Tag Archives: Kim Hyuna

The Reason Chapter 10

The Reason Chapter 10

thereasoncover

Author :

• HanneulKim

Title :

• The Reason Chapter 10 –Kesalahpahaman –

Category :

• Friendship, Yadong, NC-17,Chapter

Cast :

• Cho Kyuhyun

• Kim Hyuna (OC/ Bukan HyunA 4minute ya… eh tapi, tergantung pemikiran kalian deh.. hehe J)

Other cast :

• Lee Sungmin

• Choi Siwon

• Find other

Warning!!! Typo bertebaran…. Siapkan hati dan fikiran anda… terutama kantong muntah…

Happy reading Guys :*

Pagi ini begitu dingin, warna putih telah mendominasi seluruh kota. Salju yang turunlah menjadi penyebab utamanya. Mereka begitu sejuk, membuat siapapun terbuai olehnya. Begitu pula Hyuna, perempuan itu masih larut dalam selimutnya. Suhu yang cukup dingin bergesekan dengan kulitnya yang telanjang, membawanya lebih khusyuk kedalam mimpinya.

‘Kring… kring…’

“Sial!” Dia mengumpat pelan. Dengan terpaksa, ia beranjak dari tempat tidurnya. Dalam beberapa saat, dia baru menyadari bahwa pria itu tidak lagi tidur disampingnya.

“Kemana dia??” Hyuna berjalan pelan sembari memunguti pakaian yang berserakan di lantai. Mengingat apa yang terjadi semalam membuat pipinya memerah.
.
.

“Eommanim…” Hyuna menyapa seorang wanita paruh baya yang tengah dengan berbagai macam peralatan didapur. Semenjak pulang dari Hawai, mereka memilih untuk tinggal dirumah orang tua Kyuhyun. Well, sebenarnya mereka tidak begitu mempermasalahkan mengenai tempat tinggal. Mengingat, rumah orang tua mereka letaknya bersebelahan.

“Ah, Hyuna-ya. Kau sudah bangun rupanya!” Hyuna berjalan mendekat kearah Ibu mertuanya itu.

“Ne, apa ada yang bisa kubantu??” Tanya-nya. Saat ia hendak memegang pisau, sebuah tangan mencekalnya.

“Tidak perlu! Kau hanya perlu duduk manis disana, sayang! Aku yakin kau pasti lelah!” Mertuanya itu mengedipkan matanya jahil. Hyuna tersipu mendengar maksud terselubungnya itu. Matanya menyusuri setiap sudut ruangan, mencoba menemukan jejak- jejak Kyuhyun disana.

“Jika kau mencari ‘suamimu’ maka kau tak akan menemukannya disini, sayang! Dia sedang berlari pagi diluar.” Dia menghembuskan nafasnya. Bagaimana aku bisa melupakan kebiasaannya?? Bodoh!

Hyuna duduk diam dikursinya, menatap punggung wanita paruh baya itu penuh tanya. Kelembutan dan kehangatan yang diberikannya sama sekali tidak menggambarkan sosok ibu tiri, ataupun sosok perempuan perebut suami orang. Kasih sayangnya sungguh berbeda. Dia tampak menyayangi Kyuhyun sebagaimana darah dagingnya sendiri.

Ya, Kyuhyun memiliki ibu tiri yang selama ini ia panggil Eomma. Wanita itu begitu menyayangi Kyuhyun, bahkan melebihi kasih sayang ibu kandungnya sendiri. Ibu kandungnya bahkan meninggalkan luka yang sangat dalam dan berbekas dihatinya. Kalian akan mengerti apa yang kumaksudkan, bukan?

“Hyuna-ya! Jangan melamun terus.” Ucapnya lembut. Hyuna tersenyum pada wanita paruh baya itu. Dia menggeleng- gelengkan kepalanya pelan. Aku tahu maksudnya! Pipinya bersemu merah.


“Kyuhyun!” Pria itu menoleh. Namun tetap berkonsentrasi pada jalanan yang terhampar didepannya.

“Ada apa??” Hyuna berfikir sebentar. Apa sudah saatnya aku menanyakan hal itu padanya??

“Ah, tidak jadi.” Mereka terus diam. Perjalanan itu menjadi sangat panjang karena keanehan yang mereka buat sendiri.

“Kyu.. Apa nanti siang kau ada acara??” Kyuhyun menggeleng pelan.

“Kurasa tidak, ada apa??”

“Bagaimana jika kita makan siang bersama??” Matanya berbinar. Dia sangat ingin menikmati makan siang yang indah bersama suaminya itu.

“Baiklah, nanti akan kujemput.” Pria itu masih tetap berkonsentrasi pada jalanan dihadapannya. Tak lama, mobil yang mereka kendarai berhenti disebuah klinik tempat Hyuna bekerja.

“Aku pergi dulu, Kyu! Hati- hati dijalan.” Cupp. Hyuna mengecup pipi Kyuhyun , sebelum akhirnya memilih keluar dari mobil itu. Sementara Kyuhyun hanya diam, mencoba mengenali getaran aneh yang terus bergelayut manja didalam relung hatinya.


“Kau telah merebut suamiku! Dasar jalang!” Seorang yeoja maju beberapa langkah, wajahnya memerah menahan amarah. Dia berjalan mendekati perempuan lain yang tengah berdiri di hadapannya dengan ekspresi cemas.

“Kau salah, eonnie! Aku tak pernah merebutnya darimu, ini semua hanya salah paham!” Dia semakin merasa takut saat wanita itu semakin mendekat.

“Salah paham??!” Teriaknya. Suaranya menggelegar, terdengar begitu menyeramkan.

“Salah paham katamu, setelah bukti yang kuterima saat ini??” Dia menunjuk kearah perempuan itu, masih dalam nada yang cukup tinggi.

“Tidak, eonnie! Ini tidak seperti yang kau pikirkan!” Wanita yang dipanggil ‘eonnie’ itu mendenguskan nafasnya.

“Apa yang kau tahu tentang pikiranku??” Desisnya. Nadanya sangat pelan, namun mencekam. Wanita itu tertawa mengejek.

“Kau tak akan pernah tau, karena kau dan bayi sialanmu itu merebut segalanya dariku! Segalanya, sampai tak tersisa sedikitpun!” Perempuan itu mematung.

“Maafkan aku, eonnie. Ini semua salahku, apa yang harus aku lakukan untuk menebus segalanya??” Dia menangis. Beban yang berat menghimpit dadanya, dia tak pernah tau ini akan menyakiti wanita itu.

“Tak ada satupun yang bisa kau lakukan kecuali…” Wanita itu menyeringai, kemudian melanjutkan kalimat mengejutkannya.

“Tinggalkan Kyuhyun, dan menjauhlah dari kehidupan kami. Selama- lamanya!”


“Kyu, bolehkah aku bertanya sesuatu padamu???” Tanya Hyuna setelah menghabiskan suapan terakhir dipiringnya. Kyuhyun hanya menjawabnya dengan sebuah gumaman, karena pria itu masih asyik dengan makanan dihadapannya.

“Apa kau… err, menyayangi Ibumu??” Kyuhyun menghentikan makannya, menatap Hyuna dengan diam.

“Kau tak harus menjawabnya sekarang, Kyu. Aku akan menunggu kapanpun kau akan siap dengan jawabanmu!” Kyuhyun masih diam.

“Kyu, ayo lanjutkan saja makanmu! Anggap saja aku tak pernah menanyakan hal ini padamu!” Hyuna meletakkan tangan pria itu kembali pada tempat terakhirnya, dengan sendok dan garpunya. Tak lama, Kyuhyun melanjutkan kegiatannya dalam diam.

Hening melanda mereka, suasana canggung yang cukup kental begitu mengganggu. Kyuhyun menyelesaikan makannya, pria itu menatap piringnya yang telah bersih. Dia bingung, pertanyaan itu begitu membingungkan dan menyakitkan. Dia memiliki dua sosok Ibu yang ia kenal. Keduanya memiliki sifat yang berkebalikan, yang tidak seharusnya.

“Hyuna-ya…” Dia mendongak. Menatap Kyuhyun yang masih setia dengan piringnya.

“Hmm??”

“Aku berjanji akan menjawab pertanyaanmu, jika aku mampu.” Mereka saling bertatapan. Hyuna melemparkan senyumannya pada Kyuhyun, kemudian dia berdiri dan mengamit lengan Kyuhyun.

“Ya, tentu. Nah, kita memiliki pekerjaan lain sekarang. Ayo, jam makan siang sudah hampir habis!” Pria itu menyambutnya dengan sukacita, mereka berjalan beriringan. Hyuna berharap akan selalu ada pada posisi seperti ini selamanya.
.
.
Hyuna kembali ke klinik tempatnya bekerja dengan penuh senyum kebahagiaan. Namun, semuanya luntur seketika saat sebuah pemandangan mengacaukan penglihatannya. Seorang gadis yang begitu ia kenal tengah duduk manis di ruang tunggu, dia mengelus perutnya. Semua itu terasa tidak masuk akal baginya, baru satu bulan berlalu dan kini semuanya terasa sangat aneh. Tidak sesuai dengan waktu dan keadaan.

“Kim Haneul??” Perempuan itu mendongak. Ekspresinya terkejut saat melihat Hyuna yang menatapnya dalam ekspresi yang sama.

“Kau Kim Haneul kan??” Gadis itu berdiri dengan gugup, kemudian mengangguk pelan pada Hyuna.

“Nona Kim Haneul!” Seorang perawat keluar dari sebuah ruangan dan menghentikan niatan Hyuna untuk meminta penjelasan. Haneul berlalu menuju praktek dokter kandungan, menyisahkan kebingungan bersama Hyuna.

Hyuna menunggu Haneul didepan ruangan pemeriksaan di klinik itu. Dia ingin mengetahui cerita sebenarnya, apa yang menjadi kebenarannya. Sementara itu, Haneul memandang resah kearah dokter yang tengah memeriksakan keadaannya.

