatnya. Kami saling melambaikan tangan hingga tidak bisa saling menjangkau.

Kuhembuskan nafasku berat dan berlalu dari tempat itu. Berjalan perlahan menuju kesebuah tempat yang kusebut ‘Rumah’
.
.
.
.
****
.
.
.
.
Semuanya terasa begitu asing bagiku. Mereka mengabaikanku dan sibuk dalam obrolan mereka masing- masing. Bahkan aku ragu mereka menganggapku nyata. Walaupun beberapa dari mereka memandangku sedikit sinis dan kembali berbisik.

Acara makan malam keluarga merupakan salah satu daftar acara yang paling tidak kusukai. Dimana acara itu akan membuatku merasa sendirian dalam keramaian.

Aku makan dalam diam dan menatap seonggok makanan dihadapanku, meski sesekali aku melirik eomma yang asik berbincang dengan keluarga barunya.
.
.
.
Setelah selesai makan, aku melangkahkan kakiku ke samping rumah. Disana terdapat sebuah taman dengan beberapa pohon maple. Tidak ada suasana hijau, hanya daun- daun coklat kering yang berguguran. Aku duduk di dekat pintu dan menyendiri disana.

Angin sejuk musim gugur menerpa kulitku. Sungguh segar rasanya. Suasana hening, jauh lebih baik daripada aku harus memilih digunjingkan secara tak langsung didalam.

Sebuah tangan hangat menepuk punggungku pelan. Seorang yeoja berparas oriental yang kental tengah tersenyum, tubuhnya -mungkin- sedikit tinggi semampai, sayangnya dia hanya duduk di kursi roda. Aku tersenyum membalasnya, dan dia mendekat kearahku.

“Hai!!” Sapanya ramah.
“Hai…”jawabku.

Dia memandang pemandangan musim gugur yang khas dihadapannya. Menikmati deru angin yang menerpa kulit putih mulusnya. Dia terlihat sangat cantik meski dia menderita disabilitas.

Dia menolehkan kepalanya kearahku dan kembali tersenyum.

“Aku Haneul, siapa namamu??” Dia mengulurkan tangannya padaku, dan langsung kusambut sepenuh hati.

“Hyuna imnida…”

Dia tersenyum lagi dan melepaskan salaman. Kami sama- sama memandangi taman dan daun yang berguguran. Tanpa kusadari ternyata dia memandangku sambil tersenyum.

“Sepertinya usiamu lebih muda dariku. Dan kau harus memanggilku eonnie!!” Titahnya dan aku tertawa kecil.

“Ne Haneul eonnie!!” Kami tertawa bersama.

“Senang rasanya bisa menemukan teman…” Ucapnya dan memandang pohon maple dihadapan kami. Aku sedikit bingung apa yang dimaksudkannya.

“Teman yang lebih memilih menyendiri dibanding harus beramai- ramai. Aku benci keramaian!” Sambungnya lagi.

Aku tersenyum miris. ‘Aku bukannya tidak menyukai keramaian, aku hanya takut merasa sendirian ditengah keramaian…’ gumamku dalam hati.

“Ne…” Jawabku dia menatapku sambil tersenyum.

“Di keramaian pasti orang- orang hanya akan memandangku iba…” dia melirik kearah kakinya.

“Kurasa kita bisa menjadi teman…. Hyuna- ssi”
.
.
.
.
****
.
.
.
.
“Kyuhyun!!!”

Dia menolehkan kepalanya kearahku dan tersenyum kemudian melambaikan lagi tangannya.

“Hai kita bertemu lagi….” Kyuhyun memperhatikanku, dari ujung kaki hingga kepala. Lalu menuliskan note kecil dari saku jaketnya.

‘Kau masih seorang siswa SMA???’

Aku melirik Kyuhyun yang menatapku dalam- dalam. Hari ini sekolah mengadakan sebuah kegiatan, jadi pulang sedikit terlambat. Aku menganggukan kepalaku dan tersenyum. Kyuhyun menuliskan lagi notenya dan mengusap rambutku. Aku terdiam sebentar sebelum membaca tulisannya.

‘Kau harus memanggilku oppa yeoja kecil…’
Dia tersenyum padaku dan mengacak lagi rambutku.

