Category Archives: romance

The Reason Chapter 10

The Reason Chapter 10

thereasoncover

Author :

• HanneulKim

Title :

• The Reason Chapter 10 –Kesalahpahaman –

Category :

• Friendship, Yadong, NC-17,Chapter

Cast :

• Cho Kyuhyun

• Kim Hyuna (OC/ Bukan HyunA 4minute ya… eh tapi, tergantung pemikiran kalian deh.. hehe J)

Other cast :

• Lee Sungmin

• Choi Siwon

• Find other

Warning!!! Typo bertebaran…. Siapkan hati dan fikiran anda… terutama kantong muntah…

Happy reading Guys :*

Pagi ini begitu dingin, warna putih telah mendominasi seluruh kota. Salju yang turunlah menjadi penyebab utamanya. Mereka begitu sejuk, membuat siapapun terbuai olehnya. Begitu pula Hyuna, perempuan itu masih larut dalam selimutnya. Suhu yang cukup dingin bergesekan dengan kulitnya yang telanjang, membawanya lebih khusyuk kedalam mimpinya.

‘Kring… kring…’

“Sial!” Dia mengumpat pelan. Dengan terpaksa, ia beranjak dari tempat tidurnya. Dalam beberapa saat, dia baru menyadari bahwa pria itu tidak lagi tidur disampingnya.

“Kemana dia??” Hyuna berjalan pelan sembari memunguti pakaian yang berserakan di lantai. Mengingat apa yang terjadi semalam membuat pipinya memerah.
.
.

“Eommanim…” Hyuna menyapa seorang wanita paruh baya yang tengah dengan berbagai macam peralatan didapur. Semenjak pulang dari Hawai, mereka memilih untuk tinggal dirumah orang tua Kyuhyun. Well, sebenarnya mereka tidak begitu mempermasalahkan mengenai tempat tinggal. Mengingat, rumah orang tua mereka letaknya bersebelahan.

“Ah, Hyuna-ya. Kau sudah bangun rupanya!” Hyuna berjalan mendekat kearah Ibu mertuanya itu.

“Ne, apa ada yang bisa kubantu??” Tanya-nya. Saat ia hendak memegang pisau, sebuah tangan mencekalnya.

“Tidak perlu! Kau hanya perlu duduk manis disana, sayang! Aku yakin kau pasti lelah!” Mertuanya itu mengedipkan matanya jahil. Hyuna tersipu mendengar maksud terselubungnya itu. Matanya menyusuri setiap sudut ruangan, mencoba menemukan jejak- jejak Kyuhyun disana.

“Jika kau mencari ‘suamimu’ maka kau tak akan menemukannya disini, sayang! Dia sedang berlari pagi diluar.” Dia menghembuskan nafasnya. Bagaimana aku bisa melupakan kebiasaannya?? Bodoh!

Hyuna duduk diam dikursinya, menatap punggung wanita paruh baya itu penuh tanya. Kelembutan dan kehangatan yang diberikannya sama sekali tidak menggambarkan sosok ibu tiri, ataupun sosok perempuan perebut suami orang. Kasih sayangnya sungguh berbeda. Dia tampak menyayangi Kyuhyun sebagaimana darah dagingnya sendiri.

Ya, Kyuhyun memiliki ibu tiri yang selama ini ia panggil Eomma. Wanita itu begitu menyayangi Kyuhyun, bahkan melebihi kasih sayang ibu kandungnya sendiri. Ibu kandungnya bahkan meninggalkan luka yang sangat dalam dan berbekas dihatinya. Kalian akan mengerti apa yang kumaksudkan, bukan?

“Hyuna-ya! Jangan melamun terus.” Ucapnya lembut. Hyuna tersenyum pada wanita paruh baya itu. Dia menggeleng- gelengkan kepalanya pelan. Aku tahu maksudnya! Pipinya bersemu merah.


“Kyuhyun!” Pria itu menoleh. Namun tetap berkonsentrasi pada jalanan yang terhampar didepannya.

“Ada apa??” Hyuna berfikir sebentar. Apa sudah saatnya aku menanyakan hal itu padanya??

“Ah, tidak jadi.” Mereka terus diam. Perjalanan itu menjadi sangat panjang karena keanehan yang mereka buat sendiri.

“Kyu.. Apa nanti siang kau ada acara??” Kyuhyun menggeleng pelan.

“Kurasa tidak, ada apa??”

“Bagaimana jika kita makan siang bersama??” Matanya berbinar. Dia sangat ingin menikmati makan siang yang indah bersama suaminya itu.

“Baiklah, nanti akan kujemput.” Pria itu masih tetap berkonsentrasi pada jalanan dihadapannya. Tak lama, mobil yang mereka kendarai berhenti disebuah klinik tempat Hyuna bekerja.

“Aku pergi dulu, Kyu! Hati- hati dijalan.” Cupp. Hyuna mengecup pipi Kyuhyun , sebelum akhirnya memilih keluar dari mobil itu. Sementara Kyuhyun hanya diam, mencoba mengenali getaran aneh yang terus bergelayut manja didalam relung hatinya.


“Kau telah merebut suamiku! Dasar jalang!” Seorang yeoja maju beberapa langkah, wajahnya memerah menahan amarah. Dia berjalan mendekati perempuan lain yang tengah berdiri di hadapannya dengan ekspresi cemas.

“Kau salah, eonnie! Aku tak pernah merebutnya darimu, ini semua hanya salah paham!” Dia semakin merasa takut saat wanita itu semakin mendekat.

“Salah paham??!” Teriaknya. Suaranya menggelegar, terdengar begitu menyeramkan.

“Salah paham katamu, setelah bukti yang kuterima saat ini??” Dia menunjuk kearah perempuan itu, masih dalam nada yang cukup tinggi.

“Tidak, eonnie! Ini tidak seperti yang kau pikirkan!” Wanita yang dipanggil ‘eonnie’ itu mendenguskan nafasnya.

“Apa yang kau tahu tentang pikiranku??” Desisnya. Nadanya sangat pelan, namun mencekam. Wanita itu tertawa mengejek.

“Kau tak akan pernah tau, karena kau dan bayi sialanmu itu merebut segalanya dariku! Segalanya, sampai tak tersisa sedikitpun!” Perempuan itu mematung.

“Maafkan aku, eonnie. Ini semua salahku, apa yang harus aku lakukan untuk menebus segalanya??” Dia menangis. Beban yang berat menghimpit dadanya, dia tak pernah tau ini akan menyakiti wanita itu.

“Tak ada satupun yang bisa kau lakukan kecuali…” Wanita itu menyeringai, kemudian melanjutkan kalimat mengejutkannya.

“Tinggalkan Kyuhyun, dan menjauhlah dari kehidupan kami. Selama- lamanya!”


“Kyu, bolehkah aku bertanya sesuatu padamu???” Tanya Hyuna setelah menghabiskan suapan terakhir dipiringnya. Kyuhyun hanya menjawabnya dengan sebuah gumaman, karena pria itu masih asyik dengan makanan dihadapannya.

“Apa kau… err, menyayangi Ibumu??” Kyuhyun menghentikan makannya, menatap Hyuna dengan diam.

“Kau tak harus menjawabnya sekarang, Kyu. Aku akan menunggu kapanpun kau akan siap dengan jawabanmu!” Kyuhyun masih diam.

“Kyu, ayo lanjutkan saja makanmu! Anggap saja aku tak pernah menanyakan hal ini padamu!” Hyuna meletakkan tangan pria itu kembali pada tempat terakhirnya, dengan sendok dan garpunya. Tak lama, Kyuhyun melanjutkan kegiatannya dalam diam.

Hening melanda mereka, suasana canggung yang cukup kental begitu mengganggu. Kyuhyun menyelesaikan makannya, pria itu menatap piringnya yang telah bersih. Dia bingung, pertanyaan itu begitu membingungkan dan menyakitkan. Dia memiliki dua sosok Ibu yang ia kenal. Keduanya memiliki sifat yang berkebalikan, yang tidak seharusnya.

“Hyuna-ya…” Dia mendongak. Menatap Kyuhyun yang masih setia dengan piringnya.

“Hmm??”

“Aku berjanji akan menjawab pertanyaanmu, jika aku mampu.” Mereka saling bertatapan. Hyuna melemparkan senyumannya pada Kyuhyun, kemudian dia berdiri dan mengamit lengan Kyuhyun.

“Ya, tentu. Nah, kita memiliki pekerjaan lain sekarang. Ayo, jam makan siang sudah hampir habis!” Pria itu menyambutnya dengan sukacita, mereka berjalan beriringan. Hyuna berharap akan selalu ada pada posisi seperti ini selamanya.
.
.
Hyuna kembali ke klinik tempatnya bekerja dengan penuh senyum kebahagiaan. Namun, semuanya luntur seketika saat sebuah pemandangan mengacaukan penglihatannya. Seorang gadis yang begitu ia kenal tengah duduk manis di ruang tunggu, dia mengelus perutnya. Semua itu terasa tidak masuk akal baginya, baru satu bulan berlalu dan kini semuanya terasa sangat aneh. Tidak sesuai dengan waktu dan keadaan.

“Kim Haneul??” Perempuan itu mendongak. Ekspresinya terkejut saat melihat Hyuna yang menatapnya dalam ekspresi yang sama.

“Kau Kim Haneul kan??” Gadis itu berdiri dengan gugup, kemudian mengangguk pelan pada Hyuna.

“Nona Kim Haneul!” Seorang perawat keluar dari sebuah ruangan dan menghentikan niatan Hyuna untuk meminta penjelasan. Haneul berlalu menuju praktek dokter kandungan, menyisahkan kebingungan bersama Hyuna.

Hyuna menunggu Haneul didepan ruangan pemeriksaan di klinik itu. Dia ingin mengetahui cerita sebenarnya, apa yang menjadi kebenarannya. Sementara itu, Haneul memandang resah kearah dokter yang tengah memeriksakan keadaannya.

Dokter itu tersenyum pada Haneul, dan mengarahkan sebuah benda ke perut buncitnya yang teroleskan gel. Beberapa saat kemudian, keresahannya meluntur seketika begitu ia melihat gambaran kehidupan di perutnya. Hatinya menghangat, dia tak pernah merasa sebahagia ini sebelumnya. Merasa hidupnya tak selalu tidak berguna, dia merasa sangat diinginkan.

“Kandungan anda sangat sehat, nyonya. Saya harap anda dapat menjaga kesehatan anda, tidak terlalu lelah, atau stres, karena itu bisa mempengaruhi kehamilan anda!” Dokter itu membuyarkan lamunannya, kemudian menjelaskan hal- hal yang dibutuhkannya pada waktu yang akan datang.

Pertemuan itu berakhir sangat cepat, menurutnya. Tapi dapat membuatnya melupakan sebuah hal yang meresahkannya. Seseorang yang menanti penjelasannya dari balik pintu.

“Kim Haneul…” Dia menoleh kearah samping, dan mendapati Hyuna yang sedang duduk dikursi tunggu. Perempuan itu menampilkan wajah yang membutuhkan penjelasan padanya.

“Bisa kau ikut aku keruanganku, sekarang??” Tanyanya datar. Dengan pelan dan ragu, Haneul mengangguk. Gadis itu mengikuti Hyuna masuk kedalam ruangannya.


“Mianhaeyo, eonnie.”

“Kenapa kau harus meminta maaf padaku??” Hyuna mendengus. Dia belum mengerti kenapa gadis itu langsung meminta maaf padanya, memangnya dia punya salah apa??

“Aku telah merebut paksa Siwon oppa darimu…” Gumamnya pelan. Dia masih menunduk. Hyuna mendesah pelan.

“Memangnya aku memanggilmu untuk menanyakan hal itu??” Hyuna bertanya dengan ketus, sambil memegang pinggang.

“Tapi, hal itu mungkin berhubungan…”

“Apa??” Ucapnya saat mendengar bisikan Haneul. Namun, gadis itu hanya menggeleng pelan dan menunduk. Hatinya resah dan gelisah.

“Jadi bagaimana kau bisa memiliki perut sebesar ini, sementara kalian baru menikah satu bulan lamanya!” Haneul hanya diam. Dia masih takut untuk bersuara, atau tepatmya malu.

“Tapi, eonnie…” Dia terlihat ragu untuk menyampaikan kalimatnya.

“Kurasa ini bukan urusanmu…”Jawaban gadis itu membuat Hyuna bungkam. Ini memang bukan urusannya, dan seharusnya dia tak perlu perduli dengan kehidupan mereka. Karena dia memiliki kehidupannya sendiri.


“Hei!! Kenapa melamun?? ayo dimakan!” Ucap Kyuhyun yang menyadarkan Hyuna dari lamunannya. Perempuan itu melanjutkan makan malamnya, sementara otaknya masih terus berputar.

“Hyuna-ya!” Panggil Kyuhyun. Hyuna langsung menoleh padanya dan mengangkat satu alisnya.

“Ada apa, Kyu??”

“Mengenai pertanyaanmu tadi itu…” Kyuhyun terlihat ragu dengan kalimatnya.

“Tidak usah dijawab dulu, jika memang kau belum mau!” Kyuhyun menggeleng. Dia harus menjawab pertanyaan itu sekarang.

“Aku tidak tahu, apa yang kau maksud Ibu kandung atau Ibuku yang sekarang…” Kyuhyun memulai kalimatnya dengan satu tarikan nafas.

“Aku berbohong jika aku bilang aku tidak menyayangi Ibu kandungku… tapi, kau tahu bagaimana kejamnya dia saat aku kecil, dan itu membuatku ingin melupakannya!” Sambungnya.

“Mengenai Ibuku yang sekarang, aku sangat menyayanginya meskipun dia bukan Ibu kandungku! Tapi ada satu fakta yang membuatku meragukan kasih sayangku padanya…” Kyuhyun terlihat sedih.

“Apa itu?? Jika kau ingin memberitahuku!”

“Ibuku yang sekarang… adalah penyebab Ayah dan Ibuku berpisah, kau akan mengerti itu..”

‘Apa??’


“Eonnie…. Maafkan aku! Aku tidak bisa pergi darinya…” Seorang wanita yang terlihat tengah berlutut dihadapan seorang wanita yang lebih tua darinya.

“APA?!” Wanita yang lebih tua itu terlihat murka, api yang membara tergambar jelas dari kedua bola matanya.

“Sungguh! Kau wanita tidak tahu diri! Harusnya kau itu bersyukur karena orang tuaku masih mau mengurusmu, tapi apa yang kau perbuat?? Kau bahkan merebut suami kakakmu sendiri!” Teriaknya. Suaranya begitu menggambarkan apa yang dia pikirkan.

“Bisa tidak bisa, mau tidak mau, kau harus pergi darinya!”

“Eonnie, aku mungkin bisa meninggalkan Yeunghwan oppa… tapi tidak untuk putraku!” Wanita yang lebih tua itu tertawa pahit.

“Ya, seperti yang sudah aku katakan! Bisa ataupun tidak bisa, kau harus pergi dari kehidupan mereka!”

“Aku tetap tidak bisa, eonnie! Ibu mana yang bisa meninggalkan anaknya sendiri?? Bahkan hewanpun tidak mau meninggalkan anaknya…” Wanita yang lebih muda itu mencoba melawan.

“Kim Jihyun!”

“Eonnie… aku akan tetap pergi dari kehidupanmu! Tapi, izinkan aku membawa Kyuhyun bersamaku!” Suaranya melembut. Dia memohon pada wanita yang lebih tua darinya itu.

“Tidak!” Dia menggeleng keras.

“Jikyung Eonnie, pikirkan jika kaulah yang jadi aku! Bagaimana perasaanmu jika Ahra diambil secara paksa darimu??” Pandangan Jikyung melunak, tapi sebagian hatinya masih diselimuti oleh kebencian, trauma, dan dendam yang masih membara.