Dokter itu tersenyum pada Haneul, dan mengarahkan sebuah benda ke perut buncitnya yang teroleskan gel. Beberapa saat kemudian, keresahannya meluntur seketika begitu ia melihat gambaran kehidupan di perutnya. Hatinya menghangat, dia tak pernah merasa sebahagia ini sebelumnya. Merasa hidupnya tak selalu tidak berguna, dia merasa sangat diinginkan.

“Kandungan anda sangat sehat, nyonya. Saya harap anda dapat menjaga kesehatan anda, tidak terlalu lelah, atau stres, karena itu bisa mempengaruhi kehamilan anda!” Dokter itu membuyarkan lamunannya, kemudian menjelaskan hal- hal yang dibutuhkannya pada waktu yang akan datang.

Pertemuan itu berakhir sangat cepat, menurutnya. Tapi dapat membuatnya melupakan sebuah hal yang meresahkannya. Seseorang yang menanti penjelasannya dari balik pintu.

“Kim Haneul…” Dia menoleh kearah samping, dan mendapati Hyuna yang sedang duduk dikursi tunggu. Perempuan itu menampilkan wajah yang membutuhkan penjelasan padanya.

“Bisa kau ikut aku keruanganku, sekarang??” Tanyanya datar. Dengan pelan dan ragu, Haneul mengangguk. Gadis itu mengikuti Hyuna masuk kedalam ruangannya.


“Mianhaeyo, eonnie.”

“Kenapa kau harus meminta maaf padaku??” Hyuna mendengus. Dia belum mengerti kenapa gadis itu langsung meminta maaf padanya, memangnya dia punya salah apa??

“Aku telah merebut paksa Siwon oppa darimu…” Gumamnya pelan. Dia masih menunduk. Hyuna mendesah pelan.

“Memangnya aku memanggilmu untuk menanyakan hal itu??” Hyuna bertanya dengan ketus, sambil memegang pinggang.

“Tapi, hal itu mungkin berhubungan…”

“Apa??” Ucapnya saat mendengar bisikan Haneul. Namun, gadis itu hanya menggeleng pelan dan menunduk. Hatinya resah dan gelisah.

“Jadi bagaimana kau bisa memiliki perut sebesar ini, sementara kalian baru menikah satu bulan lamanya!” Haneul hanya diam. Dia masih takut untuk bersuara, atau tepatmya malu.

“Tapi, eonnie…” Dia terlihat ragu untuk menyampaikan kalimatnya.

“Kurasa ini bukan urusanmu…”Jawaban gadis itu membuat Hyuna bungkam. Ini memang bukan urusannya, dan seharusnya dia tak perlu perduli dengan kehidupan mereka. Karena dia memiliki kehidupannya sendiri.


“Hei!! Kenapa melamun?? ayo dimakan!” Ucap Kyuhyun yang menyadarkan Hyuna dari lamunannya. Perempuan itu melanjutkan makan malamnya, sementara otaknya masih terus berputar.

“Hyuna-ya!” Panggil Kyuhyun. Hyuna langsung menoleh padanya dan mengangkat satu alisnya.

“Ada apa, Kyu??”

“Mengenai pertanyaanmu tadi itu…” Kyuhyun terlihat ragu dengan kalimatnya.

“Tidak usah dijawab dulu, jika memang kau belum mau!” Kyuhyun menggeleng. Dia harus menjawab pertanyaan itu sekarang.

“Aku tidak tahu, apa yang kau maksud Ibu kandung atau Ibuku yang sekarang…” Kyuhyun memulai kalimatnya dengan satu tarikan nafas.

“Aku berbohong jika aku bilang aku tidak menyayangi Ibu kandungku… tapi, kau tahu bagaimana kejamnya dia saat aku kecil, dan itu membuatku ingin melupakannya!” Sambungnya.

“Mengenai Ibuku yang sekarang, aku sangat menyayanginya meskipun dia bukan Ibu kandungku! Tapi ada satu fakta yang membuatku meragukan kasih sayangku padanya…” Kyuhyun terlihat sedih.

“Apa itu?? Jika kau ingin memberitahuku!”

“Ibuku yang sekarang… adalah penyebab Ayah dan Ibuku berpisah, kau akan mengerti itu..”

‘Apa??’


“Eonnie…. Maafkan aku! Aku tidak bisa pergi darinya…” Seorang wanita yang terlihat tengah berlutut dihadapan seorang wanita yang lebih tua darinya.

“APA?!” Wanita yang lebih tua itu terlihat murka, api yang membara tergambar jelas dari kedua bola matanya.

“Sungguh! Kau wanita tidak tahu diri! Harusnya kau itu bersyukur karena orang tuaku masih mau mengurusmu, tapi apa yang kau perbuat?? Kau bahkan merebut suami kakakmu sendiri!” Teriaknya. Suaranya begitu menggambarkan apa yang dia pikirkan.

“Bisa tidak bisa, mau tidak mau, kau harus pergi darinya!”

“Eonnie, aku mungkin bisa meninggalkan Yeunghwan oppa… tapi tidak untuk putraku!” Wanita yang lebih tua itu tertawa pahit.

“Ya, seperti yang sudah aku katakan! Bisa ataupun tidak bisa, kau harus pergi dari kehidupan mereka!”

“Aku tetap tidak bisa, eonnie! Ibu mana yang bisa meninggalkan anaknya sendiri?? Bahkan hewanpun tidak mau meninggalkan anaknya…” Wanita yang lebih muda itu mencoba melawan.

“Kim Jihyun!”

“Eonnie… aku akan tetap pergi dari kehidupanmu! Tapi, izinkan aku membawa Kyuhyun bersamaku!” Suaranya melembut. Dia memohon pada wanita yang lebih tua darinya itu.

“Tidak!” Dia menggeleng keras.

“Jikyung Eonnie, pikirkan jika kaulah yang jadi aku! Bagaimana perasaanmu jika Ahra diambil secara paksa darimu??” Pandangan Jikyung melunak, tapi sebagian hatinya masih diselimuti oleh kebencian, trauma, dan dendam yang masih membara.

“Apa kau tidak pernah berfikir, jika kau yang jadi aku!!” Jikyung meninggikan suaranya. ‘Apa yang dia tau tentang bagaimana rasanya kehilangan itu??’ Bathinnya.

“Apa yang kau tahu tentang diriku??” Dia bertanya. Kali ini, nada suaranya terdengar begitu memilukan.

“Kau yang selalu ditatap Appa!! Kau yang selalu dibanggakan Appa!! Kau yang merebut Appa dari kami!! Kau dan Ibumu itu sama saja!!” Nadanya kembali berubah, seluruh intonasinya dipengaruhi oleh kebencian yang mendalam.

“Apa yang kau tahu tentang rasa sakit?? Apa yang kau tahu rasa sakit yang kualami ketika eomma melampiaskan kebenciannya pada Appa kepadaku?? Apa yang kau tahu tentang itu??” Jihyun terdiam, wanita itu benar!

“Dan akan kubuat Kyuhyun merasakan sakit yang kurasakan seumur hidupnya!”


“Yang aku tahu, Ibuku dan Ibuku yang sekarang adalah saudara tiri…” Kyuhyun menceritakan kisahnya, sebuah pengantar tidur bagi Hyuna.

“Kakek selalu memanjakan Jihyun eomma, tapi dia tak begitu memperhatikan nenek dan eomma..” Hyuna tengah berbaring, kepalanya beralaskan salah satu lengan Kyuhyun. Dia mendengarkan setiap kata yang diucapkan Kyuhyun tanpa terlewat satupun.

“Aku tak tahu apa yang terjadi pada mereka… tapi, menurutku ada sesuatu yang salah dari semua ini!” Ungkapnya lagi.

“Terlebih, aku merasakan ada hubungan yang kuat antara aku dan Jihyun eomma. Aku sendiri tidak mengerti, seharusnya aku membencinya bukan??” Hyuna menatap Kyuhyun, membelai pipi tembam pria itu.

“Tidak, Kyu! Bisa saja semua ini hanya salah paham…” Kyuhyun memejamkan matanya sebentar.

“Entahlah! Tapi semua yang kuingat mengatakan begitu, Jihyun eomma telah merebut appa, dan menyebabkan kepergian Ahra noona….” Hyuna menggeleng lagi.

“Kau tidak tau pasti apa yang terjadi, bukan?? Kenapa tidak kau tanyakan langsung saja??”


“Kyuhyun sayang…” Jihyun memanggil pria kecil yang tengah memainkan benda kecil persegi panjang itu dengan lembut.

“Ahjuma…”Kyuhyun mendekatinya, dan memeluknya erat melupakan mainan favoritnya. Baginya, wanita itu adalah seorang malaikat yang turun dari langit.

“Mulai sekarang, jangan panggil Jihyun ahjumma lagi, tapi panggil dia eomma!” Ucap ayahnya dari balik Jihyun, Kyuhyun menatap Ayahnya takut.

“Shireo!” Kyuhyun kecil melepaskan pelukannya. Dia memandang raut Jihyun yang penuh dengan kekecewaan.

“Mau ataupun tidak, kau harus memanggilnya eomma!” Ucap Ayahnya tegas. Namun, Kyuhyun belum bisa menerima permintaan ayahnya itu. Karena, menurutnya eomma nya hanya satu! Orang yang dipanggilnya eomma itu adalah sesosok monster yang selalu memukulinya. Dia tidak ingin Jihyun berubah menjadi monster saat Kyuhyun memanggilnya eomma.

“Andwe…” Kyuhyun kecil terus menggelengkan kepalanya. Dia tidak ingin mengulangi masa- masa menyakitkan itu lagi.

“Kyuhyun!”


“Eomma…” Kyuhyun memanggil ibunya dengan pelan, nyaris berbisik. Wanita itu berbalik, mengalihkan perhatiannya dari peralatan masak.