Tanpa sadar setetes air mata jatuh bebas dipipiku. Belaian hangat tangan pucat itu mengingatkanku pada appa. Aku sangat ingat ketika appa mengelus rambutku dan tersenyum.

Tetesan itu kembali terus lebih banyak bagai aliran sungai han. Aku meringis pelan dalam isakanku. Aku menatap Kyuhyun nanar yang menatapku bingung. Dia mengusap punggungku lembut mencoba menenangkanku. Tapi itu tidak berhasil, karena Kyuhyun semakin mengingatkanku pada appa.

Dia berdiri dan berjalan menjauhiku. Aku terdiam memandangi punggungnya yang semakin lama semakin menjauh. Aku kembali menangis kencang, hingga tak menyadari seseorang telah duduk disampingku.

Aku menolehkan kepalaku. Kyuhyun sedang tersenyum dan memegang sebuah permen kapas ditangannya dan memberikan permen pink itu padaku. Aku menatap Kyuhyun yang sedang menulis dengan bingung. Dia menyerahkan note kecilnya padaku.

‘Aku harap kau berhenti menangis…. Maaf jika kau tak suka…’ Ucapnya dan tersenyum kikuk padaku.

“Hiks… Go.. Gomawo…” Dia tertawa pelan melihat tingkahku. Aku mencubit sedikit demi sedikit permen kapas itu. Rasanya begitu manis dan membuatku sedikit tersenyum pada Kyuhyun.

‘Kau terlihat cantik kalau tersenyum…’

Sial, pipiku pasti merona karena membaca notenya itu. Kyuhyun tersenyum dan tertawa pelan. Dia menuliskan sebuah kalimat lagi pada notenya.

‘Mulai saat ini kau harus memanggilku oppa, arraso!’

Aku mengangguk dan tersenyum lebar. “Ne… Kyuhyun oppa.” Ucapku padanya.

Kami hanya diam memandangi daun daun yang berguguran. Heningnya malam melarutkan kami, hembusan angin menerpa kulitku. Musim dingin datang tak lama lagi. Aku tersenyum menatap Kyuhyun oppa yang sedang memandangi daun kering yang berguguran.

Sebuah sinar datang dari kejauhan, berjalan mendekat memecah gelapnya malam. Kuhembuskan nafasku kasar, sarat akan kekecewaan. Kyuhyun oppa menatapku lembut dan tersenyum, melangkah kepinggir halte dan melambaikan tangannya. Bibirnya mengucapkan ‘Jaljayo’ dalam keheningan dan tersenyum.

“Annyeong oppa, Jalja!!!”
.
.
.
.
****
.
.
.
.
Aku dan Kyuhyun oppa sering bertemu selama seminggu terakhir ini. Hubungan kami bertambah dekat, tak jarang aku bercerita tentang kehidupanku. Namun, pertemuan kami tak pernah lebih dari 1 jam, karena bis akan datang dan mengacaukan segalanya.

“Jadi, berapa note yang kau habiskan selama satu hari, oppa?”

Dia terkikik pelan, meskipun terdengar aneh aku menyukainya. Dia menuliskan sesuatu dengan jari lentiknya, kemudian menyerahkannya padaku.

‘Tidak banyak… Tapi berlipat ganda setelah bertemu denganmu yeoja kecil.’

Aku mengerucutkan bibirku kesal, aku bukan anak kecil. Sementara itu Kyuhyun oppa tertawa, sungguh menyenangkan melihat tawanya yang lepas. Aku tersenyum, dia begitu tampan dan mempesona. Aku yakin, jika bukan karena kekurangannya dia pasti menjadi idola.

Perhatikan saja! Alisnya, rambut ikalnya, hidungnya, bibir tebalnya, dan mata onyxnya. Dia terlihat begitu sempurna jika kita mengabaikan kelemahannya. Kyuhyun oppa tersenyum padaku, membuat detak jantungku bekerja lebih keras daripada biasanya.

Seperti biasa, sebuah bis melaju pelan dari kejauhan. Dia tersenyum dan terkikik pelan ketika aku menghembuskan nafasku kecewa. Kyuhyun oppa mengacak rambutku pelan, rasa itu datang lagi.

Sepertinya jantungku tak lagi berada pada tempatnya. Aku mengalihkan sorot mataku, dapat kurasakan kedua pipiku merona.