“Apa kau tidak pernah berfikir, jika kau yang jadi aku!!” Jikyung meninggikan suaranya. ‘Apa yang dia tau tentang bagaimana rasanya kehilangan itu??’ Bathinnya.

“Apa yang kau tahu tentang diriku??” Dia bertanya. Kali ini, nada suaranya terdengar begitu memilukan.

“Kau yang selalu ditatap Appa!! Kau yang selalu dibanggakan Appa!! Kau yang merebut Appa dari kami!! Kau dan Ibumu itu sama saja!!” Nadanya kembali berubah, seluruh intonasinya dipengaruhi oleh kebencian yang mendalam.

“Apa yang kau tahu tentang rasa sakit?? Apa yang kau tahu rasa sakit yang kualami ketika eomma melampiaskan kebenciannya pada Appa kepadaku?? Apa yang kau tahu tentang itu??” Jihyun terdiam, wanita itu benar!

“Dan akan kubuat Kyuhyun merasakan sakit yang kurasakan seumur hidupnya!”


“Yang aku tahu, Ibuku dan Ibuku yang sekarang adalah saudara tiri…” Kyuhyun menceritakan kisahnya, sebuah pengantar tidur bagi Hyuna.

“Kakek selalu memanjakan Jihyun eomma, tapi dia tak begitu memperhatikan nenek dan eomma..” Hyuna tengah berbaring, kepalanya beralaskan salah satu lengan Kyuhyun. Dia mendengarkan setiap kata yang diucapkan Kyuhyun tanpa terlewat satupun.

“Aku tak tahu apa yang terjadi pada mereka… tapi, menurutku ada sesuatu yang salah dari semua ini!” Ungkapnya lagi.

“Terlebih, aku merasakan ada hubungan yang kuat antara aku dan Jihyun eomma. Aku sendiri tidak mengerti, seharusnya aku membencinya bukan??” Hyuna menatap Kyuhyun, membelai pipi tembam pria itu.

“Tidak, Kyu! Bisa saja semua ini hanya salah paham…” Kyuhyun memejamkan matanya sebentar.

“Entahlah! Tapi semua yang kuingat mengatakan begitu, Jihyun eomma telah merebut appa, dan menyebabkan kepergian Ahra noona….” Hyuna menggeleng lagi.

“Kau tidak tau pasti apa yang terjadi, bukan?? Kenapa tidak kau tanyakan langsung saja??”


“Kyuhyun sayang…” Jihyun memanggil pria kecil yang tengah memainkan benda kecil persegi panjang itu dengan lembut.

“Ahjuma…”Kyuhyun mendekatinya, dan memeluknya erat melupakan mainan favoritnya. Baginya, wanita itu adalah seorang malaikat yang turun dari langit.

“Mulai sekarang, jangan panggil Jihyun ahjumma lagi, tapi panggil dia eomma!” Ucap ayahnya dari balik Jihyun, Kyuhyun menatap Ayahnya takut.

“Shireo!” Kyuhyun kecil melepaskan pelukannya. Dia memandang raut Jihyun yang penuh dengan kekecewaan.

“Mau ataupun tidak, kau harus memanggilnya eomma!” Ucap Ayahnya tegas. Namun, Kyuhyun belum bisa menerima permintaan ayahnya itu. Karena, menurutnya eomma nya hanya satu! Orang yang dipanggilnya eomma itu adalah sesosok monster yang selalu memukulinya. Dia tidak ingin Jihyun berubah menjadi monster saat Kyuhyun memanggilnya eomma.

“Andwe…” Kyuhyun kecil terus menggelengkan kepalanya. Dia tidak ingin mengulangi masa- masa menyakitkan itu lagi.

“Kyuhyun!”


“Eomma…” Kyuhyun memanggil ibunya dengan pelan, nyaris berbisik. Wanita itu berbalik, mengalihkan perhatiannya dari peralatan masak.

“Eomma…” Kyuhyun memikirkan kembali pertanyaan yang akan diajukannya. ‘Kenapa eomma menikahi Appa??’

“Mworago??” Tanyanya lembut. Kyuhyun hanya menggelengkan kepalanya dan tersenyum simpul.

“Tidak ada..” Dia kembali teringat kata- kata Hyuna semalam. ‘Kau tidak tau pasti apa yang terjadi, bukan?? Kenapa tidak kau tanyakan langsung saja??’

Dia sangat ingin mengetahui hal yang sesungguhnya, agar tidak terjadi kesalah pahaman. Tapi, hati kecilnya mengintruksikan agar dirinya tidak bertanya. Semuanya menjadi serba salah.

Hyuna melihat kebimbangan di mata Kyuhyun, wanita itu hanya diam dan mengawasi dari balik tembok pembatas ruang makan dan dapur. Mungkin Kyuhyun punya jalan sendiri untuk dirinya, dan Hyuna beranggapan dia tak punya hak untuk itu.

.
.

“Hyuna-ya??” Kyuhyun memanggil dengan pelan. Dia menoleh, menaikkan salah satu alisnya.

“Dulu sewaktu aku kecil, aku tidak pernah memanggil Ibuku dengan sebutan eomma…” Hyuna mendengarkan Kyuhyun. Suaminya itu mulai membuka dirinya, dan dia akan bercerita.

“Kenapa???” Hyuna tidak ingin terlalu banyak bertanya. Dia tidak mau merusak mood Kyuhyun yang sedang menceritakan masa lalunya.

“Karena, seorang yang akan kupanggil eomma akan menjadi sebuah monster yang sangat menyeramkan… Dan aku tidak ingin Ibu (Red: Ibu tiri) akan menjadi seperti eomma yang selalu memukulku dan noona! Tapi, dengan paksaan Appa akhirnya aku terbiasa memanggilnya eomma….” Dia menghela nafasnya pelan. Tapi itu semua belum apa- apa hingga Kyuhyun melanjutkan kalimatnya yang lebih mengejutkan.

“Aku tidak ingin menyayangi seorang perempuan, karena aku takut mereka meninggalkanku! Seperti Ahra noona dan eomma…”

.
.

“Hyuna-ya… Neo gwaenchana??” Kulit putihnya terlihat pucat, tubuhnya kaku, keringat dingin membasahi tubuhnya. Sedari tadi dia hanya menatap makanan siangnya tanpa minat, perutnya memang lapar tapi dia tidak sedang ingin makan saat ini.

“Ya, aku tidak apa- apa Dr. Kim!” Ucapnya.

“Jika kau memang tidak apa- apa, kenapa makanannya tidak dimakan??” Hyuna memandang makanannya tanpa minat.

“Tidak, aku hanya tidak sedang berselera! Kurasa aku terkena demam musim salju, ha-ha!” Candanya.

“Ada- ada saja kau ini! Apa itu demam musim dingin?? Selama aku menjadi dokter aku tidak pernah mendengar nama penyakit seperti itu…” Ucap Dr. Kim disela tawanya.

“Itu artinya, namaku bisa dimasukkan dalam sejarah!”


“Hhh… panas sekali..” Hyuna terbangun tidurnya. Langit masih belum menampakkan sinarnya. Malam itu, seluruh tubuhnya terasa panas, kepalanya juga terasa berputar.

“Apa yang terjadi denganmu, Hyuna-ya??” Kyuhyun yang melihat kegelisahan Hyuna tampak kebingungan.

“Tubuhku panas sekali…” Dia menyentuh kepala dengan punggung tangannya. Kyuhyun menatap Hyuna curiga, pria itu menautkan alisnya.

“Jangan- jangan…” Kyuhyun menggantungkan kalimatnya. Hyuna menatap bingung Kyuhyun yang pergi meninggalkannya menuju kamar mandi.

“Kau tidak minum obat ‘ini’ lagi kan??” Kyuhyun menodongkan obat ‘terlarang’ itu pada Hyuna. Obat yang menjadi penyebab tragedi malam pertama itu terjadi.

“Tentu saja tidak, bodoh!” Hyuna melempar Kyuhyun dengan bantal yang terbaring rapi disampingnya.

“Ya, mungkin saja kan?? Hey! Bukankah dia yang bodoh??” Gerutu Kyuhyun yang masih dapat didengar Hyuna, meskipun pria itu tengah melangkahkan kakinya kembali menuju ke kotak first aid disudut kamar.

“Aku mendengar itu, Cho Kyuhyun!”

.
.

“Kyuhyun….” Erang Hyuna dalam tidurnya. Kyuhyun yang berbaring disebelahnya itu terbangun karena Hyuna sedari tadi terus memanggil namanya.

“Hey… Hyuna- ya!” Kyuhyun menepuk pipinya pelan. Kyuhyun semakin panik saat kulit mereka bersentuhan, suhu tubuhnya sangat panas.

“Kyuhyun… uhhukk.. uhhukk..” Hyuna mengerang lagi sambil terbatuk.

“Hey bangun….” Kyuhyun menepuk pipinya lagi. Dia harus memastikan, apakah gadis itu masih sadar atau tidak.

“Kyuhyun!” Matanya yang merah itu terbuka, Hyuna menatapnya sendu sambil meracaukan hal yang tidak jelas.

“Kyuhyun cium aku… uhhukk… uhuukk..” Kyuhyun menaikkan salah satu alisnya bingung.

“Hey… kau ini kenapa??” Dia menepuk pipi Hyuna lagi.

“Kyuhyun cium aku… uhkk..”

“Hyuna kau ini… hmnpphh.” Ucapan Kyuhyun terpotong saat bibir perempuan itu membungkamnya. Hyuna mencium Kyuhyun dengan kesadaran yang rendah, namun permainannya mampu memancing gairah pria itu. Hingga akhirnya, Kyuhyun membalas ciuman Hyuna. Dia menyusupkan lidahnya kedalam mulut panas Hyuna.

“Kyuhh…” Hyuna mendesah pelan saat tangan liar Kyuhyun meraba tonjolan(?) kembarnya. Kegiatan mereka bertambah panas saat kecupan- kecupan nakal Kyuhyun berpindah kelehernya, dan meninggalkan jejak disana.

“Uhukk… uhhukk… Kyuhyun… Uhkk.” Kyuhyun tersadar. Pria itu terlalu larut dalam gairahnya, dia sampai lupa kalau Hyuna sedang sakit.

“Mianhae- yo… Aku akan mencarikan obat flu untukmu!” Kyuhyun menghentikan kegiatan mereka, pria itu beranjak menuju kotak first aid yang terletak disudut kamar. Dengan teliti, dia mengambil botol putih itu.


“Dr. Kim, mianhae sepertinya aku tidak bisa masuk bekerja hari ini uhhkk. Aku sedang terkena flu, hachimmm.” Hyuna sedang menelpon. Dia terlihat cukup sulit untuk berbicara, karena batuk dan bersin yang selalu mengganggu.

‘….’

“Oh ne… Tentu saja, uissa-nim! Oh, kau baik hati sekali… maaf merepotkanmu.”

‘…..’

“Ne, gamsha hamnida… Anyeong.” Dia memutus sambungan telepon itu. Huh, Hyuna sangat membenci saat- saat dimana dia harus terserang penyakit.
Dimana dia tidak akan bisa pergi kemana- mana dan kesepian dirumah. Kyuhyun sudah berangkat ke kantor tadi pagi, begitu pula dengan Ayah mertuanya. Kini, dia hanya berdua dirumah dengan sang Ibu mertua yang tengah sibuk didapur.

‘knock.. knock..’

“Hyuna- ya, apa kau sudah bangun??” Suara lembut Ibu mertuanya terdengar dari balik pintu.

“Ne… Silahkan masuk hhk.. uhhk, eomma-nim.” Jawabnya sambil berusaha bangun dari ranjangnya. Seluruh tubuhnya terasa lemas, kepalanya juga ikut berputar. Jika dipaksakan, mungkin dia akan berakhir pada toilet.

“Apa kepalamu masih pusing, sayang??” Ucap wanita paruh baya itu sambil membawa seperangkat sarapan disertai obat flu milik Hyuna yang baru saja diambilnya dari sudut kamar.

“Ne, eomma. Tapi, sudah lebih baik dibanding semalam hachim…” Jawabnya. Ibu mertuanya pun duduk disisi ranjang dan menempatkan nampan berisi bubur dan lain- lain itu di atas pangkuan Hyuna.

“Ayo dimakan, sayang! Kau harus sarapan dulu, lalu minum obat.” Ucapnya lembut. Hyuna mengangguk dan memulai sarapannya. Dia harus makan jika ingin sembuh, walaupun semua yang melewati tenggorokannya terasa hambar dan terkadang pahit.

“Gomawo-yo, eomma.” Ucap Hyuna setelah dia menghabiskan menu sarapannya, dan meminum obat flu.

“Eomma-nim…” Panggil Hyuna pelan saat ibunya itu beranjak dari sisi ranjangnya. Wanita paruh baya itu berbalik dan memberikan senyuman terhangatnya.

“Apa, sayang?? Ada sesuatu yang kau butuhkan??” Tanyanya dengan nada yang sangat lembut. Hyuna menggeleng, dia hanya ingin bertanya satu hal.

“Tapi… Bolehkah aku bertanya beberapa hal padamu, eomma-nim??” Jihyun kembali duduk disisi ranjang tadi dan meletakkan nampan yang dibawanya di meja samping ranjang.

“Tentu saja!”

“Ini mengenai masa kecilnya Kyuhyun…” Hyuna memelankan suaranya, terlebih saat melihat Ibu mertuanya itu terdiam. Wanita paruh baya itu menatap Hyuna sendu.

“Tidak perlu diceritakan jika eomma…”

“Tidak, tak apa! Hal yang wajar jika seorang istri ingin mengetahui masa lalu suaminya…” Jihyun tersenyum, yang Hyuna tau itu hanyalah sebuah senyum paksa. Ada sesuatu yang pahit yang di sembunyikannya.

“Ya…” Ucap Hyuna pelan. ‘Andai kau tahu, eomma! Aku melakukan semua ini karena aku ingin Kyuhyun kembali normal….’

“Eomma, apa kau sangat menyayangi Kyuhyun??” Tanya Hyuna pelan. Jihyun tersenyum penuh kasih sayang.

“Tentu saja, tidak ada ibu yang tidak mencintai anaknya…” Ucapnya penuh kebahagiaan.

“Bahkan, jika aku harus menukarkan nyawaku dengannya… aku rela, sayang!” Lanjutnya lagi.

“Mianhae, eomma…” Hyuna tertunduk, dia merasa sangat bersalah karena telah meragukan kasih sayang yang telah diberikan Jihyun pada suaminya.

“Aniya, gwaenchanna… Memang sudah wajar jika kau meragukan kasih sayangku pada Kyuhyun mengingat statusku yang hanya…”

“Bagi Kyuhyun, eomma merupakan orang yang paling dia sayangi…” Hyuna memotong kalimat Jihyun. Kemudian mereka saling berpelukan, penuh kasih dan sayang.

“Terima kasih karena sudah mendampingi Kyuhyun….” Ucap Sang Ibu mertua. Hyuna menggeleng pelan dan berkata.

“Seharusnya aku yang berterima kasih karena eomma mau menerimaku sebagai menantu dirumah ini…”

.
.

“Hyuna- ya… uhhkk…” Kyuhyun memanggil Hyuna saat dia memasuki kamar. Kyuhyun tampak pucat dan kelelahan. Hyuna yang berbaring diatas ranjang langsung berdiri dan melihat Kyuhyun khawatir.

“Hei… Apa kau baik- baik saja??” Suaranya menggambarkan kekhawatiran yang wanita itu rasakan. Dia berdiri dari tempat tidur, dan membantu Kyuhyun untuk duduk disofa dekat jendela.

“Tenggorokkanku sakit sekali… uhhk.. Apa kau sudah merasa lebih baik??” Kyuhyun terbatuk. Hyuna memandang Kyuhyun penuh penyesalan.

“Ya, aku merasa cukup sehat hari ini… Maaf, mungkin aku sudah menularkan penyakitku padamu…” Ucapnya penuh penyesalan.