“Eomma…” Kyuhyun memikirkan kembali pertanyaan yang akan diajukannya. ‘Kenapa eomma menikahi Appa??’

“Mworago??” Tanyanya lembut. Kyuhyun hanya menggelengkan kepalanya dan tersenyum simpul.

“Tidak ada..” Dia kembali teringat kata- kata Hyuna semalam. ‘Kau tidak tau pasti apa yang terjadi, bukan?? Kenapa tidak kau tanyakan langsung saja??’

Dia sangat ingin mengetahui hal yang sesungguhnya, agar tidak terjadi kesalah pahaman. Tapi, hati kecilnya mengintruksikan agar dirinya tidak bertanya. Semuanya menjadi serba salah.

Hyuna melihat kebimbangan di mata Kyuhyun, wanita itu hanya diam dan mengawasi dari balik tembok pembatas ruang makan dan dapur. Mungkin Kyuhyun punya jalan sendiri untuk dirinya, dan Hyuna beranggapan dia tak punya hak untuk itu.

.
.

“Hyuna-ya??” Kyuhyun memanggil dengan pelan. Dia menoleh, menaikkan salah satu alisnya.

“Dulu sewaktu aku kecil, aku tidak pernah memanggil Ibuku dengan sebutan eomma…” Hyuna mendengarkan Kyuhyun. Suaminya itu mulai membuka dirinya, dan dia akan bercerita.

“Kenapa???” Hyuna tidak ingin terlalu banyak bertanya. Dia tidak mau merusak mood Kyuhyun yang sedang menceritakan masa lalunya.

“Karena, seorang yang akan kupanggil eomma akan menjadi sebuah monster yang sangat menyeramkan… Dan aku tidak ingin Ibu (Red: Ibu tiri) akan menjadi seperti eomma yang selalu memukulku dan noona! Tapi, dengan paksaan Appa akhirnya aku terbiasa memanggilnya eomma….” Dia menghela nafasnya pelan. Tapi itu semua belum apa- apa hingga Kyuhyun melanjutkan kalimatnya yang lebih mengejutkan.

“Aku tidak ingin menyayangi seorang perempuan, karena aku takut mereka meninggalkanku! Seperti Ahra noona dan eomma…”

.
.

“Hyuna-ya… Neo gwaenchana??” Kulit putihnya terlihat pucat, tubuhnya kaku, keringat dingin membasahi tubuhnya. Sedari tadi dia hanya menatap makanan siangnya tanpa minat, perutnya memang lapar tapi dia tidak sedang ingin makan saat ini.

“Ya, aku tidak apa- apa Dr. Kim!” Ucapnya.

“Jika kau memang tidak apa- apa, kenapa makanannya tidak dimakan??” Hyuna memandang makanannya tanpa minat.

“Tidak, aku hanya tidak sedang berselera! Kurasa aku terkena demam musim salju, ha-ha!” Candanya.

“Ada- ada saja kau ini! Apa itu demam musim dingin?? Selama aku menjadi dokter aku tidak pernah mendengar nama penyakit seperti itu…” Ucap Dr. Kim disela tawanya.

“Itu artinya, namaku bisa dimasukkan dalam sejarah!”


“Hhh… panas sekali..” Hyuna terbangun tidurnya. Langit masih belum menampakkan sinarnya. Malam itu, seluruh tubuhnya terasa panas, kepalanya juga terasa berputar.

“Apa yang terjadi denganmu, Hyuna-ya??” Kyuhyun yang melihat kegelisahan Hyuna tampak kebingungan.

“Tubuhku panas sekali…” Dia menyentuh kepala dengan punggung tangannya. Kyuhyun menatap Hyuna curiga, pria itu menautkan alisnya.

“Jangan- jangan…” Kyuhyun menggantungkan kalimatnya. Hyuna menatap bingung Kyuhyun yang pergi meninggalkannya menuju kamar mandi.

“Kau tidak minum obat ‘ini’ lagi kan??” Kyuhyun menodongkan obat ‘terlarang’ itu pada Hyuna. Obat yang menjadi penyebab tragedi malam pertama itu terjadi.

“Tentu saja tidak, bodoh!” Hyuna melempar Kyuhyun dengan bantal yang terbaring rapi disampingnya.

“Ya, mungkin saja kan?? Hey! Bukankah dia yang bodoh??” Gerutu Kyuhyun yang masih dapat didengar Hyuna, meskipun pria itu tengah melangkahkan kakinya kembali menuju ke kotak first aid disudut kamar.

“Aku mendengar itu, Cho Kyuhyun!”

.
.

“Kyuhyun….” Erang Hyuna dalam tidurnya. Kyuhyun yang berbaring disebelahnya itu terbangun karena Hyuna sedari tadi terus memanggil namanya.

“Hey… Hyuna- ya!” Kyuhyun menepuk pipinya pelan. Kyuhyun semakin panik saat kulit mereka bersentuhan, suhu tubuhnya sangat panas.

“Kyuhyun… uhhukk.. uhhukk..” Hyuna mengerang lagi sambil terbatuk.

“Hey bangun….” Kyuhyun menepuk pipinya lagi. Dia harus memastikan, apakah gadis itu masih sadar atau tidak.

“Kyuhyun!” Matanya yang merah itu terbuka, Hyuna menatapnya sendu sambil meracaukan hal yang tidak jelas.

“Kyuhyun cium aku… uhhukk… uhuukk..” Kyuhyun menaikkan salah satu alisnya bingung.

“Hey… kau ini kenapa??” Dia menepuk pipi Hyuna lagi.

“Kyuhyun cium aku… uhkk..”

“Hyuna kau ini… hmnpphh.” Ucapan Kyuhyun terpotong saat bibir perempuan itu membungkamnya. Hyuna mencium Kyuhyun dengan kesadaran yang rendah, namun permainannya mampu memancing gairah pria itu. Hingga akhirnya, Kyuhyun membalas ciuman Hyuna. Dia menyusupkan lidahnya kedalam mulut panas Hyuna.

“Kyuhh…” Hyuna mendesah pelan saat tangan liar Kyuhyun meraba tonjolan(?) kembarnya. Kegiatan mereka bertambah panas saat kecupan- kecupan nakal Kyuhyun berpindah kelehernya, dan meninggalkan jejak disana.

“Uhukk… uhhukk… Kyuhyun… Uhkk.” Kyuhyun tersadar. Pria itu terlalu larut dalam gairahnya, dia sampai lupa kalau Hyuna sedang sakit.

“Mianhae- yo… Aku akan mencarikan obat flu untukmu!” Kyuhyun menghentikan kegiatan mereka, pria itu beranjak menuju kotak first aid yang terletak disudut kamar. Dengan teliti, dia mengambil botol putih itu.


“Dr. Kim, mianhae sepertinya aku tidak bisa masuk bekerja hari ini uhhkk. Aku sedang terkena flu, hachimmm.” Hyuna sedang menelpon. Dia terlihat cukup sulit untuk berbicara, karena batuk dan bersin yang selalu mengganggu.

‘….’

“Oh ne… Tentu saja, uissa-nim! Oh, kau baik hati sekali… maaf merepotkanmu.”

‘…..’

“Ne, gamsha hamnida… Anyeong.” Dia memutus sambungan telepon itu. Huh, Hyuna sangat membenci saat- saat dimana dia harus terserang penyakit.
Dimana dia tidak akan bisa pergi kemana- mana dan kesepian dirumah. Kyuhyun sudah berangkat ke kantor tadi pagi, begitu pula dengan Ayah mertuanya. Kini, dia hanya berdua dirumah dengan sang Ibu mertua yang tengah sibuk didapur.

‘knock.. knock..’

“Hyuna- ya, apa kau sudah bangun??” Suara lembut Ibu mertuanya terdengar dari balik pintu.

“Ne… Silahkan masuk hhk.. uhhk, eomma-nim.” Jawabnya sambil berusaha bangun dari ranjangnya. Seluruh tubuhnya terasa lemas, kepalanya juga ikut berputar. Jika dipaksakan, mungkin dia akan berakhir pada toilet.

“Apa kepalamu masih pusing, sayang??” Ucap wanita paruh baya itu sambil membawa seperangkat sarapan disertai obat flu milik Hyuna yang baru saja diambilnya dari sudut kamar.

“Ne, eomma. Tapi, sudah lebih baik dibanding semalam hachim…” Jawabnya. Ibu mertuanya pun duduk disisi ranjang dan menempatkan nampan berisi bubur dan lain- lain itu di atas pangkuan Hyuna.

“Ayo dimakan, sayang! Kau harus sarapan dulu, lalu minum obat.” Ucapnya lembut. Hyuna mengangguk dan memulai sarapannya. Dia harus makan jika ingin sembuh, walaupun semua yang melewati tenggorokannya terasa hambar dan terkadang pahit.

“Gomawo-yo, eomma.” Ucap Hyuna setelah dia menghabiskan menu sarapannya, dan meminum obat flu.

“Eomma-nim…” Panggil Hyuna pelan saat ibunya itu beranjak dari sisi ranjangnya. Wanita paruh baya itu berbalik dan memberikan senyuman terhangatnya.

“Apa, sayang?? Ada sesuatu yang kau butuhkan??” Tanyanya dengan nada yang sangat lembut. Hyuna menggeleng, dia hanya ingin bertanya satu hal.

“Tapi… Bolehkah aku bertanya beberapa hal padamu, eomma-nim??” Jihyun kembali duduk disisi ranjang tadi dan meletakkan nampan yang dibawanya di meja samping ranjang.

“Tentu saja!”

“Ini mengenai masa kecilnya Kyuhyun…” Hyuna memelankan suaranya, terlebih saat melihat Ibu mertuanya itu terdiam. Wanita paruh baya itu menatap Hyuna sendu.

“Tidak perlu diceritakan jika eomma…”

“Tidak, tak apa! Hal yang wajar jika seorang istri ingin mengetahui masa lalu suaminya…” Jihyun tersenyum, yang Hyuna tau itu hanyalah sebuah senyum paksa. Ada sesuatu yang pahit yang di sembunyikannya.