Terdiam selama beberapa waktu, Kyuhyun oppa menepuk pundakku pelan dan menyerahkan sebuah kertas kecil padaku dan tersenyum.

‘Datanglah lagi kesini besok… Aku harus pergi sekarang.’

Aku tersenyum membaca note itu, dia memintaku datang lagi. Sebuah bis berhenti dihadapan kami. Dia berdiri, kemudian berjalan mendekati bis itu. Dia berbalik lagi dan melambaikan tangannya. Kami saling melemparkan senyum.
.
.
.
.
****
.
.
.
.
Aku membalikan tubuhku dan berjalan menjauh dari tempat itu. Aku duduk dibalik pohon di sebelah halte. Aku melihatnya tengah tersenyum, mendorong seseorang penuh semangat. Tak pernah kulihat pancaran bahagia yang seperti itu dari wajahnya selama bersamaku.

Aku duduk diam menahan semuanya. Langkah kaki itu mulai mendekat, lebih dekat dan berhenti. Aku yakin Kyuhyun sudah berada di halte.

“Kyuhyun…. Mana dia aku ingin melihatnya….” Terdengar suara seorang yeoja yang tidak terasa asing bagiku.

….

Tak ada suara selama beberapa saat. Hanya terdengar suara seorang perempuan yang terkikik pelan. Dan aku hanya diam menahan nafas, menanti apa yang terjadi selanjutnya.

“Aku hanya ingin memastikannya… Karena aku juga sayang padamu Kyuhyun-a…”

Dadaku berdesir, berdetak cepat tak karuan. Mataku merah, dan ingin menangis. Kalimat itu mampu membuatku sakit dan marah. Kenapa aku harus marah? Aku bukanlah siapa-s siapanya.

“Kapan dia akan datang?? Ini sudah satu jam berlalu Kyu-a…”

Ya, kakiku cukup pegal harus menjongkok selama satu jam. Tapi aku harus menahannya. Tak mungkin jika aku keluar dan menghampiri mereka bukan? Itu hanya akan menyakiti hatiku lebih dalam.

Aku mendengar sebuah ban mobil berdecit. Dan sebuah langkah kaki yang mendekat kearah halte.

“Haneul!! Kyuhyun!!” Sebuah suara berat menyapa mereka.

Tunggu!! Haneul, aku pernah mendengar nama itu. Yeoja cantik yang duduk disebuah kursi roda. Seorang yang ramah dengan wajah cantiknya *Author terbang*. Meskipun aku tak bisa melihat rupanya dari balik pohon. Tapi, aku sangat yakin dialah orangnya. Dari suara lembutnya, dan lekuk tubuhnya dari kejauhan.

“Siwon oppa!!”

“Ayo kita pulang….” Ucap namja tadi.

“Shireo…”

“Waeyo??? Hari ini sangat dingin… Nanti kalian bisa sakit…”

“Tidak… Ada seseorang yang harus kami temui…”

“Baiklah… Kita tunggu sebentar ne???”

Beberapa menit mereka diam, begitu pula aku. Rasa sakit dihatiku lebih menyakitkan dari sakit di kakiku.

“Sudah lima belas menit… Kajja kita pulang….”

Tak lama aku mendengar sebuah mesin mobil menyala dan berjalan menjauhi halte. Setelah benar- benar yakin mobil itu telah menjauh, aku melangkahkan kakiku mendekati halte. Duduk disudut bangku dan menangis kecil disana.

****
.
.
.
.
.

Aku terus berjalan ditengah derasnya hujan. Melangkahkan kakiku tanpa arah, tanpa mempedulikan tatapan orang disekelilingku. Dingin begitu menusuk tajam hingga ke tulang.

Ingin rasanya aku kembali ‘kerumah’, menghangatkan diri dibawah selimut. Atau minum cokelat panas. Tapi, aku tak sanggup. Bekas tamparan eomma masih begitu terasa.

Flashback
.
.
.
.
“Hyuna-ya….”

Aku hanya diam menatapnya, kedua mata tajamnya begitu menusuk tatapanku. Aku hanya diam dan mengalihkan pandanganku. Aku tak sanggup menatap kedua matanya yang menatapku penuh luka. Seakan merasakan sakit yang begitu dalam.