“Ya… Tapi, aku suka caramu menularkannya padaku.” Kyuhyun tertawa genit. Hyuna hanya menatap Kyuhyun dengan tidak mengerti.

“Maksudmu?? Memangnya, bagaimana aku menularkan penyakitku padamu??” Tanya Hyuna penasaran. Kyuhyun mengacak rambut Hyuna pelan dan tertawa.

“Untuk yang satu itu, anak kecil sepertimu tidak boleh tau.” Ucapnya tenang sambil sesekali terbatuk.

“Yak!!! Cho Kyuhyun!!” Hyuna berteriak saat menyadari maksud terselubung Kyuhyun, walaupun dia mengabaikan fakta mengenai pipinya yang memerah.

“Ssstt! Berisik… uhukk..” Kyuhyun menutup mulut wanita itu dengan sebelah tangannya sambil berdiri.

“Cho Kyuhyun, apa kau sudah makan??” Tanya Hyuna setelah Kyuhyun melepaskan tangannya. Pria itu mengangguk dan berbaring, tanpa perlu melepaskan pakaian kerjanya.

“Apa sudah makan obat??” Tanpa suara, Kyuhyun menjawab dengan gelengan kepala pelan.

“Baiklah, tunggu disini! Aku akan mengambilkan obat untukmu…” Hyuna berjalan menuju sudut kamar dan mengambil sebuah botol putih dari kotak first aid, kemudian memberikannya pada Kyuhyun lengkap dengan air putihnya.

“Ini obatnya dimakan…” Kyuhyun langsung bangkit dari tidurnya, kemudian memakan obat yang diberikan Hyuna padanya.

.
.

“Hyuna- ya…” Kyuhyun memanggil Hyuna pelan, dia mencoba membangunkan wanita itu dari tidurnya. Namun, tidak ada tanggapan yang diberikan.

“Hyuna- ya…” Hyuna menggerakkan tubuhnya pelan, tapi belum juga membuka matanya. Kyuhyun menjadi kesal melihat Hyuna yang tidak kunjung bangun dari alam bawah sadarnya.

“Yak!! Hyuna-ya, ayo bangun…” Kyuhyun menaikkan nada suaranya. Pria itu menatap Hyuna dengan kesal. Bagaimanapun, Hyuna harus bangun dari tidurnya untuk membantunya. Entah apa yang diberikan perempuan itu padanya semalam, dia merasa kepanasan.

“Hmmm…” Setelah banyak usaha yang Kyuhyun lakukan, dia hanya mendapatkan gumaman aneh sebagai jawabannya.

“Hah… eottokhae???” Kyuhyun melepaskan piyamanya. Dia juga menyalakan AC dengan suhu yang cukup dingin. Hyuna yang tertidur lelap merasa kedinginan, dia lantas bersembunyi di balik bed cover. Sementara itu, Kyuhyun merasa gelisah karena suhu tubuhnya, terlebih bagian bawahnya yang menegang entah karena apa.

“Kyuhyun!! dingin!” Gumam Hyuna saat Kyuhyun menarik paksa bed cover itu dari tubuhnya.

“Kyuh… hhmmmph…” Belum sempat dia melayangkan protesnya yang kedua kali, pria itu langsung membungkamnya dengan ciuman yang penuh dengan gairah.

“Hah.. Kau ingin membunuhku ya???” Teriak Hyuna dengan terengah, saat Kyuhyun melepaskan bungkamannya. Mata merah Kyuhyun menatap Hyuna seperti seekor singa yang hendak menerkam mangsanya.

“Hyuna- ya…” Panggil Kyuhyun dengan suara seraknya. Hyuna hanya menaikkan sebelah alisnya melihat tingkah aneh Kyuhyun.

“Kau ini kenapa sih??” Kyuhyun mendekatkan wajahnya ke wajah Hyuna, membuat mereka saling merasakan deru nafas masing- masing.

“Aku… uhkk, butuh bantuanmu…” Jawabnya sambil sedikit terbatuk.

“Apa?? Apa masih sakit??” Hyuna memandang Kyuhyun khawatir. Tangannya sibuk memeriksa suhu tubuh Kyuhyun di kepalanya. Namun, tangan Kyuhyun memegang tangan Hyuna yang berada dikepalanya.

“Aku tidak butuh bantuan disitu… tapi disini….” Kyuhyun menarik tangan Hyuna dari atas kepalanya.

“Kyaa…” Hyuna terlonjak kaget saat tangan Kyuhyun meletakkan tangannya diatas benda keramat milik Kyuhyun yang sedang berdiri.

Ini cuman Previewnya aja guys… buat part penuhnya tunggu di FlyingNC aja yah… maaf gak bisa update cepet… maklum lagi sibuk banget…. setelah menyelesaikan ff ini, rencananya aku mau hiatus sementara, buat persiapan UN 2016

Not a Virgin??

image

Cast : Cho Kyuhyun, Kim Hyuna and other
Category : Romance, yadong, NC- 17

.
.
.

Sorry for everything…’
.
.
.

“Kyuhyun!”

Aku menatapnya, sudah satu minggu ini aku tak bertemu dengannya. Sebuah ketidak-tahuan dapat mengakibatkan kesalah-pahaman. Aku meninggalkannya, ketidak-tahuan membuatku salah paham. Aku sangat menyesalinya!

Mianhaeyo…

.
.
****
.
.

Flashback

.

“Jangan sentuh aku, jalang!” Mereka mendengus, berjalan menjauhiku. Membawa tangan kotor mereka pada tempatnya.

‘Aku benar- benar tertipu!’ Wajah polosnya mengecohku, dia sama saja dengan perempuan- perempuan yang tengah menjajakan diri mereka disana.

“Hey bro! What’s up??” Seseorang dengan suara yang tak asing menepuk pundakku.

“None of your bussiness man!” Aku mengacuhkannya. Dia duduk disebelahku dan memesan cocktail.

Waeyo? Bukankah ini malam pertamamu??” Dia menaik-turunkan alisnya. Aku mendengus dan kembali meneguk wine-ku.

“Bukan urusanmu, Hyung!” Dia terkekeh pelan. Meneguk minumannya yang baru saja dibuatkan bartender untuknya.

“Hahaha…” Dia tertawa. Aku kembali mendengus, dan mengerutkan alisku. Dasar aneh!

“…” Aku mengabaikannya yang terus berceloteh disampingku. Emosi meluluh lantakkan pikiranku.

“Heii, tuan muda Cho! Apa masalahmu?!” Dia menepuk pundakku.

“…” Aku terlalu malas menjawab pertanyaannya, dan tenggelam dalam segelas wine ditanganku.

“Heii, katakan sesuatu!” Ucapnya. Dia menggoyangkan pundakku.

“S-E-S-U-A-T-U!” Dia tertawa lagi. Kemudian meminum segelas cocktail ditangannya.

“Huh!!!” Aku menegak tetes terakhir wine ditanganku sebelum bergegas pergi dari tempat itu.

Aku berdiri dari kursi yang kududuki, dan berjalan menjauhi bar. Namun baru beberapa langkah, tangan Siwon Hyung menarik lenganku.

“Heii! Ayo ceritakan masalahmu padaku, mungkin itu akan membantumu…” Ajaknya. Aku berbalik dan melangkah pergi menjauhinya.

‘Aku tidak butuh bantuanmu!!’

****
.
.

Hari demi hari berlalu begitu saja, tanpa kusadari ini adalah hari ketujuh aku meninggalkan apartemenku dan jalang itu! Aku lebih memilih tak memikirkannya dan sibuk dengan pekerjaanku.

Tok… Tokk.. Tokk

“SIAPA?!” Bentakku. Aku memilih tak menoleh kearah pintu.

‘Krekk’

“Sudah kubilang, aku tidak ingin diganggu!”

“Kyuhyun, berani- beraninya kau membentakku!!”

Sial!! Aku telah membentak seseorang yang salah. Dan, dia akan melaporkan kelakuanku pada ibu dirumah.

“Maaf! Aku tak tahu kalau yang datang itu kau, kakak sepupuku!” Aku lebih memilih tidak menatapnya dan kembali keberkas- berkas dihadapanku.

“Karena aku sedang berbaik hati, jadi kau ku maafkan.” Dari sudut mataku, dia sedang duduk di sofa sudut ruangan ini.

“Ada perlu apa kau kemari, Haneul-ah??” Seharusnya aku tak perlu menanyakan hal itu!

“Kudengar dari Siwon oppa, kau sering sekali marah- marah dan menghabiskan malammu di club, padahal….” aahh…! Gotcha!

“Padahal kau sama sekali tidak pernah menginjakkan kaki di tempat itu lagi semenjak kau mengenal Hyuna!”

“Berhentilah menyebut nama itu dihadapanku!” Dia menatapku bingung dan terkejut.

“Kenapa??” Aku membenci satu kata yang terucap dari mulutnya itu.

“Sayangnya, itu bukan urusanmu!”

“Kenapa?? Dia istrimu kan?? Bahkan kalian baru satu minggu menikah!” Dia benar- benar bingung.

“Ya, dan hanya akan bertahan untuk beberapa hari kedepan!” Ucapku ketus.

Omonaa! Kenapa begitu Kyu?? Apa yang terjadi diantara kalian??”

“It’s none of your bussiness!” Dia terdiam sejenak. Apakah aku terlalu kasar padanya??

“Ayolah! Kyuhyun, cerita padaku. Aku tak pernah melihatmu semarah ini semenjak…”

“Jangan dilanjutkan!” Aku tidak ingin mengingatnya.

“Kalau begitu, ceritakan!” Aku menghela nafasku kasar.

“Ternyata dia sama saja dengan perempuan diluar sana…” Dia mengerutkan dahinya.

“Maksudmu??”

“Haruskah aku menceritakan kegiatanku yang paling ‘private’ padamu??” Dia mengangguk. Aku mengusap wajahku kasar.

“Apa ini ada masalahnya dengan ‘first night’ kalian??” Aku terkejut! Bagaimana dia bisa tau hal ini? Aku mengangguk pelan.

“Ya, sudah kuduga!” Dia menjentikkan jarinya keudara.

Waeyo??” Dia menggeleng prihatin padaku. Apa maksudnya???

“Seharusnya kau konsultasi dulu padaku….”

“Kenapa??” Yang benar saja?!

“Ya, mengingat aku adalah seorang konsultan….”

“Ya, Aku mengerti kau adalan seorang konsultan dalam bidang ‘Ehem- ehem’ itu..” Potong ku

“Jadi, ayo ceritakan padaku apa masalahmu!” aku menggeleng. Jujur, aku malas membicarakan hal ini.

“Bagaimana kau tahu aku memiliki masalah d bidang itu??”

Author POV

“Aku tau dari gelagatmu, tuan.” Haneul memperhatikan Kyuhyun. Tingkah yang ditunjukkan pria itu sama seperti pasien- pasiennya selama ini.

“Sekarang… Ceritakan padaku!” Kyuhyun masih enggan bercerita.

“Tidak! Aku sama sekali tidak memiliki masalah dengan hal itu, dan perkataanmu mengganggu privasi-ku.” Kyuhyun menyanggah pernyataan Haneul.

Aigooo, ceritakan padaku! I promise to not tell anyone…” Dia menatap Kyuhyun yang -Masih- dengan ekspresi bingungnya.

“Kyuhyun, aku yakin akan ada kesalahpahaman jika kau terus- terusan seperti ini!” Haneul mulai jengah.

“Ayo, ceritakan!” Kyuhyun menceritakan apa yang dialaminya. Haneul merasa sangat terkejut dan kasihan pada sepupunya itu.

“Astaga, Cho Kyuhyun! Bagaimana kau bisa berspekulasi bahwa she is not virgin anymore??” Dia menutup mulutnya.

“Ya… Kau tahu kan kalau…” Kyuhyun menggaruk- garuk kepalanya. Sulit sekali rasanya mengatakan hal yang begitu ‘Intim’ dengan wanita.

“Biasanya mereka akan berdarah saat pertama kali, bukan??” Haneul mendengus sebal.

Aigooo, Cho Kyuhyun! Kegadisan seseorang tidak ditentukan oleh berdarah atau tidaknya saat melakukan penetrasi!” Kyuhyun menatapnya bingung.

“Maksudmu?!”

“Beberapa wanita, mungkin dilahirkan tanpa selaput dara! Tapi itu bukan artinya  mereka tidak perawan!”

“Jadi, bagaimana caranya aku mengetahui dia gadis baik- baik atau bukan??” Kyuhyun mengerutkan dahinya. Pria itu marah, bingung dan sedih.

“Biasanya mereka akan merasa kesakitan, dengan kulit yang merona malu…. Kyuhyun! Mau kemana kau??” Haneul menggelengkan kepalanya, Kyuhyun telah menghilang dari balik pintu.

****

“Kyuhyun!”

Hyuna terkejut,  sementara sebagian dari hatinya menyuarakan kebahagiaan. Pria yang menghilang satu minggu itu telah kembali, dengan raut letih dan menyesalnya dia meminta maaf.

Mianhaeyo…

“Kyuhyun- ah! Gwaenchanayo??” Mereka berdua saling menatap, Hyuna sangat tidak mengerti. Mungkin, masalah ini begitu rumit untuknya. Kyuhyun menelan salivanya sebelum mengungkapkan apa yang diragukannya selama ini.

“Hyuna- ya saranghae!

End or TBC??

Holaa!!

Gimana ceritanya?? Gajekah???

Maaf kalau baru bisa publish sekarang! Soalnya aku sibuk banget dgn tugas”ku d sekolah yang udah numpuk! Hohoho

Kritik dan saran sangat dibutuhkan demi kelangsungan ff dan blog ini

Gamsha hamnida!

Posted from WordPress for Android

The Reason part. 6 -Engaged-

thereasoncover

The Reason Chapter 6
Author :
• HanneulKim
Title :
• The Reason Chapter 6 (Engaged)
Category :
• Friendship, Yadong, NC-17,Chapter
Cast :
• Cho Kyuhyun
• Kim Hyuna (OC/ Bukan HyunA 4minute ya… eh tapi, tergantung pemikiran kalian deh.. hehe J)
Other cast :
• Lee Sungmin
• Choi Siwon
• Find other
Warning!!! Typo bertebaran…. Siapkan hati dan fikiran anda… terutama kantong muntah…

Happy reading Guys :*

“Masa kanak- kanak bukan karena dilahirkan bagi usia tertentu dan pada usia tertentu anak bertumbuh, dan meninggalkan hal- hal kekanakan. Masa kanak- kanak serupa kerajaan, dimana tak ada yang meninggal.” –Edna St. Vincent Millay- Breaking Dawn-


Pria kecil itu menangis keras. Dia ingin berlari, namun tangan dan kaki yang terikat menyempitkan ruang geraknya. Dia hanya bisa diam dan menangis melihat kejadian dihadapannya.

“Eomma… jangan eomma… hikss” Suara kecilnya bergetar, menandakan dia sedang sangat takut.

“Diam kau, Kyuhyun! Atau eomma akan berbuat kasar padamu!” wanita paruh baya itu mulai menyuntikkan sebuah cairan pada IV yang tergantung pada tiang disudut tempat tidur.

“Ahra… maafkan eomma sayang! Eomma tak ingin kau menjadi jahat seperti eomma!” Suara wanita itu lembut dan menipu. Dia memperdalam suntikkannya.

‘tiitt…’

Suara dengungan memekakkan telinga terdengar begitu nyaring. Kyuhyun yang notabene-nya belum mengerti hanya bisa memejamkan kedua matanya. Pria kecil itu tidak tau apa yang terjadi saat itu. Yang dia tau hanya saat dia membuka mata, dia melihat ibunya tengah berbisik padanya.

Sebuah kalimat yang menjadi sebuah alasan yang membuat segalanya menjadi berantakan, dimasa depannya.

‘Jangan percaya pada satupun wanita, Cho Kyuhyun!’