“Ya…” Ucap Hyuna pelan. ‘Andai kau tahu, eomma! Aku melakukan semua ini karena aku ingin Kyuhyun kembali normal….’

“Eomma, apa kau sangat menyayangi Kyuhyun??” Tanya Hyuna pelan. Jihyun tersenyum penuh kasih sayang.

“Tentu saja, tidak ada ibu yang tidak mencintai anaknya…” Ucapnya penuh kebahagiaan.

“Bahkan, jika aku harus menukarkan nyawaku dengannya… aku rela, sayang!” Lanjutnya lagi.

“Mianhae, eomma…” Hyuna tertunduk, dia merasa sangat bersalah karena telah meragukan kasih sayang yang telah diberikan Jihyun pada suaminya.

“Aniya, gwaenchanna… Memang sudah wajar jika kau meragukan kasih sayangku pada Kyuhyun mengingat statusku yang hanya…”

“Bagi Kyuhyun, eomma merupakan orang yang paling dia sayangi…” Hyuna memotong kalimat Jihyun. Kemudian mereka saling berpelukan, penuh kasih dan sayang.

“Terima kasih karena sudah mendampingi Kyuhyun….” Ucap Sang Ibu mertua. Hyuna menggeleng pelan dan berkata.

“Seharusnya aku yang berterima kasih karena eomma mau menerimaku sebagai menantu dirumah ini…”

.
.

“Hyuna- ya… uhhkk…” Kyuhyun memanggil Hyuna saat dia memasuki kamar. Kyuhyun tampak pucat dan kelelahan. Hyuna yang berbaring diatas ranjang langsung berdiri dan melihat Kyuhyun khawatir.

“Hei… Apa kau baik- baik saja??” Suaranya menggambarkan kekhawatiran yang wanita itu rasakan. Dia berdiri dari tempat tidur, dan membantu Kyuhyun untuk duduk disofa dekat jendela.

“Tenggorokkanku sakit sekali… uhhk.. Apa kau sudah merasa lebih baik??” Kyuhyun terbatuk. Hyuna memandang Kyuhyun penuh penyesalan.

“Ya, aku merasa cukup sehat hari ini… Maaf, mungkin aku sudah menularkan penyakitku padamu…” Ucapnya penuh penyesalan.

“Ya… Tapi, aku suka caramu menularkannya padaku.” Kyuhyun tertawa genit. Hyuna hanya menatap Kyuhyun dengan tidak mengerti.

“Maksudmu?? Memangnya, bagaimana aku menularkan penyakitku padamu??” Tanya Hyuna penasaran. Kyuhyun mengacak rambut Hyuna pelan dan tertawa.

“Untuk yang satu itu, anak kecil sepertimu tidak boleh tau.” Ucapnya tenang sambil sesekali terbatuk.

“Yak!!! Cho Kyuhyun!!” Hyuna berteriak saat menyadari maksud terselubung Kyuhyun, walaupun dia mengabaikan fakta mengenai pipinya yang memerah.

“Ssstt! Berisik… uhukk..” Kyuhyun menutup mulut wanita itu dengan sebelah tangannya sambil berdiri.

“Cho Kyuhyun, apa kau sudah makan??” Tanya Hyuna setelah Kyuhyun melepaskan tangannya. Pria itu mengangguk dan berbaring, tanpa perlu melepaskan pakaian kerjanya.

“Apa sudah makan obat??” Tanpa suara, Kyuhyun menjawab dengan gelengan kepala pelan.

“Baiklah, tunggu disini! Aku akan mengambilkan obat untukmu…” Hyuna berjalan menuju sudut kamar dan mengambil sebuah botol putih dari kotak first aid, kemudian memberikannya pada Kyuhyun lengkap dengan air putihnya.

“Ini obatnya dimakan…” Kyuhyun langsung bangkit dari tidurnya, kemudian memakan obat yang diberikan Hyuna padanya.

.
.

“Hyuna- ya…” Kyuhyun memanggil Hyuna pelan, dia mencoba membangunkan wanita itu dari tidurnya. Namun, tidak ada tanggapan yang diberikan.

“Hyuna- ya…” Hyuna menggerakkan tubuhnya pelan, tapi belum juga membuka matanya. Kyuhyun menjadi kesal melihat Hyuna yang tidak kunjung bangun dari alam bawah sadarnya.

“Yak!! Hyuna-ya, ayo bangun…” Kyuhyun menaikkan nada suaranya. Pria itu menatap Hyuna dengan kesal. Bagaimanapun, Hyuna harus bangun dari tidurnya untuk membantunya. Entah apa yang diberikan perempuan itu padanya semalam, dia merasa kepanasan.

“Hmmm…” Setelah banyak usaha yang Kyuhyun lakukan, dia hanya mendapatkan gumaman aneh sebagai jawabannya.

“Hah… eottokhae???” Kyuhyun melepaskan piyamanya. Dia juga menyalakan AC dengan suhu yang cukup dingin. Hyuna yang tertidur lelap merasa kedinginan, dia lantas bersembunyi di balik bed cover. Sementara itu, Kyuhyun merasa gelisah karena suhu tubuhnya, terlebih bagian bawahnya yang menegang entah karena apa.

“Kyuhyun!! dingin!” Gumam Hyuna saat Kyuhyun menarik paksa bed cover itu dari tubuhnya.

“Kyuh… hhmmmph…” Belum sempat dia melayangkan protesnya yang kedua kali, pria itu langsung membungkamnya dengan ciuman yang penuh dengan gairah.

“Hah.. Kau ingin membunuhku ya???” Teriak Hyuna dengan terengah, saat Kyuhyun melepaskan bungkamannya. Mata merah Kyuhyun menatap Hyuna seperti seekor singa yang hendak menerkam mangsanya.

“Hyuna- ya…” Panggil Kyuhyun dengan suara seraknya. Hyuna hanya menaikkan sebelah alisnya melihat tingkah aneh Kyuhyun.

“Kau ini kenapa sih??” Kyuhyun mendekatkan wajahnya ke wajah Hyuna, membuat mereka saling merasakan deru nafas masing- masing.

“Aku… uhkk, butuh bantuanmu…” Jawabnya sambil sedikit terbatuk.

“Apa?? Apa masih sakit??” Hyuna memandang Kyuhyun khawatir. Tangannya sibuk memeriksa suhu tubuh Kyuhyun di kepalanya. Namun, tangan Kyuhyun memegang tangan Hyuna yang berada dikepalanya.

“Aku tidak butuh bantuan disitu… tapi disini….” Kyuhyun menarik tangan Hyuna dari atas kepalanya.

“Kyaa…” Hyuna terlonjak kaget saat tangan Kyuhyun meletakkan tangannya diatas benda keramat milik Kyuhyun yang sedang berdiri.

Ini cuman Previewnya aja guys… buat part penuhnya tunggu di FlyingNC aja yah… maaf gak bisa update cepet… maklum lagi sibuk banget…. setelah menyelesaikan ff ini, rencananya aku mau hiatus sementara, buat persiapan UN 2016

Not a Virgin??

image

Cast : Cho Kyuhyun, Kim Hyuna and other
Category : Romance, yadong, NC- 17

.
.
.

Sorry for everything…’
.
.
.

“Kyuhyun!”

Aku menatapnya, sudah satu minggu ini aku tak bertemu dengannya. Sebuah ketidak-tahuan dapat mengakibatkan kesalah-pahaman. Aku meninggalkannya, ketidak-tahuan membuatku salah paham. Aku sangat menyesalinya!

Mianhaeyo…

.
.
****
.
.

Flashback

.

“Jangan sentuh aku, jalang!” Mereka mendengus, berjalan menjauhiku. Membawa tangan kotor mereka pada tempatnya.

‘Aku benar- benar tertipu!’ Wajah polosnya mengecohku, dia sama saja dengan perempuan- perempuan yang tengah menjajakan diri mereka disana.

“Hey bro! What’s up??” Seseorang dengan suara yang tak asing menepuk pundakku.

“None of your bussiness man!” Aku mengacuhkannya. Dia duduk disebelahku dan memesan cocktail.

Waeyo? Bukankah ini malam pertamamu??” Dia menaik-turunkan alisnya. Aku mendengus dan kembali meneguk wine-ku.

“Bukan urusanmu, Hyung!” Dia terkekeh pelan. Meneguk minumannya yang baru saja dibuatkan bartender untuknya.

“Hahaha…” Dia tertawa. Aku kembali mendengus, dan mengerutkan alisku. Dasar aneh!

“…” Aku mengabaikannya yang terus berceloteh disampingku. Emosi meluluh lantakkan pikiranku.

“Heii, tuan muda Cho! Apa masalahmu?!” Dia menepuk pundakku.

“…” Aku terlalu malas menjawab pertanyaannya, dan tenggelam dalam segelas wine ditanganku.

“Heii, katakan sesuatu!” Ucapnya. Dia menggoyangkan pundakku.

“S-E-S-U-A-T-U!” Dia tertawa lagi. Kemudian meminum segelas cocktail ditangannya.

“Huh!!!” Aku menegak tetes terakhir wine ditanganku sebelum bergegas pergi dari tempat itu.

Aku berdiri dari kursi yang kududuki, dan berjalan menjauhi bar. Namun baru beberapa langkah, tangan Siwon Hyung menarik lenganku.

“Heii! Ayo ceritakan masalahmu padaku, mungkin itu akan membantumu…” Ajaknya. Aku berbalik dan melangkah pergi menjauhinya.

‘Aku tidak butuh bantuanmu!!’

****
.
.

Hari demi hari berlalu begitu saja, tanpa kusadari ini adalah hari ketujuh aku meninggalkan apartemenku dan jalang itu! Aku lebih memilih tak memikirkannya dan sibuk dengan pekerjaanku.