Aku menatap sebuah foto dibalik punggung ibuku. Foto itu diambil beberapa tahun silam, sebuah foto dimana keluarga bahagia terlihat disana. Memaksakan senyuman dalam kepedihan, setidaknya itulah yang kurasakan saat itu. Seharusnya hanya ada aku, eomma, dan appa difoto itu. Bukan orang lain yang menggantikan appa diposisinya.

“Hyuna- ya? Apa kau mendengar eomma?” Ucapnya, aku dapat menangkap kesedihan dalam setiap kata yang terucap dari bibirnya. Aku masih diam dan tak menjawab pertanyaannya.

“Hyuna- ya…. Maafkan eomma eoh?!”

“Apa maaf bisa mengembalikan appa?” Tanyaku. Menyunggingkan senyuman miris, tanpa menatapnya.

Dia menatapku dalam, diam dengan bibirnya yang bergetar. Menahan luka yang dipendamnya. Tapi, itu semua bohong. Dia meninggalkan appa dan memisahkanku dengannya.

Hari itu, tepat dihari yang sama dengan hari ini. Di musim gugur yang sejuk. Disaat semua orang menanti dinginnya musim dingin dan berbagi kehangatan, aku hanya menangis. Meraung dan meronta, saat aku direbut secara paksa dari pelukan hangat appa.

Meski sudah sembilan tahun berlalu, waktu yang cukup panjang untukku melupakan semuanya. Tapi kenangan itu, terlihat begitu jelas dan berputar dimemoriku. Tatapan sendunya, aroma tubuhnya, setiap lekuk wajahnya tercetak.begitu jelas dimemoriku.

Kutatap wajah eomma dalam- dalam. Membaca raut wajahnya yang terlihat begitu menyedihkan. Guratan luka terlihat begitu jelas dari kedua matanya. Aku tersenyum sinis dan mendengus.

“Appa… Apa permintaan maaf mu bisa membuatnya kembali lagi disisiku??” Tawa pelan mengakhiri pertanyaanku.

“Hyuna-ya…..”

“Andaikan aku bisa memilih aku tidak ingin….”

“Cukup!!”

“Aku tidak ingin dilahirkan dari seorang perempuan seperti eomma!!”

Plakk

Sebuah tamparan mendarat mulus dipipi kiriku. Terasa begitu sakit dan mungkin sedikit memerah. Aku memandang eomma yang memandangku dengan penuh luka. ‘apa yang ku ucapkan salah?’

Dia memandangi aku yang sibuk memegangi pipi kiriku yang masih terasa panas. Kristal bening mulai bercucuran dari wajahnya. Tak pernah kulihat tatapannya yang begitu perih menyayat hati. Aku ikut menangis, merasakan penyesalan atas suara hatiku yang terdengar bodoh itu.

Eomma beranjak dari hadapanku ketika aku hendak meminta maaf padanya. Tubuh berisinya itu melangkah menjauhiku. Aku hanya menangis merutuki bibirku ini.
.
.
.
.
Flashback off

Dia tersenyum padaku dibawah teduhnya halte. Tak ada yang dapat aku lakukan selain diam, membeku dibawah guyuran air hujan. Dia kembali tersenyum dan melambaikan tangan kanannya kearahku. Aku sedikit mengumpat, halte tempat yang salah untuk menenangkan diri. Meskipun dalam suasana yang hening, tapi aku harus bertemu dengannya yang tidak ingin kutemui untuk saat ini.

Aku membalikkan tubuhku, kemudian melangkah menjauhi tempat itu. Sebelum aku terlarut dalam pesonanya, sebelum aku tenggelam terlalu dalam pada cintanya, sebelum semua itu terjadi aku harus melupakannya.

Sebuah tangan hangat merengkuh lenganku erat. Aku berbalik dan menemukan dia yang menatapku erat dibawah payungnya. Dia menatapku heran dan mengerutkan dahinya. Mata onyxnya menatapku dalam. Aku terdiam, hanya mengalihkan wajahku agar tidak menatapnya lebih lama.

Tangan kiri hangatnya berlalu dari lenganku dan merambat menuju pipiku, mengusapkan telapak tangannya yang hangat diatas permukaan pipi kananku yang dingin. Dia tersenyum, aku hanya diam dan larut dalam kesunyian.