Kyuhyun terbangun dari tidurnya. Namun, pria itu lebih terlihat seperti tengah lari marathon bila dilihat dari butiran keringat yang menetes pada dahi lebarnya. Dia menghela nafasnya, menetralisir degupan jantung yang terus menghantuinya. Kemudian, pria itu menghapus keringat pada dahinya.

Kenangan kelamnya dimasa lalu terus menjadi bunga tidurnya. Entah faktor apa yang membuat pria itu seakan kembali mengulas lembaran usang yang melukai hidupnya, begitu dalam.

Kyuhyun mendudukkan tubuh jangkungnya. Mengalihkan pandangan pada tirai putih yang menghalangi pandangannya. Dia menghela nafas lagi, perasaan bimbang melingkupi hatinya. Akankah ia membagi lukanya pada gadis itu?? Atau menyimpannya sendiri seolah tak ada yang terjadi?? Dia pun tak tahu apa yang harus ia lakukan. Selama ini dia bisa mempercayainya karena dialah satu- satunya perempuan yang mampu ia percayai.

Kyuhyun melangkahkan kakinya menuju kamar mandi disudut kamar, mencoba melunturkan kebimbangannya dengan guyuran air dingin pada kulit pucatnya.
.
.
Suara dentingan antara sendok, garpu dan piring menggema diruang makan pagi ini. Meramaikan suasana hening yang sangat kental. Ya, sarapan pagi hari itu masih seperti biasanya, hening dan bersahaja sebelum sang kepala keluarga memecah keheningan.

“Sayang, bagaimana persiapan pertunangan Kyuhyun??” Pria tua itu bertanya pada wanita yang mungkin jauh lebih muda darinya mengenai pertunangan putra mereka. Pertunangan Kyuhyun yang hendak dilaksanakan empat hari lagi.

“Semuanya sudah beres, yeobo.. Tinggal bagaimana tradisi yang akan dilaksanakan oleh Kyuhyun.” Pria itu menganggukkan kepalanya ringan dan menatap Kyuhyun yang –sepertinya-tidak- peduli atau tidak- mengerti- tentang apa yang mereka bicarakan.

“Kyuhyun! Bagaimana dengan mengunjungi makam nenek, ibu dan kakakmu?? Apa kau sudah melaksanakannya??” Kyuhyun menatap ayahnya.

“Haruskah aku melakukan itu??” Ucapnya.

“Tentu saja, kau harus meminta restu dari mereka!” Jelas ayahnya. Kyuhyun mungkin sedikit keberatan dengan satu tradisi itu.

“Kau juga harus membawa Hyuna bersamamu, jangan lupa kunjungi juga makam nenek dan kakenya!” Tambahnya lagi. Sebenarnya, tak ada yang salah dari tradisi itu. Yang salah adalah kehidupan masa kecilnya yang membuatnya harus berfikir ulang untuk terdorong lebih dalam. Yang akan membuat hidupnya lebih sulit lagi.


‘Jangan percaya pada satupun wanita, Cho Kyuhyun!’

Pria kecil itu terdiam, membiarkan otaknya memprogram apa yang diucapkan ibunya begitu saja. Dia tentu sama dengan anak- anak lain, mempercayai ibunya bagaimanapun kondisi yang tengah terjadi. Anak- anak akan selalu mengikuti apapun instruksi ibunya. Begitulah hukum alam!

Wanita itu kembali berjalan mendekati putrinya yang tengah terbujur kaku. Meskipun suhu tubuhnya masih hangat, namun jiwanya telah direnggut paksa dari tubuh mungilnya. Artinya dia telah tiada. Wanita itu mengusap surai coklat putrinya lembut, kesedihan tersirat dari matanya yang memerah.

“Kyuhyun sayang, maafkan eomma. Eomma tak bisa membawamu bersama kami sayang, karena kau sangat mirip dengan wajahku! Dan itu akan selalu mengingatkannya tentang kehadiranku dan Ahra! Selamat tinggal sayang…” Wanita itu berbaring disamping jasad putrinya dan meneguk sebuah cairan bening.

Dia tertidur dalam damai, meninggalkan Kyuhyun yang mungkin belum mengerti apa yang terjadi saat itu dalam diam. Lelehan tangis dipipinya mengering, dia masih diam hingga suara pintu yang terbuka, menampilkan wajah terkejut ayahnya.

“Kyuhyun!! Apa yang terjadi?!” Pria itu sungguh terkejut. Sebuah pemandangan dimana Kyuhyun dengan tangan dan kaki yang terikat, suara dengungan pendeteksi detak jantung dan yang terakhir… Jikyung-ibu Kyuhyun- yang tengah tertidur disamping putrinya.

“Kyuhyun!! Katakan pada Appa, apa yang terjadi?!”Pria itu setengah berteriak pada Kyuhyun. Mendekati putranya dan melepaskan satu per satu ikatan yang melekat pada tubuh putranya. Kemudian dia mendekati ranjang rumah sakit, dimana anak dan mantan istrinya tengah terbaring damai. Mendengar bunyi dengungan yang terus menggema, pria itu lantas berlari keluar mencari bantuan. Pria itu meninggalkan Kyuhyun yang masih terdiam dalam keterpurukannya.

Ayahnya kembali dengan beberapa orang berseragam putih. Mereka tampak panik dan sibuk dengan dua jasad yang terbaring damai diatas ranjang. Pria tua itu lantas membawa Kyuhyun keluar setelah mendengar intruksi dari salah satu orang tadi. Membawa pria kecil itu pada kursi tunggu yang terdapat diluar ruangan.

“Kyuhyun!! Katakan pada appa, apa yang terjadi didalam???” Suaranya menyiratkan kekhawatiran yang mendalam.

“Eomma bilang, dia akan pergi bersama noona….” Jawab Kyuhyun apa adanya. Pria itu mengusap wajahnya kasar. Dia terlihat begitu frustasi sekarang.

Salah satu dokter keluar dengan wajah yang mungkin tampak sangat menyesal. Pria berseragam putih itu mendekati Kyuhyun dan ayahnya yang tengah saling menatap.

“Maaf tuan Cho, istri dan putri anda telah berpulang kepada- Nya…” Appa Kyuhyun terdiam mematung. Sementara Kyuhyun kecil tengah mencerna kalimat dokter itu.

‘Kata Ssaem.. meninggal itu artinya orang yang kita sayang akan pergi kesebuah tempat yang sangat jauh. Dan kita tak akan pernah bisa menemuninya lagi selama- lamanya…’


Kyuhyun duduk diam dengan semua pikiran yang melingkupi hatinya. Pria itu sedang mengatasi ke-galau-annya tentang tradisi keluarga itu. Dia tak mungkin akan terus terpuruk dalam kenangan masa kecilnya, bukan? Pria itu telah berjanji akan berubah demi segalanya. Termasuk pengorbanan satu- satunya wanita yang bisa ia percayai.

Kyuhyun melangkah gontai menuju pintu kamarnya. Pria itu menatap kearah jendela sebentar sebelum melanjutkan langkahnya yang tertunda. Kali ini tekadnya sudah bulat, dia harus mengalahkan masa lalunya dan mulai menyusun rangkaian masa depan yang baru.
.
.
Hyuna melangkah dengan cepat, kaki pendeknya cukup bisa diandalkan. Menuruni tangga merupakan sesuatu hal yang juga cukup sulit untuk dilakukan, mengingat kaki- kakinya yang kecil itu. Tapi yang ada difikirannya bukanlah kaki- kaki pendeknya itu, melainkan seseorang yang dirindukannya.

Jantungnya berdetak cepat, seakan ingin lepas dari tempatnya. Pria itu terlihat sangat tampan, mungkin bertambah tampan sejak terakhir kali dia menemui pria itu dua hari yang lalu. Matanya tak berniat untuk berkedip, menikmati pemandangan indah di hadapannya.

“Hyuna- ya…” Panggilnya. Pria itu memamerkan senyum manis yang membingkai rahang tegasnya.

“Mworago????” Tanya Hyuna dingin. Gadis itu mencoba untuk sedikit menekan rasa rindu yang ingin diluapkannya pada pria yang tengah berdiri sejauh ± 3 meter darinya itu. Sementara pria itu hanya terkekeh pelan, dan berjalan mendekati Hyuna.

“Tidakkah kau merindukanku??” Godanya. Hyuna menundukkan kepalanya saat pria itu semakin mendekat kearahnya.

“Menjauhlah dariku, Cho Kyuhyun!” Hyuna mundur selangkah saat Kyuhyun berada dihadapannya.

“Kenapa?? Apa salahku, sayang???” Hyuna mendengus mendengar nada suara Kyuhyun yang terdengar menjijikkan. ‘Apa pria itu juga mengumbar suara yang seperti itu saat bersama Sungmin??’ pikirnya.

“Entahlah…” Jawabnya dingin. Hyuna memilih berlalu dari hadapan Kyuhyun. Namun, tangan pucat itu menghentikan langkahnya dengan menarik salah satu lengan Hyuna.

“Tunggu dulu! Aku ingin mengajakmu kesuatu tempat….” Kyuhyun menarik tangan Hyuna menuju kearah dapur. Mereka berpamitan pada seorang yeoja paruh baya yang tengah sibuk dengan peralatan dapurnya.

Eommonim... bolehkan aku meminjam Hyuna sebentar?? Ada suatu hal yang harus dilakukan…” Ucapnya sopan. Wanita paruh baya itu menghentikan kegiatannya dan menatap mereka.

“Bagaimana jika kalian makan siang dulu?? Ibu sedang memasak sesuatu…” Tawar ibunya. Kyuhyun melirik kearah arloji yang tersemat dipergelangan tangan kirinya. Jam masih menunjukkan pukul 9 pagi.
“Ah… kami tidak akan lama, eommonim. Hanya satu hal kecil yang harus dilakukan sebelum pertunangan, tradisi keluarga Cho!” Ibu Hyuna mengangguk.

“Baiklah, tapi jangan pulang lebih dari jam 2 siang.. arraseo??” Kyuhyun mengangguk. Pria itu membungkukkan tubuhnya sebelum menarik Hyuna yang mematung dari tempat itu.
.
.
“Kenapa kita kesini, Kyu??” Tanya Hyuna saat mereka telah sampai pada sebuah tempat pemakaman umum di pinggiran kota Seoul.

“Kita harus meminta restu dari nenek dan kakekmu, sayang!” Jawab Kyuhyun. Pria iru masih sempat menggoda gadis disampingnya itu dengan sebutan ‘Sayang’ yang terdengar menjijikkan.

Hyuna masih larut dalam fikirannya. ‘Pria itu mengajaknya ke pemakaman untuk meminta restu?? Apakah itu salah satu tradisi dikeluarga Cho yang dikatakannya??’. Karena terlalu larut dalam pikirannya, Hyuna bahkan tak sadar jika mobil yang ia tumpangi telah terparkir rapih di parkiran pemakaman. Kyuhyun membukakan pintu sisi penumpang dan membangunkan gadis itu dari alam khayalnya.

“Ayolah… tak ada waktu untuk berfikir lagi, aku sudah berjanji pada ibumu untuk pulang saat makan siang…” Kyuhyun mengamit lengan gadis itu setelah melepaskan safety-beltnya.

Mereka berjalan beriringan menuju komplek pemakaman yang penuh rumput hijau nan indah, meskipun image duka dan mengerikan masih sedikit melekat. Hyuna menatap sekelilingnya, dia sedikit lupa dimana letak pemakaman nenek dan kakeknya mengingat dia tak pernah memperhatikan sekitarnya saat mengunjungi kakek neneknya saat tahun baru.

Namun Hyuna tampak begitu kagum saat Kyuhyun mengajaknya ke makam nenek dan kakeknya yang berdampingan. Kyuhyun masih sangat ingat letak persis makam kedua orang yang telah tiada itu.

“Kyuhyun, bagaimana kau masih bisa mengingat letak makam kakek dan nenek??” Tanyanya takjub. Binar kagum terpancar dari matanya yang bulat namun sipit itu(?).

“Itu tidak penting, sayang. Yang penting sekarang, kita beri hormat dan meminta restu dari kakek dan nenek!” Hyuna mendengus sebal. Namun, akhirnya mereka membungkuk hormat bersama- sama sebelum Kyuhyun menyatakan niat dan meminta restu dari kedua orang yang telah tiada itu.
.
.
“Kyuhyun! Bukankah kita langsung pulang?? Kenapa kesini??” Kyuhyun menghentikan langkahnya. Dia menghembuskan nafasnya kasar sebelum berbalik menatap Hyuna yang terus berada dibelakang tubuhnya.

“Kenapa??” Hyuna mulai khawatir dengan minimnya respon yang Kyuhyun berikan. Pria itu terlihat sedang memikirkan sesuatu sebelum menjawab Hyuna dengan senyumannya yang terkesan sedikit dipaksakan.

“Kita harus kemakam Eomma dan noona dulu, kita juga harus meminta restu dari mereka..” Kyuhyun kembali menarik Hyuna menuju ke dua makam yang berdampingan. Kyuhyun terlihat sedikit kaku saat mereka telah benar- benar sampai dihadapan makam itu.

“Kyuhyun…” Hyuna bergumam. Dia meneliti Kyuhyun yang tampak sedikit kaku bila dibandingkan ketika mereka berada di makam kakek dan nenek Hyuna.

Kulit yang membungkus tengkoraknya kini kian memucat. Hyuna menarik salah satu tangan Kyuhyun dan menggenggam tangan itu erat. Kyuhyun tersentak pria itu beralih menatap Hyuna. Gadis itu tersenyum lembut saat menatapnya. Kyuhyun menguatkan dirinya untuk membalas senyuman itu.

“Annyeonghaseyo, eomma, noona!” Kyuhyun dan Hyuna membungkuk dihadapan ledua makam itu. Kyuhyun kembali diam, pria itu mencoba menghalau luka dihatinya sekaligus merangkai kalimat yang akan dia ucapkan.

“A… ak..” “annyeong, ahjumma… ani… eommonim. Annyeong eonnie. Naega Kim Hyuna imnida..” Hyuna memotong kalimat Kyuhyun dan memperkenalkan dirinya sendiri. Kyuhyun melirik kearah Hyuna dan gadis itu kembali tersenyum.

“Maafkan kami, baru mengunjungi makam kalian sekarang…” Hyuna membungkukkan badannya lagi. Kyuhyun hanya diam mematung.

“Pria disampingku ini tak pernah memberitahukanku mengenai tradisi keluarga Cho…” Hyuna menyikut lengan Kyuhyun yang sedari tadi membeku.

“Mianhae, eomma…” Kyuhyun membungkuk juga. Pria itu masih bingung dengan apa yang akan dikatakannya. Hyuna menggenggam tangan Kyuhyun lembut, mengalirkan semangat bagi Kyuhyun.

Pria itu mulai memperkenalkan Hyuna sebagai sahabat sekaligus calon istrinya. Pria itu tak lupa meminta restu unruk rencana pernikahan mereka.


23 desember 2014

Kediaman keluarga Kim terlihat ramai, suasana kekeluargaan yang kental sangat mendominasi rumah itu. Diruang keluarga, terlihat sebuah pohon natal dengan ukuran yang cukup besar menghiasi sudut ruangan. Pohon itu terbingkai dengan aksesoris cantik khas perayaan natal.

Beberapa orang mungkin akan berfikir bahwa malam itu tengah merayakan hari natal. Namun, pada kenyataan orang- orang disana tengah berkumpul untuk merayakan natal sekaligus melaksanakan pertunangan. Siapa lagi kalau bukan putri semata wayang keluarga mereka, Kim Hyuna.

Gadis itu sendiri tengah sibuk mengatur detak jantungnya sendiri. Tangan mungilnya sibuk memegangi bagian dada kirinya yang terus berdebar. ‘aku benar- benar harus memeriksakan jantungku sekarang…’ Pikirnya. Dia terus mengambil nafas dalam- dalam, sesekali memperhatikan penampilannya dihadapan kaca yang berukuran cukup besar didalam kamarnya.