Tok… Tokk.. Tokk

“SIAPA?!” Bentakku. Aku memilih tak menoleh kearah pintu.

‘Krekk’

“Sudah kubilang, aku tidak ingin diganggu!”

“Kyuhyun, berani- beraninya kau membentakku!!”

Sial!! Aku telah membentak seseorang yang salah. Dan, dia akan melaporkan kelakuanku pada ibu dirumah.

“Maaf! Aku tak tahu kalau yang datang itu kau, kakak sepupuku!” Aku lebih memilih tidak menatapnya dan kembali keberkas- berkas dihadapanku.

“Karena aku sedang berbaik hati, jadi kau ku maafkan.” Dari sudut mataku, dia sedang duduk di sofa sudut ruangan ini.

“Ada perlu apa kau kemari, Haneul-ah??” Seharusnya aku tak perlu menanyakan hal itu!

“Kudengar dari Siwon oppa, kau sering sekali marah- marah dan menghabiskan malammu di club, padahal….” aahh…! Gotcha!

“Padahal kau sama sekali tidak pernah menginjakkan kaki di tempat itu lagi semenjak kau mengenal Hyuna!”

“Berhentilah menyebut nama itu dihadapanku!” Dia menatapku bingung dan terkejut.

“Kenapa??” Aku membenci satu kata yang terucap dari mulutnya itu.

“Sayangnya, itu bukan urusanmu!”

“Kenapa?? Dia istrimu kan?? Bahkan kalian baru satu minggu menikah!” Dia benar- benar bingung.

“Ya, dan hanya akan bertahan untuk beberapa hari kedepan!” Ucapku ketus.

Omonaa! Kenapa begitu Kyu?? Apa yang terjadi diantara kalian??”

“It’s none of your bussiness!” Dia terdiam sejenak. Apakah aku terlalu kasar padanya??

“Ayolah! Kyuhyun, cerita padaku. Aku tak pernah melihatmu semarah ini semenjak…”

“Jangan dilanjutkan!” Aku tidak ingin mengingatnya.

“Kalau begitu, ceritakan!” Aku menghela nafasku kasar.

“Ternyata dia sama saja dengan perempuan diluar sana…” Dia mengerutkan dahinya.

“Maksudmu??”

“Haruskah aku menceritakan kegiatanku yang paling ‘private’ padamu??” Dia mengangguk. Aku mengusap wajahku kasar.

“Apa ini ada masalahnya dengan ‘first night’ kalian??” Aku terkejut! Bagaimana dia bisa tau hal ini? Aku mengangguk pelan.

“Ya, sudah kuduga!” Dia menjentikkan jarinya keudara.

Waeyo??” Dia menggeleng prihatin padaku. Apa maksudnya???

“Seharusnya kau konsultasi dulu padaku….”

“Kenapa??” Yang benar saja?!

“Ya, mengingat aku adalah seorang konsultan….”

“Ya, Aku mengerti kau adalan seorang konsultan dalam bidang ‘Ehem- ehem’ itu..” Potong ku

“Jadi, ayo ceritakan padaku apa masalahmu!” aku menggeleng. Jujur, aku malas membicarakan hal ini.

“Bagaimana kau tahu aku memiliki masalah d bidang itu??”

Author POV

“Aku tau dari gelagatmu, tuan.” Haneul memperhatikan Kyuhyun. Tingkah yang ditunjukkan pria itu sama seperti pasien- pasiennya selama ini.

“Sekarang… Ceritakan padaku!” Kyuhyun masih enggan bercerita.

“Tidak! Aku sama sekali tidak memiliki masalah dengan hal itu, dan perkataanmu mengganggu privasi-ku.” Kyuhyun menyanggah pernyataan Haneul.

Aigooo, ceritakan padaku! I promise to not tell anyone…” Dia menatap Kyuhyun yang -Masih- dengan ekspresi bingungnya.

“Kyuhyun, aku yakin akan ada kesalahpahaman jika kau terus- terusan seperti ini!” Haneul mulai jengah.

“Ayo, ceritakan!” Kyuhyun menceritakan apa yang dialaminya. Haneul merasa sangat terkejut dan kasihan pada sepupunya itu.

“Astaga, Cho Kyuhyun! Bagaimana kau bisa berspekulasi bahwa she is not virgin anymore??” Dia menutup mulutnya.

“Ya… Kau tahu kan kalau…” Kyuhyun menggaruk- garuk kepalanya. Sulit sekali rasanya mengatakan hal yang begitu ‘Intim’ dengan wanita.

“Biasanya mereka akan berdarah saat pertama kali, bukan??” Haneul mendengus sebal.

Aigooo, Cho Kyuhyun! Kegadisan seseorang tidak ditentukan oleh berdarah atau tidaknya saat melakukan penetrasi!” Kyuhyun menatapnya bingung.

“Maksudmu?!”

“Beberapa wanita, mungkin dilahirkan tanpa selaput dara! Tapi itu bukan artinya  mereka tidak perawan!”

“Jadi, bagaimana caranya aku mengetahui dia gadis baik- baik atau bukan??” Kyuhyun mengerutkan dahinya. Pria itu marah, bingung dan sedih.

“Biasanya mereka akan merasa kesakitan, dengan kulit yang merona malu…. Kyuhyun! Mau kemana kau??” Haneul menggelengkan kepalanya, Kyuhyun telah menghilang dari balik pintu.

****

“Kyuhyun!”

Hyuna terkejut,  sementara sebagian dari hatinya menyuarakan kebahagiaan. Pria yang menghilang satu minggu itu telah kembali, dengan raut letih dan menyesalnya dia meminta maaf.

Mianhaeyo…

“Kyuhyun- ah! Gwaenchanayo??” Mereka berdua saling menatap, Hyuna sangat tidak mengerti. Mungkin, masalah ini begitu rumit untuknya. Kyuhyun menelan salivanya sebelum mengungkapkan apa yang diragukannya selama ini.

“Hyuna- ya saranghae!

End or TBC??

Holaa!!

Gimana ceritanya?? Gajekah???

Maaf kalau baru bisa publish sekarang! Soalnya aku sibuk banget dgn tugas”ku d sekolah yang udah numpuk! Hohoho

Kritik dan saran sangat dibutuhkan demi kelangsungan ff dan blog ini

Gamsha hamnida!

Posted from WordPress for Android

The Reason part. 6 -Engaged-

thereasoncover

The Reason Chapter 6
Author :
• HanneulKim
Title :
• The Reason Chapter 6 (Engaged)
Category :
• Friendship, Yadong, NC-17,Chapter
Cast :
• Cho Kyuhyun
• Kim Hyuna (OC/ Bukan HyunA 4minute ya… eh tapi, tergantung pemikiran kalian deh.. hehe J)
Other cast :
• Lee Sungmin
• Choi Siwon
• Find other
Warning!!! Typo bertebaran…. Siapkan hati dan fikiran anda… terutama kantong muntah…

Happy reading Guys :*

“Masa kanak- kanak bukan karena dilahirkan bagi usia tertentu dan pada usia tertentu anak bertumbuh, dan meninggalkan hal- hal kekanakan. Masa kanak- kanak serupa kerajaan, dimana tak ada yang meninggal.” –Edna St. Vincent Millay- Breaking Dawn-


Pria kecil itu menangis keras. Dia ingin berlari, namun tangan dan kaki yang terikat menyempitkan ruang geraknya. Dia hanya bisa diam dan menangis melihat kejadian dihadapannya.

“Eomma… jangan eomma… hikss” Suara kecilnya bergetar, menandakan dia sedang sangat takut.

“Diam kau, Kyuhyun! Atau eomma akan berbuat kasar padamu!” wanita paruh baya itu mulai menyuntikkan sebuah cairan pada IV yang tergantung pada tiang disudut tempat tidur.

“Ahra… maafkan eomma sayang! Eomma tak ingin kau menjadi jahat seperti eomma!” Suara wanita itu lembut dan menipu. Dia memperdalam suntikkannya.

‘tiitt…’

Suara dengungan memekakkan telinga terdengar begitu nyaring. Kyuhyun yang notabene-nya belum mengerti hanya bisa memejamkan kedua matanya. Pria kecil itu tidak tau apa yang terjadi saat itu. Yang dia tau hanya saat dia membuka mata, dia melihat ibunya tengah berbisik padanya.

Sebuah kalimat yang menjadi sebuah alasan yang membuat segalanya menjadi berantakan, dimasa depannya.

‘Jangan percaya pada satupun wanita, Cho Kyuhyun!’


Kyuhyun terbangun dari tidurnya. Namun, pria itu lebih terlihat seperti tengah lari marathon bila dilihat dari butiran keringat yang menetes pada dahi lebarnya. Dia menghela nafasnya, menetralisir degupan jantung yang terus menghantuinya. Kemudian, pria itu menghapus keringat pada dahinya.

Kenangan kelamnya dimasa lalu terus menjadi bunga tidurnya. Entah faktor apa yang membuat pria itu seakan kembali mengulas lembaran usang yang melukai hidupnya, begitu dalam.

Kyuhyun mendudukkan tubuh jangkungnya. Mengalihkan pandangan pada tirai putih yang menghalangi pandangannya. Dia menghela nafas lagi, perasaan bimbang melingkupi hatinya. Akankah ia membagi lukanya pada gadis itu?? Atau menyimpannya sendiri seolah tak ada yang terjadi?? Dia pun tak tahu apa yang harus ia lakukan. Selama ini dia bisa mempercayainya karena dialah satu- satunya perempuan yang mampu ia percayai.

Kyuhyun melangkahkan kakinya menuju kamar mandi disudut kamar, mencoba melunturkan kebimbangannya dengan guyuran air dingin pada kulit pucatnya.
.
.
Suara dentingan antara sendok, garpu dan piring menggema diruang makan pagi ini. Meramaikan suasana hening yang sangat kental. Ya, sarapan pagi hari itu masih seperti biasanya, hening dan bersahaja sebelum sang kepala keluarga memecah keheningan.