Tanpa sadar, kristal- kristal bening itu meluncur bebas dari mataku. Membentuk aliran sungai bersama dengan tetesan hujan yang membasuh wajahku. Dia mengusapkan tangan kirinya pada rambut coklatku. Aku menangis lagi dan merengkuh tubuh hangatnya dalam pelukanku. Menghirup aroma maskulinnya dalam- dalam, merasakan hembusan nafasnya diatas kepaku dan mendengar debaran jantungnya.

Dia menggandeng tangan dinginku erat, menyalurkan hangat tubuhnya. Dia menggiringku menuju ke bawah lindungan halte. Aku menatap tetesan hujan dalam diam.

Kurasakan sebuah mantel tengah melingkupi tubuhku. Aroma tubuhnya begitu memabukkan, yang akhir- akhir ini selalu kurindukan.

Sebuah note kecil melintas dihadapanku, kulihat Kyuhyun tersenyum menatapku dalam. Aku mengambil kertas kecil itu dengan tangan yang gemetar karena dinginnya temperatur udara.

‘Aku merindukanmu… Bogoshipoyo….’

Nafasku tercekat membaca tulisannya. Ingin aku berteriak kencang, menyatakan padanya Aku juga merindukannya. Namun, temperatur udara menelan keberanianku dalam- dalam. Aku hanya diam dengan perasaan bahagia yang membuncah dari dadaku.

‘Tidakkah kau merindukanku juga??’

Note lain menghampiriku setelah beberapa saat kami diam dalam keheningan. Aku tersenyum padanya. Bukan senyum merekah, hanya sebuah lengkungan tipis. Dia menatapku hangat dengan senyum khas miliknya. Aku mengangguk pelan dan berkata.

“Ne oppa… Nado Bogoshipo….”

****

Aku merapatkan mantel coklat yang membungkus tubuhku, menghalau dinginnya udara yang menusuk sela- sela kulitku. Hujan yang belum juga reda, dan langit yang semakin gelap menemani kesunyian diantara kami berdua.

Aku memperhatikannya, setiap lekuk wajahnya yang memandang langit malam yang mendung. Terkadang dia tersenyum lalu menatapku. Manik mata onyxnya begitu memukau, pesonanya melumpuhkan kinerja otakku.

Dia kini tersenyum menatapku, tanpa berniat memecah keheningan malam. Kami sama- sama tersenyum dalam diam. Perlahan Kyuhyun menggenggam tangan kananku erat, mengusap punggung tanganku pelan. Tangan kirinya yang bebas meraih sesuatu dari saku sweaternya. Sebuah kotak kecil dengan note yang menempel pada bungkusnya.

Tangan kanan Kyuhyun akhirnya melepas genggamannya. Menulis sesuatu pada note kecil itu, sambil tersenyum- senyum sendiri. Dia menyerahkan note itu dan menggaruk tengkuknya pelan. Aku tersenyum sebelum membaca notenya.

‘Sebenarnya, sudah lama aku ingin memberikan ini padamu, bukalah… Jangan lihat dari harganya, tapi lihatlah dari maknanya.. Arraseo?!’

Aku tersenyum dan menatap manik matanya. Perlahan kubuka kotak kecil berbungkuskan kertas berwarna biru muda itu, sebuah benda kecil yang tak pernah ku sangka akan menjadi isinya.

Sebuah hairband berbentuk pita yang terikat terlihat begitu cantik. Berwarna biru shapire yang bertahtakan permata- permata yang berkilauan. Aku menatapnya haru, sambil tersenyum simpul.

Sebuah tangan menghentikan aku yang sedang mencoba membaca suratnya. Dia memandangku dan menyodorkan sebuah note kecil.

‘Baca saja dirumah… Oh ya, hari sudah malam, kau harus pulang… Mau kuantar??’

Aku menatap Kyuhyun bingung, bagaimana caranya ia mengantarku pulang kerumah sementara dia saja naik bus. Mengerti akan jalan pikiranku, Kyuhyun menunjuk kearah sebuah mobil sedan hitam yang terparkir cantik disana.

“Kita naik itu??” Kyuhyun mengangguk pasti.

Dia merangkul tanganku, kemudian menggiring langkah kaki kami menuju mobil itu.