Dia terlihat begitu cantik dan dewasa dengan gaun merah yang membalut tubuh kecilnya. Kaki- kakinya yang pendekpun terlihat sedikit panjang dengan tumpuan stilleto hitam pemberian ibunya.

“Kamu cantik kok, sayang…” Gadis itu menoleh kearah seorang wanita paruhbaya yang terhitung 7 hari lagi akan menjadi ibu mertuanya. Wanita itu tersenyum dibalik kulitnya yang mulai keriput.

“Ahh, ahjumma…” Hyuna tersipu malu. Pipinya terlihat lebih memerah daripada kepiting yang tengah direbus. Nyonya Cho tertawa pelan melihat reaksi yang diberikan calon menantunya itu.

“Jangan panggil aku ahjumma… panggillah aku eomma, sayang..” ucapnya lembut pada Hyuna. Gadis itu menganggukkan kepalanya dan tersenyum. Mereka langsung berpelukan.

“ayo kita turun sekarang…. Kyuhyun telah menunggumu dibawah…” Hyuna mengangguk dan mereka berjalan beriringan.
.
.

“Cho Kyuhyun!” Seorang namja berparas imut itu menghampiri Kyuhyun, dan menepuk pundaknya pelan. Kyuhyun berbalik dan tampak terkejut dengan namja yang menghampirinya tadi.

“Hyung! bagaimana kau bisa sampai disini??” Kyuhyun memberikan tinju pelannya dipundak pria itu, kemudian mereka berpelukan.

“Tentu saja naik pesawat, bodoh! Tidak mungkinkan aku berjalan kaki kesini?? Jarak antara Korea selatan dan Amerika cukup jauh, bocah!” ucap pria tadi saat mereka melepas pelukan.

“Hahahaha! Kau terlihat lebih tinggi sedikit sekarang! Berapa banyak tisu yang kau pakai didalam sepatumu??? Yakk appo!” Kyuhyun meringis saat pria itu melayangkan tangan mungilnya ke kepala Kyuhyun.

“Makanya jangan sembarangan bicara, dasar?!” Kyuhyun memamerkan deretan giginya pada pria itu.

“hahahahahaha… Ryeowook Hyung, kau datang bersama siapa kemari..?? seingatku kau tidak pernah tau alamat ini, semenjak SMA kan kalian tidak pernah akur…” Tanyanya. Ryeowook hanya menggaruk belakang kepalanya.

“Itu….”
“Oppa!” sebelum Ryeowook menyelesaikan kalimatnya, seorang yeoja datang menghampiri mereka.

“Ah… Cho Kyuhyun! Bagaimana kabarmu??” Suara cempreng gadis itu mengembara diudara. Sementara Kyuhyun terlihat terkejut dan memperhatikan penampilan gadis itu dari ujung kaki sampai ke kepalanya. Dia merasa tak asing dengan gadis dihadapannya itu.

“Kau… sepertinya aku mengenalmu..” Ucap Kyuhyun. Gadis itu tersenyum saat Kim Ryeowook melingkarkan lengannya dipundak gadis itu.

“Tunggu dulu…” Kyuhyun berfikir sejenak. Mengingat masa- masa SMA mereka, gadis ini tampak mirip dengan salah satu teman dekat Hyuna saat itu.

“Kau Haeun kah?? Dan kalian… kalian pacaran??” Kyuhyun begitu terkejut saat mereka berdua menganggukkan kepalanya.

“Ohh… aku terkejut!” Mereka tertawa mendengar penuturan Kyuhyun. Kata terkejutnya berbanding terbalik dengan wajahnya yang datar.

“Kami juga terkejut saat menerima undangan itu, terlebih lagi melihat nama pasanganmu disana…” Ujar gadis itu.

“Ya… Ceritanya benar- benar panjang!” Ungkap Kyuhyun. Mereka tertawa dan berbincang mengenai masa- masa sekolah mereka.

“Bagaimana kalian bisa menjalin hubungan?? Bukankah kalian seperti ‘Tom and Jerry’ dimasa SMA??” Tanya Kyuhyun. Keduanya hanya diam dan tersenyum padanya.

“Ya… Ceritanya benar- benar panjang!” Jawab Haeun menirukan kata- kata Kyuhyun. Hal itu membuat Kyuhyun mendengus sebal dan pasangan itu tertawa. Kemudian mereka kembali bernostalgia. Mengingat masa- masa sekolah menengah atas itu.

“Kyuhyun, lihat itu… Apakah dia benar- benar Hyuna?” Ucap Kim Ryeowook saat melihat kearah tangga.

“Dia benar- benar cantik dan terlihat dewasa…” Puji Haeun melihat gadis itu menuruni tangga bersama Nyonya Cho. Sementara Kyuhyun hanya memberikan respon yang sangat biasa, mungkin hanya sedikit tatapan sayang yang ia berikan.

“Ya.. begitulah.” Jawab Kyuhyun seadanya. Hal itu membuat Haeun dan Ryeowook saling berpandangan. Mereka terlalu bingung dengan respon yang diberikan Kyuhyun.
.
.
“Kyuhyun…” Gadis itu memandangi cincin yang melekat indah dijari manisnya. Benda itu begitu berkilau ditengah malam yang tertutup salju.

“Hmmm??” Kyuhyun menjawabnya dengan bergumam. Pria itu sedang berkelahi dengan alam bawah sadarnya.

“Cincinnya cantik…” Puji gadis itu. Kyuhyun menoleh padanya dan tersenyum simpul.

“Tentu saja, bahkan kau saja kalah cantik…” Ucapan Kyuhyun membuat Hyuna mendengus sebal.

“Ya! Terserah.” Jawabnya singat yang membuat Kyuhyun kembali tertawa.

“Aku bercanda, eoh! Tentu saja lau sangat cantik hari ini…” Bisik Kyuhyun ditelinganya. Hal itu membuat jangtungnya berdebar cukup kencang. Namun, dalam sekeja[ berubah saat pria itu melanjutkan kalimatnya.

“Sama sekali tidak mirip dengan Hyuna, bahkan aku sempat mengira bahwa kau adalah ibuku…” Hyuna mendengus.

“Jadi maksudmu, aku seperti ibu- ibu??” Dengus Hyuna sebal. Pria itu tertawa pedih, mengingat sosok yang sangat dirindukannya sekaligus bagian dari masa kecilnya yang kelam. Mereka berdua akhirnya memilih diam saat tak ada satupun yang ingin melanjutkan pembicaraan.

“Kyuhyun…” Panggil Hyuna pelan. Kyuhyun menoleh, membuat pandangan mereka bertemu dalam satu garis lurus.

“Ada apa??”

‘Benarkah kau sanggup untuk belajar mencintaiku???’ Hatinya berseru. Namun, gadis itu lebih memilih diam dan menyimpan apa yang memenuhi hati dan fikirannya.

“Haruskah aku mulai memanggilmu oppa??” Pertanyaan yang –tanpa sengaja- keluar dari mulutnya membuat Kyuhyun terkikik pelan.

“Itu terserah padamu, tapi kumohon… kau tetaplah menjadi dirimu yang apa adanya..” Ucapan Kyuhyun membuat atmostfer udara disana menjadi bertambah dingin.

‘Akankah kau tetap menerimaku, bila aku menjadi diriku yang apa adanya??’

‘Aku akan menjadi diriku yang apa adanya, menjadi diriku yang mencintaimu…’

Bersambung…

Annyeonghaseo…
Gak terasa udah part. 6 aja hahahaha… padahal dulunya ff ini bakalan end di part 5 atau 6. Aku gak nyangka kalau ff ini akan memiliki part yang lebih banyak… hahahahaha
Bytheway, part 6 ini merupakan part terpanjang dan terlama yang pernah kutulis. Bayangkan… biasanya aku cuman bisa nulis 1600- 2020 kata, dan dipart ini mencapai 2808 kata…
Aduh udah gak tau mau ngomong apa lagi…–‘ yaudah aku boleh gak minta saran buat part- part selanjutnya?? Aku butuh saran agar ff ini menjadi lebih baik dilain hari (untuk saran ataupun kritik kalau bisa jangan disampaikan dalam kata- kata kasar ya…), hohoho..

Oh ya, mohon maaf yang sebesar- besarnya karena baru ngirim ff ini *bow, soalnya kemarin filenya sempat hilang dan akhirnya copy-annya ketemu hehehe

buat ff sambungan tell me Why?? akan segera dipublish hehehe

See you in part. 7 :* ;*

Tell Me Why??

image

Cast           : Cho Kyuhyun, Kim Hyuna, and other
Category   : Sad, Yadong, NC-21, Oneshoot
.
.

Warning!! This story just for 17+, tapi dosa ditanggung masing- masing! Bye…
.
.
.
‘Why??? Please tell me why?!’
.
.
.
.

‘Huft……’

Aku duduk dipinggiran ranjang, mengatur setiap helaan nafas yang keluar. Meredakan kegugupan yang melandaku, sungguh aku sangat gugup. Aku memeluk tubuhku yang setengah telanjang. Maksudku, pakaian yang kupakai ini memiliki bahan yang cukup minim. Bisa dikatakan, pakaian yang kekurangan bahan.

Ceklekk…

Pria itu terlihat begitu seksi! Piyama sutera hitam yang dikenakannya sangat serasi dengan kulitnya yang pucat. Rambutnya yang setengah basah, menambah kesan seksi pada dirinya. Bibir tebal itu melengkung, mengukir seringaian seksi yang terbingkai di rahang tegasnya. Oh My My… I want him in my bed, Now!

“Kyuhyun…” Aku memanggilnya pelan. Pria itu kembali menatapku dengan seringaiannya yang seksi.

“Ya?” Suaranya terdengar begitu rendah, memanggilku begitu dalam pada gairah.

“Ak- aku….” Aku kehilangan kata- kata. Seluruh pikiranku terenggut oleh pemandangan indah yang dihasilkan oleh pria ini.

“Aku, aku kedinginan.” Bodoh! Dia tertawa pelan. Dia tertawa, gerakan jakunnya memanggilku untuk menghisapnya. Oh My!

“Baiklah, jika kau kedinginan…” Suaranya terdengar serak. Pandangan matanya turun kearah lingerie hitam yang kukenakan.

“Ayo, kita buat menjadi panas!” Dia menciumku. Tumpukan benda kenyal itu menimpa bibirku, menyesapnya pelan meninggalkan kesan basah yang menggairahkan.

Aku membuka mulutku, membiarkan lidahnya mendarat indah di dalam mulutku. Kami saling menghisap, mengalirkan gairah. Tubuhku semakin panas.

“Oh….” Sialan! Bibirnya terus berjalan menuju kearah leherku. Memberikan sensasi yang luar biasa, menghasilkan getaran pada setiap saraf ditubuhku.
.
.
.
.

“Oh, Kyuhyun! Kumohon…. Oh, please…” Kepalanya berada diantara kedua pahaku. Lidahnya yang panjang itu berada dipusat tubuhku, astaga! Nikmat sekali.

“Oh… KYU!!” Aku meraih puncak. Melengkungkan tubuhku, merasakan sebuah getaran dari tubuhku. Kyuhyun menyeringai, memposisikan tubuhnya diantara kedua kakiku.

“Oh, Kyu. Kumohon….” Aku merintih saat sebuah benda keras menggesek daerah kewanitaanku. Oh, damn! Dia menyeringai.

“Mohon apa sayangku??” Suaranya yang berat dan menggoda, semakin menyulut gairahku.

“Aku….. Ah, Kyu! Kumohon.. Aku sudah tidak tahan!” Aku tau dia menyeringai, oh my!

“Baiklah! Jika itu yang kau inginkan….” Suaranya begitu rendah, sial!

“Lakukan apapun, jika ini akan sakit…” Kejantanannya yang mengeras itu menggesek milikku yang sudah basah.

“Oh… Kyu! AHH!!” Aku mencengkram pundaknya keras, saat benda asing itu menerobos penghalangku.

Omonaa…..” Dia mengerang, aku mengerutkan dahiku. Sungguh! Ini benar- benar perih. Aku semakin mengeratkan peganganku, dia melumat bibirku.

“AKHH!!” Dalam satu hentakan, benda itu lolos. Miliknya mengisi penuh pusat tubuhku, dan itu sakit.

“ohh…” Dia merintih. Kami saling menatap. Dahinya penuh dengan peluh, dia sangat seksi!

“Nghh… Kyu!” Rintihku, dia menggerakkan tubuhnya. Miliknya yang keras menghantam diriku. Ini sedikit perih, tapi cukup nikmat.

“Ahh, Kyu! Kumohon…” Aku terus merintih. Oh, gairah memang menghilangkan akal sehatku.

“Apa??” Tanyanya. Suaranya sangat pelan dan serak, menyulutkan api dalam gairahku.

“oh… Kumohon kyu….” Sial! Dia kembali menyeringai. Damn! Dia memperlambat gerakan tubuhnya.

“Kyuhyun…. Kumohon….”

“Apa sayang??” Dia menghentikan gerakan tubuhnya. Sial!

“Kyu… Lebih cepat!” Kini aku memohon padanya, aku sangat ingin dia bergerak.

“Seperti ini??” Dia bergerak pelan. Oh, ini menyiksaku!

“Lebih cepat, kumohon!”

“Seperti ini?? Ohh” Dia bergerak lebih cepat lagi, dan lagi.

“Ohh, yeah! Yes please.” Dia mempercepat gerakannya. Menghasilkan perpaduan nada antara decitan tempat tidur dan desahan kami.

“Oh….. Kyuhyun.” Aku melantunkan namanya dalam setiap desahanku.

“Kyuhyun!” Kami meraih puncak saat dia menghujamkan gerakan terakhirnya.
.
.
.

“Sial!!” Aku mendengarnya. Dia mengumpat saat melepas miliknya, aku terlalu lelah untuk melihat apa yang terjadi.

“Kau telah menipuku jalang!” Aku membuka mataku lebar. Apa?? Jalang??

Saat aku duduk, dia pergi. Amarah terbakar, itu terlihat dari matanya. Dia membanting pintu dengan sangat keras, aku sangat bingung apa yang telah terjadi. Tubuhku terlalu lelah, dan sangat sakit pada daerah sensitifku.

‘Please tell me why??’

.
.
.

Seminggu telah berlalu semenjak kejadian itu, Kyuhyun tak pernah kembali. Malam ini aku memeluk diriku sendiri menghilangkan rasa dingin yang menusuk kulit.

‘Ding… Dong…’

Aku membuka pintu, sesosok pria yang satu minggu pergi dari hadapanku. Tanpa alasan yang jelas dan kenapa.

“Kyuhyun!”

Mianhaeyo…..

End (or TBC)

Hai hai… Saya kembali dengan ff baru! Untuk The Reason mungkin akan saya kirim ke FlyingNC pada tanggal 1 mei atau 18 mei… Ditunggu yaaa…

Posted from WordPress for Android

The Reason chapter. 4

image

Anak laki- laki berpakaian serba hitam itu tersenyum disisa- sisa tangisannya. Tangan kanannya tengah menggandeng seorang anak perempuan yang berusia sedikit lebih muda. Mereka berdua tersenyum sambil melangkahkan kaki mendekati keramaian.

Tentunya bukan keramaian yang biasa, keramaian disana dapat diartikan dalam suasana lain. Dimana semua orang berkumpul untuk membagi duka. Dimana kita juga dapat merasakan kesepian ditengah keramaian. Bisa disebut juga acara pemakaman.

Tak sedikit yang bersedih, termasuk Kyuhyun. Dia harus kehilangan ibu dan kakak perempuannya diusia muda. Dia sempat menangis dan menyendiri, namun seorang gadis kecil datang dan menghiburnya. Membuatnya melupakan dukanya untuk sesaat.