“Sayang, bagaimana persiapan pertunangan Kyuhyun??” Pria tua itu bertanya pada wanita yang mungkin jauh lebih muda darinya mengenai pertunangan putra mereka. Pertunangan Kyuhyun yang hendak dilaksanakan empat hari lagi.

“Semuanya sudah beres, yeobo.. Tinggal bagaimana tradisi yang akan dilaksanakan oleh Kyuhyun.” Pria itu menganggukkan kepalanya ringan dan menatap Kyuhyun yang –sepertinya-tidak- peduli atau tidak- mengerti- tentang apa yang mereka bicarakan.

“Kyuhyun! Bagaimana dengan mengunjungi makam nenek, ibu dan kakakmu?? Apa kau sudah melaksanakannya??” Kyuhyun menatap ayahnya.

“Haruskah aku melakukan itu??” Ucapnya.

“Tentu saja, kau harus meminta restu dari mereka!” Jelas ayahnya. Kyuhyun mungkin sedikit keberatan dengan satu tradisi itu.

“Kau juga harus membawa Hyuna bersamamu, jangan lupa kunjungi juga makam nenek dan kakenya!” Tambahnya lagi. Sebenarnya, tak ada yang salah dari tradisi itu. Yang salah adalah kehidupan masa kecilnya yang membuatnya harus berfikir ulang untuk terdorong lebih dalam. Yang akan membuat hidupnya lebih sulit lagi.


‘Jangan percaya pada satupun wanita, Cho Kyuhyun!’

Pria kecil itu terdiam, membiarkan otaknya memprogram apa yang diucapkan ibunya begitu saja. Dia tentu sama dengan anak- anak lain, mempercayai ibunya bagaimanapun kondisi yang tengah terjadi. Anak- anak akan selalu mengikuti apapun instruksi ibunya. Begitulah hukum alam!

Wanita itu kembali berjalan mendekati putrinya yang tengah terbujur kaku. Meskipun suhu tubuhnya masih hangat, namun jiwanya telah direnggut paksa dari tubuh mungilnya. Artinya dia telah tiada. Wanita itu mengusap surai coklat putrinya lembut, kesedihan tersirat dari matanya yang memerah.

“Kyuhyun sayang, maafkan eomma. Eomma tak bisa membawamu bersama kami sayang, karena kau sangat mirip dengan wajahku! Dan itu akan selalu mengingatkannya tentang kehadiranku dan Ahra! Selamat tinggal sayang…” Wanita itu berbaring disamping jasad putrinya dan meneguk sebuah cairan bening.

Dia tertidur dalam damai, meninggalkan Kyuhyun yang mungkin belum mengerti apa yang terjadi saat itu dalam diam. Lelehan tangis dipipinya mengering, dia masih diam hingga suara pintu yang terbuka, menampilkan wajah terkejut ayahnya.

“Kyuhyun!! Apa yang terjadi?!” Pria itu sungguh terkejut. Sebuah pemandangan dimana Kyuhyun dengan tangan dan kaki yang terikat, suara dengungan pendeteksi detak jantung dan yang terakhir… Jikyung-ibu Kyuhyun- yang tengah tertidur disamping putrinya.

“Kyuhyun!! Katakan pada Appa, apa yang terjadi?!”Pria itu setengah berteriak pada Kyuhyun. Mendekati putranya dan melepaskan satu per satu ikatan yang melekat pada tubuh putranya. Kemudian dia mendekati ranjang rumah sakit, dimana anak dan mantan istrinya tengah terbaring damai. Mendengar bunyi dengungan yang terus menggema, pria itu lantas berlari keluar mencari bantuan. Pria itu meninggalkan Kyuhyun yang masih terdiam dalam keterpurukannya.

Ayahnya kembali dengan beberapa orang berseragam putih. Mereka tampak panik dan sibuk dengan dua jasad yang terbaring damai diatas ranjang. Pria tua itu lantas membawa Kyuhyun keluar setelah mendengar intruksi dari salah satu orang tadi. Membawa pria kecil itu pada kursi tunggu yang terdapat diluar ruangan.

“Kyuhyun!! Katakan pada appa, apa yang terjadi didalam???” Suaranya menyiratkan kekhawatiran yang mendalam.

“Eomma bilang, dia akan pergi bersama noona….” Jawab Kyuhyun apa adanya. Pria itu mengusap wajahnya kasar. Dia terlihat begitu frustasi sekarang.

Salah satu dokter keluar dengan wajah yang mungkin tampak sangat menyesal. Pria berseragam putih itu mendekati Kyuhyun dan ayahnya yang tengah saling menatap.

“Maaf tuan Cho, istri dan putri anda telah berpulang kepada- Nya…” Appa Kyuhyun terdiam mematung. Sementara Kyuhyun kecil tengah mencerna kalimat dokter itu.

‘Kata Ssaem.. meninggal itu artinya orang yang kita sayang akan pergi kesebuah tempat yang sangat jauh. Dan kita tak akan pernah bisa menemuninya lagi selama- lamanya…’


Kyuhyun duduk diam dengan semua pikiran yang melingkupi hatinya. Pria itu sedang mengatasi ke-galau-annya tentang tradisi keluarga itu. Dia tak mungkin akan terus terpuruk dalam kenangan masa kecilnya, bukan? Pria itu telah berjanji akan berubah demi segalanya. Termasuk pengorbanan satu- satunya wanita yang bisa ia percayai.

Kyuhyun melangkah gontai menuju pintu kamarnya. Pria itu menatap kearah jendela sebentar sebelum melanjutkan langkahnya yang tertunda. Kali ini tekadnya sudah bulat, dia harus mengalahkan masa lalunya dan mulai menyusun rangkaian masa depan yang baru.
.
.
Hyuna melangkah dengan cepat, kaki pendeknya cukup bisa diandalkan. Menuruni tangga merupakan sesuatu hal yang juga cukup sulit untuk dilakukan, mengingat kaki- kakinya yang kecil itu. Tapi yang ada difikirannya bukanlah kaki- kaki pendeknya itu, melainkan seseorang yang dirindukannya.

Jantungnya berdetak cepat, seakan ingin lepas dari tempatnya. Pria itu terlihat sangat tampan, mungkin bertambah tampan sejak terakhir kali dia menemui pria itu dua hari yang lalu. Matanya tak berniat untuk berkedip, menikmati pemandangan indah di hadapannya.

“Hyuna- ya…” Panggilnya. Pria itu memamerkan senyum manis yang membingkai rahang tegasnya.

“Mworago????” Tanya Hyuna dingin. Gadis itu mencoba untuk sedikit menekan rasa rindu yang ingin diluapkannya pada pria yang tengah berdiri sejauh ± 3 meter darinya itu. Sementara pria itu hanya terkekeh pelan, dan berjalan mendekati Hyuna.

“Tidakkah kau merindukanku??” Godanya. Hyuna menundukkan kepalanya saat pria itu semakin mendekat kearahnya.

“Menjauhlah dariku, Cho Kyuhyun!” Hyuna mundur selangkah saat Kyuhyun berada dihadapannya.

“Kenapa?? Apa salahku, sayang???” Hyuna mendengus mendengar nada suara Kyuhyun yang terdengar menjijikkan. ‘Apa pria itu juga mengumbar suara yang seperti itu saat bersama Sungmin??’ pikirnya.

“Entahlah…” Jawabnya dingin. Hyuna memilih berlalu dari hadapan Kyuhyun. Namun, tangan pucat itu menghentikan langkahnya dengan menarik salah satu lengan Hyuna.

“Tunggu dulu! Aku ingin mengajakmu kesuatu tempat….” Kyuhyun menarik tangan Hyuna menuju kearah dapur. Mereka berpamitan pada seorang yeoja paruh baya yang tengah sibuk dengan peralatan dapurnya.

Eommonim... bolehkan aku meminjam Hyuna sebentar?? Ada suatu hal yang harus dilakukan…” Ucapnya sopan. Wanita paruh baya itu menghentikan kegiatannya dan menatap mereka.

“Bagaimana jika kalian makan siang dulu?? Ibu sedang memasak sesuatu…” Tawar ibunya. Kyuhyun melirik kearah arloji yang tersemat dipergelangan tangan kirinya. Jam masih menunjukkan pukul 9 pagi.
“Ah… kami tidak akan lama, eommonim. Hanya satu hal kecil yang harus dilakukan sebelum pertunangan, tradisi keluarga Cho!” Ibu Hyuna mengangguk.

“Baiklah, tapi jangan pulang lebih dari jam 2 siang.. arraseo??” Kyuhyun mengangguk. Pria itu membungkukkan tubuhnya sebelum menarik Hyuna yang mematung dari tempat itu.
.
.
“Kenapa kita kesini, Kyu??” Tanya Hyuna saat mereka telah sampai pada sebuah tempat pemakaman umum di pinggiran kota Seoul.

“Kita harus meminta restu dari nenek dan kakekmu, sayang!” Jawab Kyuhyun. Pria iru masih sempat menggoda gadis disampingnya itu dengan sebutan ‘Sayang’ yang terdengar menjijikkan.

Hyuna masih larut dalam fikirannya. ‘Pria itu mengajaknya ke pemakaman untuk meminta restu?? Apakah itu salah satu tradisi dikeluarga Cho yang dikatakannya??’. Karena terlalu larut dalam pikirannya, Hyuna bahkan tak sadar jika mobil yang ia tumpangi telah terparkir rapih di parkiran pemakaman. Kyuhyun membukakan pintu sisi penumpang dan membangunkan gadis itu dari alam khayalnya.

“Ayolah… tak ada waktu untuk berfikir lagi, aku sudah berjanji pada ibumu untuk pulang saat makan siang…” Kyuhyun mengamit lengan gadis itu setelah melepaskan safety-beltnya.