Suasana hening menyelimuti mobil Kyuhyun. Seperti yang kalian tahu, Kyuhyun tak pernah mengeluarkan suaranya dihadapanku. Hanya tulisan tangan diatas lembaran note lah yang mewakili semuanya. Aku tak tau apa penyebab utama pria ini tak pernah mengeluarkan suaranya. Tapi, apapun yang terjadi dengannya aku tetap mencintainya. Mencintai Kyuhyun meskipun akan berada dalam keheningan dunianya selamanya, aku rela.

Aku menunjukan arah kerumahku dengan bahasa tubuh yang kubuat. Sesekali Kyuhyun menganggukkan kepalanya dan bergumam tak jelas.

Ketika kami sampai di ujung jalan, aku mengisyaratkan Kyuhyun untuk berhenti di depan rumah yang cukup sederhana.
Aku bergegas keluar, kemudian melambaikan tanganku padanya yang mulai menjauh. Ku rengkuh tubuhku pelan, meminimalisir rasa dingin dan sebagian rasa gugupku.

Sebenarnya, aku masih takut pulang kerumah. Tempat dimana aku harus berhadapan dengannya. Aku takut, menyesal dan juga marah padanya. Aku tak tau apa yang harus kuperbuat dihadapannya.
.
.
Rumah terasa begitu sepi, tak ada tanda- tanda kehidupan disini. Aku bernafas lega, setidaknya aku tak perlu salah tingkah bila harus berhadapan dengan eomma.

Aku membuka selembar kertas berwarna biru ini pelan. Kemudian kubaca setiap kata yang terkandung didalamnya perlahan.

Dear Kim Hyuna,

Baiklah…. Nona, setelah beberapa saat mengenalmu ada sesuatu yang menggangguku.
Lebih tepatnya sesuatu yang membuatku ingin lagi dan lagi untuk bertemu denganmu.
Setelah sekian lama, aku mempelajari sesuatu yang menggangguku itu.
Namun, kau menjauhiku ketika aku mengerti apa yang kurasakan.
Aku sangat takut kau akan meninggalkanku karena kekuranganku, yang akan membuatmu terjebak dalam dunia heningku.
Tapi, kau kembali setelah beberapa saat.
Meskipun ini terasa tak mungkin, yang jelas aku selalu berdo’a pada Tuhan agar dapat mengenalmu lebih lama… Bahkan seumur hidupku.

Aku memberikanmu sebuah jepit rambut bermotif pita yang selalu diberikan generasi lelaki tertua keluarga Cho kepada wanita yang dicintainya….
Pita itu sendiri bermakna sebuah jalinan kasih yang terikat selalu…
Dan aku ingin sekali mengikat tali kasihku dengan milikmu Hyuna-ya…
Jika kau juga memiliki perasaan yang sama, datanglah ke halte besok… Di jam yang sama saat pertama kali kita bertemu..

Aku selalu menunggumu…

Cho Kyuhyun.

Aku tersenyum manis. Kyuhyun oppa sudah secara tidak langsung menyatakan perasaannya padaku. Rasa senang mengalir keseluruh tubuhku.

Namun, aku kembali teringat kejadian beberapa waktu lalu. Pertemuan terakhirku dengan Kyuhyun sebelum hari ini. Haneul, seorang yeoja cantik dan ceria ditengah disabilitasnya.

Jutaan pertanyaan mengenai hubungan Kyuhyun dan gadis yang kupanggil eonnie itu hinggap di otakku. Aku terlalu takut, bila nanti hubungan mereka seperti yang aku bayangkan aku harus bagaimana? Jujur saja, ini pengalaman pertamaku berhubungan dengan namja selain anggota keluargaku.

****

“Hatcihh..” Entah berapa kali aku bersin hari ini. Tubuhku hangat, hidungku gatal dan selalu ingin bersin.

Mungkin aku akan flu, mengingat kemarin aku hujan- hujanan tanpa menggunakan mantel. Oh, sialnya mengapa ini harus terjadi tepat disaat aku akan bertemu dengannya.

Aku melilitkan syal biru muda pada leherku, guna menghangatkan tubuhku dihari yang dingin ini. Melangkahkan kakiku keluar rumah menuju halte.

Tak terasa musim gugur akan berakhir satu minggu lagi, warna coklat yang mendominasi akan tergantikan oleh warna putih. Tak ada lagi daun yang berguguran, tak ada lagi hujan, yang ada hanya pepohonan gundul dan jalanan yang tertutup salju.