“Hyuna-ya… Kau darimana saja sayang??” Seorang wanita paruh baya itu menghampiri Kyuhyun dan gadis kecil bernama Hyuna itu. Beliau menampakkan raut khawatirnya pada bocah kecil yang tengah menggenggam tangan Kyuhyun.

“Eomma!! Lihat, namanya Cho Kyuhyun!!” Ucap anak kecil itu tanpa mengindahkan pertanyaan ibunya. Wanita itu menoleh kearah Kyuhyun yang tersenyum malu- malu padanya. Hati wanita itu sedikit tersentuh melihat Kyuhyun yang tengah tersenyum ditengah dukanya.

“Tentu saja eomma mengenalnya, sayang! Dia kan tetangga kita..” Hyuna membulatkan bibir mungilnya sambil menganggukkan kepalanya.

“Jadi, aku bisa bertemu Kyuhyun setiap hari??” Tanyanya dengan mata berbinar. Ibunya mengangguk dan tersenyum pada mereka.

“Cha… Kita harus memberi salam pada Cho ahjussi dulu…” Ucap wanita itu dan menggiring mereka pada kedua orang pria yang tengah berbincang.

“Appa..” Hyuna melepaskan genggaman tangannya pada Kyuhyun dan mendekati salah satu pria berpakaian serba hitam itu. Namun, Hyuna berbalik lagi dan menggandeng tangan Kyuhyun. Menarik pria kecil itu mendekat dengan Ayahnya.

****

“Hei!! Kau mau kemana?!” Kyuhyun memasukkan kedua tangannya kedalam saku jacketnya. Memandang Hyuna yang sedang berlari kecil melewati rumahnya. Kyuhyun mendengus sebal saat tidak mendapat tanggapan dari perempuan itu.
“Yak!! Hyuna-ya!!” Mau tidak mau Kyuhyun harus mengejar gadis itu yang tidak menggubrisnya. Kyuhyun terus mengikuti gadis itu dari belakang.
“Hyuna-ya!!” Kyuhyun akhirnya berlari mendekati gadis itu. Menarik tangannya dan membuat Hyuna menghentikan langkah kaki pendeknya. Namun, Hyuna masih diam menatap lurus kearah jalanan. Lebih memilih mendengarkan lagu dari balik earphone yang menggantung ditelinganya.
Chankaman….” Kyuhyun menarik earphone itu dan mendapatkan tatapan mematikan dari gadis itu.
Wae?!” Hyuna berteriak kesal dihadapan Kyuhyun.
“Aniya…” Jawab Kyuhyun santai. Hyuna menghembuskan nafasnya kasar dan pergi berlalu dari hadapan Kyuhyun. Pria itu mengikutinya lagi.
“Maaf, Kyu! Aku sedang tidak dalam mood untuk… Hei!! Apa yang kau lakukan?!” Ucapnya saat Kyuhyun tiba- tiba menarik tangannya menuju mobil sedan yang terparkir cantik dihalaman rumah Kyuhyun.

“Ayo kita jalan- jalan!” Kyuhyun memaksa Hyuna untuk masuk kedalam mobilnya. Sementara gadis itu hanya mengerutkan wajahnya saat pria jangkung itu menutup pintu penumpang.
Suasana hening menemani mereka selama perjalanan. Hyuna hanya diam memandang butiran- butiran salju yang memenuhi torotoar. Kyuhyun lebih memilih berkonsentrasi pada jalanan yang cukup ramai. Hyuna yang kalut pada dunianya yang akan berubah tak lama lagi.
Ban mobil yang berhenti membuat Hyuna sadar akan lamunannya. Gadis itu menatap Kyuhyun yang keluar dari mobilnya, dan membukakan pintu penumpang untuknya. Hyuna hanya diam menatap Kyuhyun yang membawanya ke pinggiran sungai Han yang sedikit membeku.
“Turunlah, sayang!” Hyuna mengerutkan dahinya mendengar kata ‘sayang’ dari Kyuhyun. Pria itu mengulurkan tangannya pada Hyuna, gadis itu terdiam sebentar sebelum menerima uluran tangannya.
Wae?” Gumam gadis itu, Kyuhyunmenundukkan kepalanya menatap Hyuna.
“Kenapa kau membawaku kesini, Cho Kyuhyun??” Kyuhyun tersenyum pada Hyuna, kemudian memandang kearah sungai Han.
“Berteriaklah!!” Ucap Kyuhyun. Pria itu masih memandangi sungai Han. “Berteriaklah!” Ucapnya sekali lagi, dia memandang Hyuna yang mengerutkan dahinya. Gadis itu memngisyaratkan ‘Untuk apa??’.
“Ayo kita berteriak bersama, membuang semua masalah dan biarkan mereka ikut membeku bersama air sungai…” Pria itu memandang Hyuna.
“Dan memulai sesuautu yang baru bersama- sama!” Lanjutnya. Hyuna merekahkan senyumannya, dan memamerkan deretan gigi putihnya.
“Kajja!!” Jawab Hyuna antusias dan menarik Kyuhyun untuk lebih mendekat dengan aliran sungai.
“AKU MEMBENCIMU, CHOI SIWON!!!!”
“SEMOGA KAU BERBAHAGIA DISANA!!! AKU MEMBENCIMU!!!!” Dia berteriak dengan lantang, mengeluarkan segala perasaan yang mengganjal dihatinya. Dia berbalik dan menatap Kyuhyun yang tersenyum padanya.
“Sudah lebih baik??” Tanya Kyuhyun. Gadis itu mengangguk dan memeluk tubuh berisi Kyuhyun.
“Sangat… Aku sangat baik, Kyu! Terima kasih…” Ucapnya disela- sela pelukannya. Kyuhyun mengusap rambut dengan sayang.
“Ya… Aku menyayangimu!”

****

“Kyuhyun…” Kyuhyun menolehkan kepalanya pada gadis itu dan tersenyum lembut. Kemudian mencoba kembali fokus terhadap jalanan.
“Mwo??”
“Apa kau yakin??” Kyuhyun menolehkan kepalanya sekali lagi. Pria itu mengerutkan dahinya, sedikit bingung dengan pertanyaan yang ditembakkan oleh Hyuna.
“Maksudmu??”
“Tentang.. ehm pernikahan itu, apa kau yakin Kyu?” Tanyanya. Hyuna mengenggam tangannya sendiri, bersiap- siap dengan segala jawaban yang Kyuhyun berikan. Pria itu menoleh lagi kepada Hyuna. Kyuhyun tersenyum dan terkekeh pelan sebelum menjawab pertanyaan gadis itu.
“Tentu saja, sayang… kalau aku tidak yakin, mana mungkin aku melamarmu didepan ayahmu, eoh?!” Jawaban Kyuhyun membuat senyumannya merekah, dia merasa cukup atau sangat puas dengan jawaban Kyuhyun.
“Terima kasih, Kyu..”
“Untuk?? Kurasa aku yang perlu berterima kasih padamu…” Hyuna menatap Kyuhyun yang masih sibuk dengan konsentrasinya pada jalanan, meminimalisir kemungkinan kecelakaan.
“Karena kau selalu ada untukku, karena kau selalu mengerti aku…. dan semua yang telah kau berikan padaku, Kyu!” Ucapnya panjang lebar. Sementara Kyuhyun hanya tersenyum simpul pada gadis itu.
“Ya…. Karena kau sudah kuanggap sebagai adikku sendiri, dan aku juga terima kasih atas semua yang kau berikan padaku, aku menyayangimu, Hyuna-ya!” Gadis itu sedikit tertegun dengan kalimat Kyuhyun. Terutama saat pria itu berkata ‘adik’ ada sesuatu yang mengganjal dihatinya. Kyuhyun mengusap rambutnya penuh kasih sayang, seperti yang biasa pria itu lakukan padanya.
“Nah… Sekarang kita harus bersiap- siap!” Kyuhyun memecahkan lamunan singkat Hyuna. Gadis itu menoleh dan menatap Kyuhyun dengan alisnya yang menyatu.
“Kemana?? Kita akan kemana, Kyuhyun oppa??” Tanya Hyuna dan tak lupa membuat nada manja pada akhir pertanyaannya. Kyuhyun tertawa dan mengacak- acak rambut gadis itu yang membuat Hyuna mendengus sebal.
“Hari ini appa akan keluar dari rumah sakit, tidakkah kau ingin menjenguk ‘your father in law’ yeobo??” Hyuna memutar bola matanya mendengar nada Kyuhyun saat berkata ‘yeobo’. Pria itu hanya terkikik pelan melihat respon yang diberikan Hyuna. Tanpa Kyuhyun sadari, gadis itu mengeluarkan smirknya.
“Tentu saja, sayangku…” Ucapnya dengan nada yang terdengar…… euh, menjijikkan. Mereka tertawa sepanjang perjalanan.
“Hyuna-ya….” Hyuna menoleh pada Kyuhyun setelah menghabiskan sisa tawa mereka. “hmm” Gumam gadis itu menjawab panggilan dari Kyuhyun.
“Ehm… itu… anu…” Kyuhyun kehilangan kata- katanya. Dia lupa cara untuk menyampaikan sesuatu yang ingin ditanyakannya pada gadis itu.
“Anu-nya apa??” Hyuna menoleh dan menatap Kyuhyun dengan curiga. Pria itu mulai salah tingkah dan kembali memikirkan kalimat yang pas untuk disampaikannya pada gadis itu.
“Ehm…. Undangan itu,”
“Undangan apa, Kyu?” Dia mulai memikirkan undangan yang dikatakan oleh Kyuhyun. Sesuatu yang berhubungan dengan undangan yang mungkin dilupakan gadis itu. Kyuhyun menggaruk belakang telinganya yang mungkin tidak gatal.
“Pernikahan….” Gumam pria itu, dan mencoba kembali fokus pada kegiatan mengemudinya.
“Ohhh, itu! Pernikahan Siwon oppa kan??” Jawabnya santai. Perubahan sikap gadis itu membuat Kyuhyun merasa sedikit bingung. Saat dia marah, tiba- tiba saja dia bisa menjadi orang yang lemah lembut.
“Y-ya… apa kau lupa??”

“Tentu saja tidak… tapi,” Kyuhyun menaikkan sebelah alisnya menunggu lanjutan kalimat dari ‘calon istrinya’ itu.
“Tapi… bukankah kita harus menjenguk ‘ayah mertua’ sekarang??” Gadis itu menekankan kata- kata pada akhir kalimat tanyanya pada Kyuhyun.

“Kau tidak berniat untuk menghadiri acara pernikahan itu kan??” Kyuhyun mengerutkan dahinya, memandang gadis itu penuh tanya. Hyuna hanya tertawa pelan dan menonjok pelan lengan berisi Kyuhyun.

“Tentu saja tidak, Tuan Cho! Aku bukan pengecut… tapi sungguh, menjenguk ayahmu lebih penting saat ini.” Kyuhyun terkekeh pelan mendengar jawaban gadis itu.

“Oh ya…? aku sungguh terharu!” Ucap Kyuhyun. Mereka berdua tertawa sepanjang perjalanan.

****

“Appa!!!” Teriak gadis kecil itu menghampiri kedua orang pria yang tengah berbincang, meski salah satu dari pria itu tengah menampilkan wajah dukanya yang tak tertahankan. Seseorang yang dipanggil appa tadi menoleh dan tersenyum melihat putri kecilnya yang sedang menggandeng anak laki-laki, dan istrinya tengah menghampiri mereka.
“Appa… Hyuna dapat teman baru! Namanya Kyuhyun!” Ucap gadis itu saat tiba dihadapan ayahnya. Pria itu tersenyum dan menatap Kyuhyun yang tengah berdiri dibelakang putrinya.
“Benarkah?!”Hyuna mengangguk ceria dan mendekat kearahnya. Pria itu berjongkok menyamakan tingginya dengan gadis kecil itu.
“Ayah, siapa ahjussi itu??” Bisiknya. “Dia Cho ahjussi, ayahnya Kyuhyun!” Jawab ayahnya sambil berbisik juga. Hyuna menatap ayahnya takjub dengan tatapan yang seolah mengatakan ‘benarkah??’. Pria itu mengangguk dan tersenyum.
“Cah… sekarang beri salam pada ahjussi!” Hyuna tersenyum saat Ayahnya menarik tangannya untuk mendekati pria tadi.
“Annyeonghaseyo ahjussi…”Hyuna membungkukkan tubuh mungilnya dan tersenyum tiga jari.
“Annyeonghaseyo, siapa namamu gadis manis??” Tanya Ayah Kyuhyun pada Hyuna.
“Naneun Hyuna imnida! Bolehkah aku berteman dengan Kyuhyun??” Tanyanya to-the-point. Ayah Kyuhyun tertawa pelan dan mengusap rambut gadis itu.
“Tentu saja! Bahkan jika menjadi menantuku kelak, akan kuizinkan!”


Hyuna meremas tangan kirinya, sementara tangannya yang lain tengah digenggam erat oleh pria disampingnya. Entah apa yang dirasakannya rasa takut, gugup, dan mungkin sedikit bahagia. Mereka berdua berjalan beriringan menelusuri koridor rumah sakit menuju ke ruangan dimana ayah Kyuhyun dirawat.
Sementara Hyuna sibuk dengan rasa cemasnya, Kyuhyun tetap tenang. Pria jangkung namun berisi itu lebih memilih memikirkan kata- kata yang akan diucapkannya. Kyuhyun terus menggenggam tangan yang terasa dingin itu hingga kedepan pintu ruang perawatan.

“Kyu, tunggu!” Hyuna menghentikan langkahnya tepat sebelum Kyuhyun memutar handle pintu putih itu.

“Kenapa??” Kyuhyun berbalik, menatap gadis yang tengah terlihat gugup itu.

“Tidak apa- apa, aku hanya sedikit gugup..” Ucapnya dan tersenyum. Kyuhyun menggelengkan kepalanya dan terkekeh sebelum akhirnya membuka pintu ruang rawat inap itu.

Krekkk

Pintu ruangan yang terbuka itu menampilkan sepasang pria dan wanita tua yang tengah bercengkrama, sang pria tengah terbaring diatas ranjang dan wanita itu dengan setia mendampinginya. Suara derit pintu menyadarkan mereka berdua. Pria tua itu tersenyum saat melihat siapa yang datang.

Kyuhyun melangkahkan kakinya masuk kedalam, Hyuna yang berjalan dibelakangnya menundukkan sambil kepala. Gadis itu terlalu canggung dengan suasana saat ini.
“Selamat datang, menantuku…”


Kau terlihat seperti kepiting rebus! Hahahaha.” Kyuhyun tertawa sambil membukakan pintu penumpang. Gadis bergaun biru itu hanya mengerutkan wajahnya mendengar Kyuhyun yang terus menggodanya.

“Huh! Diam kau Tuan Cho!” Dia mendengus sebal dan masuk kedalam mobil, meninggalkan Kyuhyun yang terus mentertawakannya. Merasa kesal dengan Kyuhyun, dia membuka kaca mobil dan menarik ujung jas abu- abu yang dikenakan Kyuhyun dengan kuat. Membuat pria yang tengah asyik tertawa itu hampir jatuh kehilangan keseimbangannya.

“Ya, ya ya…. kita berangkat sekarang, haha!” Kyuhyun masih sempat tertawa melihat tingkah lucu Hyuna saat ia mulai merasa kesal.

“Cepatlah!!! Aku tak ingin terlambat, Kyu!”

“Siap, Nyonya…” Kyuhyun menghidupkan mesin mobilnya dan berlalu dari tempat itu. Selama perjalanan, tak ada satupun yang ingin memulai percakapan. Mereka berdua lebih memilih diam dan sibuk dengan urusan masing- masing. Kyuhyun dengan kemudinya dan Hyuna tentang kunjungannya dirumah sakit tadi, yang membuat Kyuhyun terus mentertawainya.