Mereka berjalan beriringan menuju komplek pemakaman yang penuh rumput hijau nan indah, meskipun image duka dan mengerikan masih sedikit melekat. Hyuna menatap sekelilingnya, dia sedikit lupa dimana letak pemakaman nenek dan kakeknya mengingat dia tak pernah memperhatikan sekitarnya saat mengunjungi kakek neneknya saat tahun baru.

Namun Hyuna tampak begitu kagum saat Kyuhyun mengajaknya ke makam nenek dan kakeknya yang berdampingan. Kyuhyun masih sangat ingat letak persis makam kedua orang yang telah tiada itu.

“Kyuhyun, bagaimana kau masih bisa mengingat letak makam kakek dan nenek??” Tanyanya takjub. Binar kagum terpancar dari matanya yang bulat namun sipit itu(?).

“Itu tidak penting, sayang. Yang penting sekarang, kita beri hormat dan meminta restu dari kakek dan nenek!” Hyuna mendengus sebal. Namun, akhirnya mereka membungkuk hormat bersama- sama sebelum Kyuhyun menyatakan niat dan meminta restu dari kedua orang yang telah tiada itu.
.
.
“Kyuhyun! Bukankah kita langsung pulang?? Kenapa kesini??” Kyuhyun menghentikan langkahnya. Dia menghembuskan nafasnya kasar sebelum berbalik menatap Hyuna yang terus berada dibelakang tubuhnya.

“Kenapa??” Hyuna mulai khawatir dengan minimnya respon yang Kyuhyun berikan. Pria itu terlihat sedang memikirkan sesuatu sebelum menjawab Hyuna dengan senyumannya yang terkesan sedikit dipaksakan.

“Kita harus kemakam Eomma dan noona dulu, kita juga harus meminta restu dari mereka..” Kyuhyun kembali menarik Hyuna menuju ke dua makam yang berdampingan. Kyuhyun terlihat sedikit kaku saat mereka telah benar- benar sampai dihadapan makam itu.

“Kyuhyun…” Hyuna bergumam. Dia meneliti Kyuhyun yang tampak sedikit kaku bila dibandingkan ketika mereka berada di makam kakek dan nenek Hyuna.

Kulit yang membungkus tengkoraknya kini kian memucat. Hyuna menarik salah satu tangan Kyuhyun dan menggenggam tangan itu erat. Kyuhyun tersentak pria itu beralih menatap Hyuna. Gadis itu tersenyum lembut saat menatapnya. Kyuhyun menguatkan dirinya untuk membalas senyuman itu.

“Annyeonghaseyo, eomma, noona!” Kyuhyun dan Hyuna membungkuk dihadapan ledua makam itu. Kyuhyun kembali diam, pria itu mencoba menghalau luka dihatinya sekaligus merangkai kalimat yang akan dia ucapkan.

“A… ak..” “annyeong, ahjumma… ani… eommonim. Annyeong eonnie. Naega Kim Hyuna imnida..” Hyuna memotong kalimat Kyuhyun dan memperkenalkan dirinya sendiri. Kyuhyun melirik kearah Hyuna dan gadis itu kembali tersenyum.

“Maafkan kami, baru mengunjungi makam kalian sekarang…” Hyuna membungkukkan badannya lagi. Kyuhyun hanya diam mematung.

“Pria disampingku ini tak pernah memberitahukanku mengenai tradisi keluarga Cho…” Hyuna menyikut lengan Kyuhyun yang sedari tadi membeku.

“Mianhae, eomma…” Kyuhyun membungkuk juga. Pria itu masih bingung dengan apa yang akan dikatakannya. Hyuna menggenggam tangan Kyuhyun lembut, mengalirkan semangat bagi Kyuhyun.

Pria itu mulai memperkenalkan Hyuna sebagai sahabat sekaligus calon istrinya. Pria itu tak lupa meminta restu unruk rencana pernikahan mereka.


23 desember 2014

Kediaman keluarga Kim terlihat ramai, suasana kekeluargaan yang kental sangat mendominasi rumah itu. Diruang keluarga, terlihat sebuah pohon natal dengan ukuran yang cukup besar menghiasi sudut ruangan. Pohon itu terbingkai dengan aksesoris cantik khas perayaan natal.

Beberapa orang mungkin akan berfikir bahwa malam itu tengah merayakan hari natal. Namun, pada kenyataan orang- orang disana tengah berkumpul untuk merayakan natal sekaligus melaksanakan pertunangan. Siapa lagi kalau bukan putri semata wayang keluarga mereka, Kim Hyuna.

Gadis itu sendiri tengah sibuk mengatur detak jantungnya sendiri. Tangan mungilnya sibuk memegangi bagian dada kirinya yang terus berdebar. ‘aku benar- benar harus memeriksakan jantungku sekarang…’ Pikirnya. Dia terus mengambil nafas dalam- dalam, sesekali memperhatikan penampilannya dihadapan kaca yang berukuran cukup besar didalam kamarnya.

Dia terlihat begitu cantik dan dewasa dengan gaun merah yang membalut tubuh kecilnya. Kaki- kakinya yang pendekpun terlihat sedikit panjang dengan tumpuan stilleto hitam pemberian ibunya.

“Kamu cantik kok, sayang…” Gadis itu menoleh kearah seorang wanita paruhbaya yang terhitung 7 hari lagi akan menjadi ibu mertuanya. Wanita itu tersenyum dibalik kulitnya yang mulai keriput.

“Ahh, ahjumma…” Hyuna tersipu malu. Pipinya terlihat lebih memerah daripada kepiting yang tengah direbus. Nyonya Cho tertawa pelan melihat reaksi yang diberikan calon menantunya itu.

“Jangan panggil aku ahjumma… panggillah aku eomma, sayang..” ucapnya lembut pada Hyuna. Gadis itu menganggukkan kepalanya dan tersenyum. Mereka langsung berpelukan.

“ayo kita turun sekarang…. Kyuhyun telah menunggumu dibawah…” Hyuna mengangguk dan mereka berjalan beriringan.
.
.

“Cho Kyuhyun!” Seorang namja berparas imut itu menghampiri Kyuhyun, dan menepuk pundaknya pelan. Kyuhyun berbalik dan tampak terkejut dengan namja yang menghampirinya tadi.

“Hyung! bagaimana kau bisa sampai disini??” Kyuhyun memberikan tinju pelannya dipundak pria itu, kemudian mereka berpelukan.

“Tentu saja naik pesawat, bodoh! Tidak mungkinkan aku berjalan kaki kesini?? Jarak antara Korea selatan dan Amerika cukup jauh, bocah!” ucap pria tadi saat mereka melepas pelukan.

“Hahahaha! Kau terlihat lebih tinggi sedikit sekarang! Berapa banyak tisu yang kau pakai didalam sepatumu??? Yakk appo!” Kyuhyun meringis saat pria itu melayangkan tangan mungilnya ke kepala Kyuhyun.

“Makanya jangan sembarangan bicara, dasar?!” Kyuhyun memamerkan deretan giginya pada pria itu.

“hahahahahaha… Ryeowook Hyung, kau datang bersama siapa kemari..?? seingatku kau tidak pernah tau alamat ini, semenjak SMA kan kalian tidak pernah akur…” Tanyanya. Ryeowook hanya menggaruk belakang kepalanya.

“Itu….”
“Oppa!” sebelum Ryeowook menyelesaikan kalimatnya, seorang yeoja datang menghampiri mereka.

“Ah… Cho Kyuhyun! Bagaimana kabarmu??” Suara cempreng gadis itu mengembara diudara. Sementara Kyuhyun terlihat terkejut dan memperhatikan penampilan gadis itu dari ujung kaki sampai ke kepalanya. Dia merasa tak asing dengan gadis dihadapannya itu.

“Kau… sepertinya aku mengenalmu..” Ucap Kyuhyun. Gadis itu tersenyum saat Kim Ryeowook melingkarkan lengannya dipundak gadis itu.

“Tunggu dulu…” Kyuhyun berfikir sejenak. Mengingat masa- masa SMA mereka, gadis ini tampak mirip dengan salah satu teman dekat Hyuna saat itu.

“Kau Haeun kah?? Dan kalian… kalian pacaran??” Kyuhyun begitu terkejut saat mereka berdua menganggukkan kepalanya.

“Ohh… aku terkejut!” Mereka tertawa mendengar penuturan Kyuhyun. Kata terkejutnya berbanding terbalik dengan wajahnya yang datar.

“Kami juga terkejut saat menerima undangan itu, terlebih lagi melihat nama pasanganmu disana…” Ujar gadis itu.

“Ya… Ceritanya benar- benar panjang!” Ungkap Kyuhyun. Mereka tertawa dan berbincang mengenai masa- masa sekolah mereka.

“Bagaimana kalian bisa menjalin hubungan?? Bukankah kalian seperti ‘Tom and Jerry’ dimasa SMA??” Tanya Kyuhyun. Keduanya hanya diam dan tersenyum padanya.

“Ya… Ceritanya benar- benar panjang!” Jawab Haeun menirukan kata- kata Kyuhyun. Hal itu membuat Kyuhyun mendengus sebal dan pasangan itu tertawa. Kemudian mereka kembali bernostalgia. Mengingat masa- masa sekolah menengah atas itu.

“Kyuhyun, lihat itu… Apakah dia benar- benar Hyuna?” Ucap Kim Ryeowook saat melihat kearah tangga.

“Dia benar- benar cantik dan terlihat dewasa…” Puji Haeun melihat gadis itu menuruni tangga bersama Nyonya Cho. Sementara Kyuhyun hanya memberikan respon yang sangat biasa, mungkin hanya sedikit tatapan sayang yang ia berikan.

“Ya.. begitulah.” Jawab Kyuhyun seadanya. Hal itu membuat Haeun dan Ryeowook saling berpandangan. Mereka terlalu bingung dengan respon yang diberikan Kyuhyun.
.
.
“Kyuhyun…” Gadis itu memandangi cincin yang melekat indah dijari manisnya. Benda itu begitu berkilau ditengah malam yang tertutup salju.