Aku duduk ditempat itu sendirian. Lagi- lagi halte sangat sepi, meskipun ada beberapa mobil yang berlalu lalang. Sudah beberapa kali aku bersin, namun tak kuhiraukan. Aku sangat ingin bertemu dengannya.

Sebuah mobil sedan hitam berhenti didekat halte. Pria yang sedang kutunggu itu keluar dan melemparkan senyumannya padaku. Namun, pria itu tidak sendirian. Dia menggopoh(?) seorang yeoja yang tak asing baginya menuju kesebuah kursi roda yang telah dikeluarkannya tadi.

Kyuhyun mendorong kursi roda itu mendekatiku. Dia dan yeoja itu tersenyum penuh arti padaku. Dapat kulihat, sebuah cincin emas tengah bertengger di jari manis kirinya.

“annyeonghaseo…” ucap perempuan itu ramah.
“Aku tak pernah menyangka kita akan bertemu lagi, Hyuna-ssi…” ucapnya, aku tersenyum simpul.
“ne, senang bertemu denganmu eonnie…” Kyuhyun menatap kami dengan alis berkerutnya.

“Kau tak perlu bingung Kyuhyun-ah… Kami memang kenal sebelumnya, dia sepupu tiriku.” Aku sangat yakin jika Kyuhyun terkejut, itu tergambar jelas dari mimik wajahnya.

“Jadi, Hyuna-ya apa jawabanmu untuk sahabatku ini?” Aku lega mendengar kata Sahabat yang terlontar dari bibir tebal Haneul.
Aku tersenyum simpul sebelum menjawab pertanyaannya.
“Ne… Tentu saja.”

****

Aku menundukan kepalaku dalam- dalam. Mencoba menghindar dari tatapan matanya. Eomma tengah duduk sendiri di salah satu sofa, memegang sebuah bingkai foto. Sebuah foto usang yang sangat kurindukan.

Aku bersusah payah menahan genangan air mataku. Aku sangat merindukannya, setiap belaian tangannya diatas kepalaku. Aku mendekatkan diriku pada eomma, melangkahkan kakiku pelan. Duduk disampingnya dan memeluk tubuh itu dari belakang.

Aku tahu eomma terkejut atas perlakuanku. Namun, dia menyembunyikan semuanya dengan baik.

“eomma… Mianhae.” gumamku padanya.
“Eomma…..” Aku berbisik pelan. Aku sangat ingin memohon maaf darinya saat ini. Aku tahu, eomma menyimpan semuanya dariku karena satu hal dan mungkin belum saatnya aku mengetahui hal itu.

Kini eomma membalikkan tubuhnya padaku, menatapku dari balik matanya yang memerah. Dia kemudian memelukku erat, akupun begitu. Aku sangat merindukannya.

Mulai saat ini aku berjanji pada diriku sendiri untuk tidak menyakitinya, dan menomor-satukan dirinya dalam hidupku.

****

Aku menatap sepasang anak manusia itu dari barisan kursi terdepan. Menyaksikan peristiwa sakral itu dengan senyuman. Aku merasakan sebuah tangan menggenggam tanganku erat. Aku meliriknya, dan dia tersenyum padaku.

Pria ini selalu tau bagaimana cara menebarkan pesonanya. Kyuhyun menuliskan beberapa kata pada note kecil andalannya.

‘Aku ingin menikahimu Hyuna-ya…. Kita akan memiliki pernikahan yang lebih indah dari mereka….’

Aku tertawa pelan dan memukul bahunya pelan. Dia terkikik tanpa suara, dia terlihat mempesona.

“Yakk!!! Oppa, bagaimana kita bisa menikah??? Aku kan masih seorang siswi SMA tingkat akhir…” Bisikku padanya.

‘Nanti, saat kau lulus dan aku juga lulus kuliah… Aku akan melamarmu.. Jadi…’

“Jadi???”

‘Would you marry me??’

The End

Huaaaahhh akhirnya ff ini selesai… Dari musim gugur aku mulai nulis FF ini sampai akhirnya awal musim salju baru selesai… MAAF banget kalo ada salah kata atau kekurangan…

RCL yaa….