***

“Selamat datang, menantuku…” Pria tua itu tersenyum pada Hyuna, membuat gadis itu mendongakkan kepalannya yang sedari tadi menunduk. Dia memamerkan senyuman kakunya.

“Ba- bagaimana kabarmu, ahjussi???” Tanyanya. Nada gugup gadis itu sangat terbaca. Kyuhyun hanya menahan tawa melihat tingkah gadis itu. Pria tua itu tersenyum ramah menatap Hyuna yang masih enggan menatapnya.

“Tentu saja aku baik… sangat baik, apalagi saat aku menerima kabar putraku akan menikah….” Jawabnya dan tersenyum. Hyuna masih menunduk dan terdiam, ini bukan gayanya.

“Sayang…” Bisik Kyuhyun. Hyuna menoleh kearahnya dan menatap bingung. ‘Apa?!’ Kyuhyun melampirkan tangannya kebahu Hyuna. Hyuna melebarkan matanya kearah Kyuhyun, kemudian menyikut pinggang pria itu dengan tangan kanannya. Kyuhyun semakin mengeratkan tangannya di bahu gadis itu.

“Tak perlu sungkan, sayang… Dia juga akan menjadi ayahmu!” Hyuna menjauh dari Kyuhyun yang terus saja menempel kearahnya.

“Aigoo, kalian sangat mesra, aku jadi iri!” Mereka menghentikan tingkah mereka saat suara Ayah Kyuhyun dan kekehan pelan ibunya menyela.

“Sepertinya mereka sudah tidak sabar lagi, yeobo!” Kini giliran ibu Kyuhyun yang bersuara. Hyuna kembali menundukkan kepalanya, wajahnya memerah!
.
.
Mereka semua berbincang, Kyuhyun dan ayahnya sedang membicarakan masalah perusahaan. Hyuna dan ibu Kyuhyun sibuk dengan obrolan perempuan. Hyuna sesekali menunduk malu, menyembunyikan wajahnya yang mulai memerah saat ibu Kyuhyun menggodanya. Ditengah- tengah obrolan, Kyuhyun mengajak Hyuna untuk pulang. Mereka harus bersiap untuk menghadiri upacara pernikahan Siwon.

“Appa! Kami pulang…” Kata Kyuhyun. Pria tua itu tersenyum dan menatap mereka lembut.

“Ya, aku mengerti! Anak muda selalu punya alasan untuk selalu berduaan…” Hyuna memerah, menundukkan kepalanya.

“Ahjussi… cepat sembuh eoh!!” Hyuna membungkukkan badannya, begitu pula dengan Kyuhyun. Saat Hyuna hendak membalikkan tubuhnya, dengan tidak sengaja dia menyandung tiang penyangga ranjang rumah sakit. Itu membuatnya limbung dan hampir terjatuh, beruntung Kyuhyun menangkapnya sebelum tubuh cantiknya mendarat dilantai marmer putih itu.

“Aigooo, lain kali hati- hati. Jangan terlalu tergesa- gesa, pernikahan kalian pasti akan dilaksanakan.” Ucapan pria tua itu membuat Hyuna memerah. Bukan karena sakit yang tidak seberapa, namun malu yang tak tertahankan. Betapa cerobohnya dia!!

bersambung…

akhirnya part.  4 ini dipublish juga… huft…

ff ini aku publish akibat ke-galau-an yang melanda karena FlyiNC akan ditutup T.T

The Reason Chapter 2

 

The-Reason-poster-picsay

Author :
• HanneulKim
Title :
• The Reason Chapter 2
Category :
• Friendship, Yadong, little yaoi, NC-21, Chapter
Cast :
• Cho Kyuhyun
• Kim Hyuna (OC)
Other cast :
• Lee Sungmin
• Find other
Warning!!! Typo bertebaran…. Siapin hati dan fikiran anda… terutama kantong muntah…

Happy reading Guys :*

“Kyuhyun!! Jangan tonton televisinya!!!” Ucap Hyuna ketika memasuki pintu kamar Kyuhyun. Namun gadis itu terlambat, Kyuhyun telah menghidupkan televisinya yang menampilkan sebuah berita yang dia tak ingin Kyuhyun melihatnya.

‘Putra bungsu pemilik CYH enterprise, Cho Kyuhyun. Dikabarkan tengah menjalin sebuah hubungan terlarang dengan seorang aktor drama musikal bernama Lee Sungmin. Namun, dalam lain kesempatan, sebuah berita mengatakan Sungmin akan menikahi seorang aktris bernama Kim Saeun. Akankah berita itu sebuah kebohongan atau hanya sebuah sensasi yang dibuat untuk meningkatkan popularitas Lee Sungmin? Namun, beberapa bukti menyatakan Cho Kyuhyun dan Sungmin memang benar- benar menjalin sebuah hubungan spesial yang terlarang…. Tit..’

Hyuna mematikan televisi layar datar itu. Kyuhyun hanya diam menatap Hyuna, pria itu bingung dengan apa yang terjadi. Di lain sisi, pria itu juga takut dengan hal- hal yang akan terjadi selanjutnya karena penayangan berita itu. Bagaimana sikap keluarganya jika mengetahui hal itu. Kyuhyun takut dunia akan meninggalkannya bila semuanya terungkap.
Hyuna dan Kyuhyun hanya diam dan saling menatap. Suasana hening melingkupi kamar itu hingga sebuah suara memecahkan keheningan.

“Cho Kyuhyun!! Kemari kau!!” Suara berat sang Ayah menggemparkan seisi rumah keluarga Cho. Sementara itu, Kyuhyun menatap Hyuna dalam- dalam mengisyaratkan Hyuna agar memberitahunya apa yang harus Kyuhyun lakukan saat itu.

“Turunlah, Cho Kyuhyun. Aku akan menemanimu….” Ucap Hyuna dan menggandeng lengan pria itu agar ikut turun dengannya.

****

Pria tua itu menatap Kyuhyun dengan nafas yang memburu. Matanya yang berkerut itu menatap Kyuhyun tajam. Kyuhyun hanya diam dan menundukkan kepalanya. Sementara itu, Hyuna menggenggam tangan Kyuhyun yang terasa dingin untuk menenangkkannya.

“Apa benar semua itu??!!” Pria tua itu memelankan suaranya, mencoba menahan emosinya yang membuncah. Sementara itu Kyuhyun hanya diam dan masih menundukkan kepalanya.

“Jawab aku, Cho Kyuhyun!!! Apa itu benar??”

“Ya, appa. Berita itu memang benar!! Aku memang mencintai Sungmin!!” Ucap Kyuhyun dengan suara yang bergetar.

‘Plakk’

“Yeobo….”

“Ahjussi….” Ucap Hyuna, dan ibu Kyuhyun serentak saat melihat sebuah tamparan keras menghampiri pipi kiri Kyuhyun. Pria itu mengeluarkan darah dari sudut bibirnya.

“Aku tak tahu apa yang harus kulakukan denganmu, Cho Kyuhyun!! Kau benar- benar membuatku malu!!! Enyalah kau dari hadapanku!!” Kyuhyun dan semua orang yang ada diruangan itu menatap ayahnya Kyuhyun terkejut, terutama Hyuna.

“Ahjussi… Jaga bicaramu!!” Ucap Hyuna pelan.

“Kau, anak kecil tau apa?!” Ucap Ayah Kyuhyun tegas dan menatap gadis itu tajam.

“Ahjussi yang tidak tahu apa- apa tentang Kyuhyun… Bukan aku…” Hyuna diam dan menundukkan kepalanya. Sudut matanya mengeluarkan air mata, dia terlalu sedih jika mengingat hal yang menimpa sahabatnya itu.

Flashback

“Kyuhyun!!!” Seorang yeoja bertubuh tidak terlalu tinggi itu menghampiri Kyuhyun.

“Hey!! Apa kau tak mendengarku?? Tunggu aku, eoh!!” Ucapnya lagi sambil berlari, menyamai langkahnya dengan pria jangkung itu.

“Mianhae, Hyuna-ya. Aku tak bisa mengantarmu pulang hari ini…. Aku akan pergi ke suatu tempat hari ini…” Ucap Kyuhyun sambil berjalan menjauhi Hyuna yang terus mengekorinya.

“Tak apa, Aku akan ikut juga bersamamu, Kyuhyun!” Ucap Hyuna lagi.

“Terserah!! Jika itu maumu….” Pria itu terus berjalan menjauhi Hyuna. Mengacuhkan gadis itu yang terus mengikutinya. Mereka berjalan menuju ke sebuah mobil sport hitam yang terparkir di sudut lapangan.

“Kita akan kemana hari ini??” Ucap Hyuna tanpa dihiraukan oleh Kyuhyun. Pria itu terus melakukan kegiatannya tanpa mempedulikan gadis itu yang terus berkicau. Kyuhyun duduk dibangku kemudi dan Hyuna duduk disampingnya. Suasana di dalam mobil menjadi sunyi karena tak satupun dari mereka yang berniat memecahkan suasana.

“Konsultan kejiwaan?? Psikolog??” Gumam Hyuna melihat tempat yang akan mereka kunjungi. Kyuhyun masih diam dan tidak menghiraukan Hyuna.

“Kyuhyun!! Jelaskan padaku, kenapa kita ketempat seperti ini?? Kau tidak gila kan??” Ucapnya dengan sedikit berteriak, karena kesal Kyuhyun terus diam terhadapnya. Pria itu menatapnya tajam.

“Diam!! Dan ikut saja, kalau kau tidak mau.. kau bisa duduk disini!!” Desis Kyuhyun.

“Baiklah aku diam, dan menunggumu disini…” Tanpa menunggu Hyuna menyelesaikan kalimatnya, Kyuhyun langsung berjalan menjauhi gadis itu.

“Cihh dasar!!” Desis Hyuna dan menatap punggung pria itu yang menjauhi tempatnya berada. Dia duduk menyender pada kursi mobil. Mengeluarkan sebuah PSP dari saku almamater sekolahnya, dan mulai memainkan benda berwarna merah jambu itu.

Setelah bermain selama satu jam, akhirnya rasa bosan itu datang menyanderanya. Hyuna menatap kearah luar mobil setelah mem-pause gamenya terlebih dahulu. Pria jangkung berkulit pucat itu tak kunjung menampakkan batang hidungnya. Hyuna kembali memainkan benda pusakanya itu guna membunuh kebosanan yang melandanya.

Setelah berlama- lama bermain game, Hyuna akhirnya merasa jengah dan mencoba menyusul Kyuhyun kedalam tempat itu. Hyuna bangkit dari duduknya dan membuka pintu mobil itu perlahan. Melangkahkan kaki mungilnya menuju kedalam ruangan. Namun, belum sempat ia membuka pintu kaca. Sesosok Kyuhyun dengan raut wajah yang tak terbaca.

“Kyuhyun!! Kenapa lama sekali?!” Tanya Hyuna, namun tak dihiraukan oleh Kyuhyun. Namja itu terus berjalan tanpa mempedulikan Hyuna yang menanyakannya.

“Yakk!!! Kyuhyun, ada apa denganmu?? Ceritakan padaku, eoh!!” Hyuna mulai khawatir melihat Kyuhyun yang tak merespon pertanyaannya. Pria itu terus berjalan menuju mobilnya yang terpampang di parkiran.

“Kyuhyun… Ada apa ini? Ceritakan sesuatu padaku!!” Ucap Hyuna pelan. Gadis itu menghembuskan nafasnya lega saat melihat Kyuhyun yang menolehkan kepalanya. Pria itu menatap Hyuna dalam- dalam dengan tatapan sendunya.

“Hyuna-ya…” Gumam Kyuhyun pelan. Hyuna menyentuhkan tangan kanannya pada garis rahang Kyuhyun.

“Maukah kau berjanji padaku?? Tidak menjauhiku dan meninggalkanku bila suatu hal terjadi padaku? Kau mau??” Tanya pria itu pelan. Hyuna menatap Kyuhyun dalam- dalan dan menganggukkan kepalanya.

“Ya, Kyu…” Kyuhyun mendesahkan nafasnya berat.

“Aku penderita SSA….” Ucapnya pelan. Hyuna mengerutkan alisnya menatap pria itu. Dia sedikit tidak mengerti dengan apa yang Kyuhyun ucapkan.

“Apa itu??” Tanyanya. Kyuhyun menundukkan kepalanya, dia takut untuk menjelaskan hal itu lebih detail.

“Same Sex Attraction…” Ucap Kyuhyun pelan. Hyuna melebarkan matanya menatap Kyuhyun. Namun didetik selanjutnya gadis itu menampilkan wajah tenangnya dan tersenyum. Kyuhyun menatap Hyuna bingung.

“Kenapa?? Apa kau tak merasa jijik padaku, Hyuna-ya?? Aku ini gay..” Ucap Kyuhyun merasa aneh pada sahabatnya itu.

“Kenapa jijik?? Akukan sudah berjanji padamu, Kyu!!” Ucapnya dan tersenyum lagi pada Kyuhyun. Kemudian, Kyuhyun memeluknya erat.

“Apa yang harus aku lakukan??” Ucap Kyuhyun pelan disela- sela pelukannya.

“Kita akan cari cara untuk menyembuhkanmu, eoh??”

“Tak ada cara untuk menyembuhkanku, Hyuna-ya… Begitu kata dokter!!”Hyuna melepaskan pelukannya pada Kyuhyun. Menatap Kyuhyun dengan tajam.

“Tak ada yang tidak mungkin, Cho Kyuhyun!!! Persetan dengan dokter itu!!” Ucap Hyuna marah.

Flashback off

“Aww.. appo…” Pria itu meringis saat sebuah handuk hangat membasuh sudut bibirnya.

“Aw… Bisakah kau sedikit pelan, Hyuna-ya. Ini benar- benar sakit..” Kyuhyun mengerutkan alisnya saat melihat Hyuna diam tanpa jawaban. Gadis itu terlalu serius dengan luka yang bersarang pada sudut bibir Kyuhyun. Mata gadis itu juga memerah, entah karena apa.

“Hyuna-ya….” Kyuhyun menahan pergelangan tangan Hyuna saat gadis itu beranjak pergi. Hyuna membalikkan tubuhnya menghadap Kyuhyun. Mereka saling bertatapan dalam diam, Kyuhyun sangat terkejut saat tiba- tiba Hyuna memeluknya. Gadis itu menangis dalam pelukannya.

“Kyuhyun…” Hyuna memeluk Kyuhyun erat. Pria itu hanya diam mematung, dia terlalu bingung atas kejadian ini. Perlahan, Kyuhyun membalas pelukan Hyuna. Gadis itu masih menangis.

“Uljima….” Kyuhyun mengelus punggung Hyuna, mengalirkan ketenangan pada tubuh gadis itu. Setelah lama menangis, Hyuna merenggangkan pelukannya, menatap Kyuhyun dengan matanya yang memerah dan masih mengeluarkan airmata.

“Kyuhyun…. Kenapa?? Kenapa kau mengakuinya?? Tidak bisakah kau berbohong sedikit??” Hyuna menatap Kyuhyun. Pria itu tersenyum padanya dengan semanis mungkin.

“Tidak… Aku tak bisa, Hyuna-ya…” Kyuhyun mengelus surai lembut gadis itu.

“Wae??” Suara serak Hyuna bertanya padanya.

“Aku tidak ingin menambah kesalahan lagi, Hyuna-ya. Sudah cukup semua kesalahan yang kubuat saat ini… Aku tak ingin menjadi pengecut!!” Ucap Kyuhyun tegas. Pria tampan itu menyampaikan sesuatu yang membuat Hyuna terkejut.

“Tapi, bagaimana dengan hidupmu?? Kebahagiaanmu??”

“Tidak!! Aku akan bahagia dengan aku yang apa adanya…” Kyuhyun menatap Hyuna dalam- dalam.