“Hmmm??” Kyuhyun menjawabnya dengan bergumam. Pria itu sedang berkelahi dengan alam bawah sadarnya.

“Cincinnya cantik…” Puji gadis itu. Kyuhyun menoleh padanya dan tersenyum simpul.

“Tentu saja, bahkan kau saja kalah cantik…” Ucapan Kyuhyun membuat Hyuna mendengus sebal.

“Ya! Terserah.” Jawabnya singat yang membuat Kyuhyun kembali tertawa.

“Aku bercanda, eoh! Tentu saja lau sangat cantik hari ini…” Bisik Kyuhyun ditelinganya. Hal itu membuat jangtungnya berdebar cukup kencang. Namun, dalam sekeja[ berubah saat pria itu melanjutkan kalimatnya.

“Sama sekali tidak mirip dengan Hyuna, bahkan aku sempat mengira bahwa kau adalah ibuku…” Hyuna mendengus.

“Jadi maksudmu, aku seperti ibu- ibu??” Dengus Hyuna sebal. Pria itu tertawa pedih, mengingat sosok yang sangat dirindukannya sekaligus bagian dari masa kecilnya yang kelam. Mereka berdua akhirnya memilih diam saat tak ada satupun yang ingin melanjutkan pembicaraan.

“Kyuhyun…” Panggil Hyuna pelan. Kyuhyun menoleh, membuat pandangan mereka bertemu dalam satu garis lurus.

“Ada apa??”

‘Benarkah kau sanggup untuk belajar mencintaiku???’ Hatinya berseru. Namun, gadis itu lebih memilih diam dan menyimpan apa yang memenuhi hati dan fikirannya.

“Haruskah aku mulai memanggilmu oppa??” Pertanyaan yang –tanpa sengaja- keluar dari mulutnya membuat Kyuhyun terkikik pelan.

“Itu terserah padamu, tapi kumohon… kau tetaplah menjadi dirimu yang apa adanya..” Ucapan Kyuhyun membuat atmostfer udara disana menjadi bertambah dingin.

‘Akankah kau tetap menerimaku, bila aku menjadi diriku yang apa adanya??’

‘Aku akan menjadi diriku yang apa adanya, menjadi diriku yang mencintaimu…’

Bersambung…

Annyeonghaseo…
Gak terasa udah part. 6 aja hahahaha… padahal dulunya ff ini bakalan end di part 5 atau 6. Aku gak nyangka kalau ff ini akan memiliki part yang lebih banyak… hahahahaha
Bytheway, part 6 ini merupakan part terpanjang dan terlama yang pernah kutulis. Bayangkan… biasanya aku cuman bisa nulis 1600- 2020 kata, dan dipart ini mencapai 2808 kata…
Aduh udah gak tau mau ngomong apa lagi…–‘ yaudah aku boleh gak minta saran buat part- part selanjutnya?? Aku butuh saran agar ff ini menjadi lebih baik dilain hari (untuk saran ataupun kritik kalau bisa jangan disampaikan dalam kata- kata kasar ya…), hohoho..

Oh ya, mohon maaf yang sebesar- besarnya karena baru ngirim ff ini *bow, soalnya kemarin filenya sempat hilang dan akhirnya copy-annya ketemu hehehe

buat ff sambungan tell me Why?? akan segera dipublish hehehe

See you in part. 7 :* ;*

Tell Me Why??

image

Cast           : Cho Kyuhyun, Kim Hyuna, and other
Category   : Sad, Yadong, NC-21, Oneshoot
.
.

Warning!! This story just for 17+, tapi dosa ditanggung masing- masing! Bye…
.
.
.
‘Why??? Please tell me why?!’
.
.
.
.

‘Huft……’

Aku duduk dipinggiran ranjang, mengatur setiap helaan nafas yang keluar. Meredakan kegugupan yang melandaku, sungguh aku sangat gugup. Aku memeluk tubuhku yang setengah telanjang. Maksudku, pakaian yang kupakai ini memiliki bahan yang cukup minim. Bisa dikatakan, pakaian yang kekurangan bahan.

Ceklekk…

Pria itu terlihat begitu seksi! Piyama sutera hitam yang dikenakannya sangat serasi dengan kulitnya yang pucat. Rambutnya yang setengah basah, menambah kesan seksi pada dirinya. Bibir tebal itu melengkung, mengukir seringaian seksi yang terbingkai di rahang tegasnya. Oh My My… I want him in my bed, Now!

“Kyuhyun…” Aku memanggilnya pelan. Pria itu kembali menatapku dengan seringaiannya yang seksi.

“Ya?” Suaranya terdengar begitu rendah, memanggilku begitu dalam pada gairah.

“Ak- aku….” Aku kehilangan kata- kata. Seluruh pikiranku terenggut oleh pemandangan indah yang dihasilkan oleh pria ini.

“Aku, aku kedinginan.” Bodoh! Dia tertawa pelan. Dia tertawa, gerakan jakunnya memanggilku untuk menghisapnya. Oh My!

“Baiklah, jika kau kedinginan…” Suaranya terdengar serak. Pandangan matanya turun kearah lingerie hitam yang kukenakan.

“Ayo, kita buat menjadi panas!” Dia menciumku. Tumpukan benda kenyal itu menimpa bibirku, menyesapnya pelan meninggalkan kesan basah yang menggairahkan.

Aku membuka mulutku, membiarkan lidahnya mendarat indah di dalam mulutku. Kami saling menghisap, mengalirkan gairah. Tubuhku semakin panas.

“Oh….” Sialan! Bibirnya terus berjalan menuju kearah leherku. Memberikan sensasi yang luar biasa, menghasilkan getaran pada setiap saraf ditubuhku.
.
.
.
.

“Oh, Kyuhyun! Kumohon…. Oh, please…” Kepalanya berada diantara kedua pahaku. Lidahnya yang panjang itu berada dipusat tubuhku, astaga! Nikmat sekali.

“Oh… KYU!!” Aku meraih puncak. Melengkungkan tubuhku, merasakan sebuah getaran dari tubuhku. Kyuhyun menyeringai, memposisikan tubuhnya diantara kedua kakiku.

“Oh, Kyu. Kumohon….” Aku merintih saat sebuah benda keras menggesek daerah kewanitaanku. Oh, damn! Dia menyeringai.

“Mohon apa sayangku??” Suaranya yang berat dan menggoda, semakin menyulut gairahku.

“Aku….. Ah, Kyu! Kumohon.. Aku sudah tidak tahan!” Aku tau dia menyeringai, oh my!

“Baiklah! Jika itu yang kau inginkan….” Suaranya begitu rendah, sial!

“Lakukan apapun, jika ini akan sakit…” Kejantanannya yang mengeras itu menggesek milikku yang sudah basah.

“Oh… Kyu! AHH!!” Aku mencengkram pundaknya keras, saat benda asing itu menerobos penghalangku.

Omonaa…..” Dia mengerang, aku mengerutkan dahiku. Sungguh! Ini benar- benar perih. Aku semakin mengeratkan peganganku, dia melumat bibirku.

“AKHH!!” Dalam satu hentakan, benda itu lolos. Miliknya mengisi penuh pusat tubuhku, dan itu sakit.

“ohh…” Dia merintih. Kami saling menatap. Dahinya penuh dengan peluh, dia sangat seksi!

“Nghh… Kyu!” Rintihku, dia menggerakkan tubuhnya. Miliknya yang keras menghantam diriku. Ini sedikit perih, tapi cukup nikmat.

“Ahh, Kyu! Kumohon…” Aku terus merintih. Oh, gairah memang menghilangkan akal sehatku.

“Apa??” Tanyanya. Suaranya sangat pelan dan serak, menyulutkan api dalam gairahku.

“oh… Kumohon kyu….” Sial! Dia kembali menyeringai. Damn! Dia memperlambat gerakan tubuhnya.

“Kyuhyun…. Kumohon….”

“Apa sayang??” Dia menghentikan gerakan tubuhnya. Sial!

“Kyu… Lebih cepat!” Kini aku memohon padanya, aku sangat ingin dia bergerak.

“Seperti ini??” Dia bergerak pelan. Oh, ini menyiksaku!

“Lebih cepat, kumohon!”

“Seperti ini?? Ohh” Dia bergerak lebih cepat lagi, dan lagi.

“Ohh, yeah! Yes please.” Dia mempercepat gerakannya. Menghasilkan perpaduan nada antara decitan tempat tidur dan desahan kami.

“Oh….. Kyuhyun.” Aku melantunkan namanya dalam setiap desahanku.

“Kyuhyun!” Kami meraih puncak saat dia menghujamkan gerakan terakhirnya.
.
.
.

“Sial!!” Aku mendengarnya. Dia mengumpat saat melepas miliknya, aku terlalu lelah untuk melihat apa yang terjadi.

“Kau telah menipuku jalang!” Aku membuka mataku lebar. Apa?? Jalang??

Saat aku duduk, dia pergi. Amarah terbakar, itu terlihat dari matanya. Dia membanting pintu dengan sangat keras, aku sangat bingung apa yang telah terjadi. Tubuhku terlalu lelah, dan sangat sakit pada daerah sensitifku.

‘Please tell me why??’

.
.
.

Seminggu telah berlalu semenjak kejadian itu, Kyuhyun tak pernah kembali. Malam ini aku memeluk diriku sendiri menghilangkan rasa dingin yang menusuk kulit.

‘Ding… Dong…’

Aku membuka pintu, sesosok pria yang satu minggu pergi dari hadapanku. Tanpa alasan yang jelas dan kenapa.

“Kyuhyun!”

Mianhaeyo…..

End (or TBC)

Hai hai… Saya kembali dengan ff baru! Untuk The Reason mungkin akan saya kirim ke FlyingNC pada tanggal 1 mei atau 18 mei… Ditunggu yaaa…

Posted from WordPress for Android