“Kyuhyun…” Hyuna kembali memeluk Kyuhyun. Tubuh berisi pria itu selalu membuatnya nyaman dengan kehangatannya.
.
.
“Jadi, kau tak akan pulang malam ini??” Tanya Hyuna. Saat ini, mereka sedang berada di dalam kamar gadis itu. Hyuna menyeret Kyuhyun kerumahnya setelah perdebatan yang terjadi antara Kyuhyun dan Ayahnya.

“Entahlah….” Kyuhyun menatap kearah jendela yang menampilkan jendela kamarnya yang tertutup. Rumah mereka memang bersebelahan, bahkan jendela kamar merekapun saling berhadapan.

“Bagaimana jika kau menginap dirumahku malam ini??? Setidaknya aku tidak kesepian lagi!” Tawar Hyuna dengan mata berbinar.

“Bagaimana dengan Kim Ahjussi dan ahjumma?? Apa mereka tidak akan keberatan??” Tanya Kyuhyun.

“Ayah dan ibu sedang di Jepang, lusa baru akan pulang…” Jelas Hyuna. Kyuhyun menganggukkan kepalanya menatap Hyuna. Kemudian menimbang- nimbang keputusan yang akan diambilnya.

“Baiklah.. Aku menginap disini malam ini….” Ucap Kyuhyun.

“Yeaaay!!! It’s gonna be the Best sleep over, ever!!!” Ucap Hyuna riang.

“Apa yang akan kita lakukan??? menonton drama?? Atau bermain PS??” Lanjutnya lagi sambil bergelayut manja dilengan berisi Kyuhyun. Mereka berdua berjalan keluar kamar menuju ruang tengah.

“Kita main PS saja, eoh!!!!” Ucap Kyuhyun saat berada diruang tengah.

“I see!!!”
.
.
“Yak, Kyuhyun!!! Kau curang… Itu tak adil!!” Hyuna mengerucutkan bibirnya. Pria itu menang lagi untuk ronde keberapa.

“Mwo?! Aku tidak curang, Hyuna-ssi. Mungkin kau saja yang tak pandai bermain…” Ucap Kyuhyun sambil mengibaskan tangan kanannya meremehkan Hyuna.

“Yak!! Sudahlah… Aku mau tidur, ngantuk!!” Hyuna membanting stik PS dan berlalu dari hadapan pria itu yang sibuk tertawa dengan tingkahnya.

“Hahahahahahaa…. Kau merajuk…” Kyuhyun terus tertawa hingga gadis itu tak lagi menampakkan batang hidungnya.
.
Mata onyx itu masih belum terpejam, padahal waktu telah menunjukkan bahwa hari telah berganti. Pria itu memandang langit- langkit kamar bercat biru muda itu sambil berbaring. Nafasnya sesekali mendesah berat, mencoba meringankan sedikit beban dari pundaknya.

‘Enyalah kau dari hadapanku!!’
Entah kenapa, kata- kata ayahnya tadi begitu berbekas sehingga Kyuhyun terus memikirkannya sampai tidak bisa tidur dibuatnya. Apa sehina itukah Kyuhyun dihadapan Ayahnya? Kyuhyun hanya bisa diam, tak tahu harus melakukan apa.

‘Tok..tok’

Kyuhyun menolehkan kepalanya kearah pintu yang berbunyi. Bangun dari tempat tidur itu dan beranjak mendekati pintu. Pintu itu terbuka dan menampilkan sesosok yeoja yang tersenyum padanya.

“Kyuhyun!! Kau belum tidur??” Tanya Hyuna pelan.

“Ya!! Kau sendiri belum tidur!!” Jawab Kyuhyun.

“Itu karena aku belum mengantuk, Tuan Cho!!” Hyuna melangkah melewati Kyuhyun begitu saja.

“Cihh… Katanya tadi mengantuk…..” Desis Kyuhyun pelan. Nerutuki tingkah konyol sahabatnya itu.

“Aku tidak bisa tidur, Kyuhyun!! Apa kau juga begitu??” Tanya Hyuna yang langsung berbaring ke tempat tidur itu.

“Yakk!! Kau kenapa tidur disitu?? Bagaimana aku bisa tidur??” Ucap Kyuhyun pada Hyuna yang tidak peduli dengan aksi protes Kyuhyun.

“Aku tidak bisa tidur dikamarku sendirian, Kyu!! Aku takut, tadi aku mimpi buruk!!” Bohongnya, padahal Hyuna memang ingin tidur disini bersama Kyuhyun.

“Kau tidak usah berbohong, nona!! Bilang saja kau ingin kutemani tidur, Ya kan??” Kyuhyun mendekat dan ikut berbaring disebelah Hyuna.

“Hehe..” Hyuna tertawa pelan. Kyuhyun memang mengetahui segala yang ada pada diri gadis itu, begitu juga sebaliknya. Mereka dibesarkan bersama- sama karena rumah mereka yang bersebelahan. Ditambah lagi hubungan kedua orang tua mereka yang cukup akrab membuat mereka bersikap layaknya sepasang kakak dan adiknya.

“Kyuhyun… Bolehkah aku memelukmu??” Tanya Hyuna. Kyuhyun menolehkan kepalanya menatap yeoja itu. Memiringkan tubuhnya agar gadis itu dengan mudah memeluk tubuhnya.

“Hmm” Gumam pria itu pelan. Dengan antusias Hyuna memeluk tubuh berisi Kyuhyun.

“Hahh…. Kau begitu empuk seperti boneka teddy bear..” Ucapnya. Mereka tertawa bersama. Dan akhirnya tertidur bersama pula.

****

“Eomma!!! Appo… hentikan eomma!!” Seorang gadis kecil berteriak kesakitan saat seorang wanita paruh baya terus memukuli tubuhnya.

“Eomma… Jangan pukul noona… hiks… eomma..” Datang lagi seorang anak laki- laki yang berusia lebih muda dari anak perempuan itu mendekat kearah ibu dan kakak perempuannya.

“Kyuhyun, diam!! Atau kau mau ibu pukul juga seperti kakakmu!!” Wanita itu mengangkat tongkat kecil ditangannya hendak memukul Kyuhyun. Sementara itu Kyuhyun hanya diam sambil menangis.

“Eomma… Jangan pukul Kyuhyun!! Pukul aku saja…” gadis kecil tadi mendekat kearah ibunya.

“Ya sudah!! Kalian berdua akan kupukul!!!” Namun, belum sempat tongkat itu melayang kearah mereka, gadis kecil itu jatuh pingsan dengan air mata yang membekas dipipinya.

“Ahra!!” Ucap wanita paruh baya itu menepuk pipi putri kecilnya pelan. Kyuhyun yang melihat kejadian itu hanya diam.

“Andwe……”
.
.
“Andwe!!!” Kyuhyun berteriak, dan terbangun dari tidurnya. Peluh memenuhi kepalanya, pria itu mengalami mimpi buruk. Atau lebih tepat, mengingat secelumit kisah kelamnya dari masa lalu.

“Kyuhyun, ada apa??” Hyuna ikut terbangun dari alam bawah sadarnya ketika mendengar suara Kyuhyun. Matanya melebar ketika Kyuhyun langsung memeluknya.

“Dia kembali… Hyuna aku takut!” Ucapnya dalam pelukan itu. Hyuna mengelus punggung Kyuhyun, menenangkan pria itu.

“Tak ada yang terjadi, Kyuhyun. Aku akan tetap disini dan tak akan pernah meninggalkanmu, eoh… tenanglah!!” Ucapnya.

“Berjanjilah, untuk selalu bersamaku apapun yang terjadi, Yaksok??”

“Yaksok….”


“Kau dari mana saja!! Menemui pasanganmu itu??” Kyuhyun menundukkan kepalanya saat mendengar suara ayahnya.

“Tidak appa, aku dari rumah Hyuna…” Ucap Kyuhyun jujur. Kemudian Kyuhyun berjalan menuju kamarnya tanpa mempedulikan ayahnya yang berteriak lagi diruangan itu. Kyuhyun butuh ketenangan saat ini.

Kyuhyun menutup pintu kamar itu pelan, meredam semua suara dan menciptakan keheningan. Pria itu melangkahkan kakinya pelan menuju kamar mandi yang terletak di sudut ruangan. Kyuhyun melepaskan satu per satu lembaran kain yang melekat pada tubuhnya. Tetesan air hangat membasahi tubuh polosnya, pria itu memejamkan matanya. Menikmati ketenangan sesaat yang dibuatnya.

‘Aku ingin menjadi normal… Sekarang kumohon, lupakan aku.’

‘Kau benar- benar membuatku malu!!! Enyalah kau dari hadapanku!!’

Bayangan kedua pria itu terus menghantuinya akhir- akhir ini. Entah hal apa yang membuatnya harus mengalami masa- masa sulit yang tak terduga sekaligus. Mungkin akan ada makna dari setiap kejadian, kuharap begitu.

****

‘Tuan… Bagaimana pendapat anda mengenai berita itu???’

‘Klikk’

‘Apa semua itu benar?’

‘Kenapa belum ada konfirmasi langsung??’

‘klikk’

‘Tuan Cho…’

Semua wartawan mengarahkan blitz kameranya dan menembakkan beberapa pertanyaan pada Kyuhyun ketika pria itu keluar dari mobilnya menuju kedalam kantor tempatnya bekerja. Beruntung, ada beberapa security yang melindunginya dari desakan wartawan- wartawan itu. Kyuhyun hanya diam, tak menanggapi pertanyaan yang dilemparkan beberapa wartawan yang mengerumuninya.

Beberapa karyawan dikantor itu membungkukkan badannya, memberi hormat pada Kyuhyun. Namun, Kyuhyun hanya menganggukkan kepalanya pelan dan melewati pegawainya begitu saja.

Beberapa karyawan hanya bisa mengumpat pelan karena sikap angkuh Kyuhyun ketika pria itu masuk kedalam lift khusus. Pintu lift terbuka ketika berhenti pada lantai 15 gedung tinggi itu. Kyuhyun melangkahkan kakinya pelan menuju ruangannya. Kyuhyun langsung disambut dengan beberapa tumpuk kertas yang harus dibacanya untuk ditanda tangani.

Kota Seoul terlihat cerah pagi ini, meskipun sudah memasuki awal musim dingin. Kyuhyun memandang kearah luar kantor yang hanya tertutupi kaca. Pria itu melirik kearah bawah gedung itu, beberapa wartawan masih setia menunggu. Kyuhyun mengumpat pelan, mungkin akan menjadi sesuatu yang sulit selama beberapa waktu.

‘ddrrtt.. ddrrtt’

Sebuah getaran pari saku celananya membuat Kyuhyun mengalihkan perhatiannya sejenak. Pria itu mengerutkan alisnya melihat id caller yang tertera pada ponselnya.

“Yeoboseo… Ada apa Eomma??”

‘…….’

“Mwo?! Tunggu aku disana!!… tut..” Kyuhyun memutuskan sambungan teleponnya dan berlari menuju keluar ruangan dengan terburu- buru. Menuju sebuah tempat yang ditujunya.

****

Seorang pria bertubuh jangkung itu berlarian dikoridor rumah sakit. Kulitnya yang pucat kini terlihat lebih pucat dari biasanya, keringatpun mengalir dari pelipisnya. Pria itu begitu ketakutan sekarang. Dia mempercepat langkahnya melihat seorang wanita paruh baya yang tengah duduk menunudukkan kepalanya didepan sebuah ruangan.

“Eomma!!” Wanita itu menoleh pada Kyuhyun, matanya memerah sehabis menangis.

“Kyuhyun!!!” Wanita yang dipanggil Kyuhyun sebagai ibu itu berdiri saat Kyuhyun semakin dekat dengannya.

“Ada apa, Eomma?? Apa yang terjadi pada appa?” Tanya Kyuhyun. Dia menampilkan wajah khawatirnya.

“Ayahmu, dia ditemukan pingsan di ruang kerjanya tadi… Aku takut sesuatu yang buruk terjadi padanya, Kyuhyun!!” Ibunya menangis, dia memeluk tubuh jangkung Kyuhyun.

“Tenanglah, eomma!! Lebih baik kita berdo’a bersama…” Kyuhyun menenangkan ibunya.
Mereka berdua duduk bersama diruangan tunggu rumah sakit itu. Menunggu dokter keluar dengan hasil pemeriksaannya. Kyuhyun memanjatkan do’a untuk kebaikan ayahnya setiap detik sembari menunggu hasil yang sebenarnya.

“Kerabat Tuan Cho….” Seorang perawat berpakaian serba putih itu keluar dengan sebuah papan hasil laporan ditangannya. Kyuhyun pun berdiri dan menghampiri perawat itu.

“Ne… Saya putranya…”

“Silahkan masuk, Dokter Kim ingin berbicara pada anda.” Perawat itu mempersilahkan Kyuhyun masuk kedalam salah satu ruangan di UGD rumah sakit itu.
.
.
“Tuan Cho mendapat serangan jantung, beruntung beliau tidak terkena stroke. Bila itu terjadi akan sangat membahayakan nyawanya…” Jelas dokter itu.

“Jadi, apa ada hal yang harus kami lakukan untuk kesembuhannya, Dok?”

“Untuk saat ini belum ada yang dapat kita lakukan, akan terlalu berbahaya jika melakukan operasi saat ini karena tekanan darahnya yang cukup tinggi…”

“Saat ini kita hanya perlu menahan detak jantungnya agar tetap stabil dengan tidak membuatnya marah ataupun shock…” Jelasnya panjang lebar, Kyuhyun hanya mengangguk pelan dan menatap ayahnya yang terbaring itu sendu.

“Baiklah, untuk sementara waktu hanya itu yang dapat saya jelaskan. Saya permisi dulun tuan..” Ucap dokter itu dan berlalu dari hadapan Kyuhyun.

“Ne.. uisanim.. Gamsha hamnida..”
Kyuhyun mengikuti dokter itu keluar dari ruang perawatan ayahnya. Menghampiri ibu tirinya yang menatap Kyuhyun penuh tanya. Wanita paruh baya itu mendekati Kyuhyun dan melemparkan pertanyaannya.

“Bagaimana keadaanya, Kyu??”

“Appa terkena serangan jantung, tapi tidak begitu bermasalah saat ini, eomma!” Jelas Kyuhyun.

“Apa aku bisa mengenjunginya sekarang?” Tanya wanita itu pada Kyuhyun. Pria itu hanya menganggukkan kepalanya. Dengan sesegera mungkin wanita paruh baya itu memasuki ruang rawat Ayah Kyuhyun. Sementara itu dia hanya diam dan berdiri mematung didepan ruangan itu.

Kyuhyun mengeluarkan ponsel dari saku celananya. Membuka kontak dan mencari id yang selalu dihubunginya saat dia sedang ingin mencurahkan hatinya. Dia butuh gadis itu sekarang.
“Aku butuh kau. Bisakah kau kemari sekarang, Hyuna-ya??”
.
.
“Cho Kyuhyun!!” Pria itu membalikkan tubuhnya menuju asal suara itu, menatap seorang gadis yang berlari kecil kearahnya.

“Hyuna-ya…” Gumam Kyuhyun pelan saat yeoja itu mendekat kearahnya.

“Ada apa?? Apa yang terjadi, Kyuhyun-ah??”

“Appa…. Dia terkena sakit jantung.” Ucapnya pelan. Kyuhyun memandang lurus kearah taman rumah sakit. Pria itu memperhatikan beberapa anak kecil yang bermain kesana- kemari.

“Apa?? Bagaimana bisa, Kyu??” Tanya gadis itu. Wajah terkejut begitu terlihat dari wajah Jepangnya itu.

“Tekanan darahnya tinggi. Itu semua karena aku, Hyuna-ya. Apa yang harus aku lakukan??” Tanya Kyuhyun frustasi.

“Entahlah, Kyu. Aku rasa kita hanya perlu berdo’a agar beliau mendapat kesembuhan… Omoona!!” Ucapnya, gadis itu membelalakkan matanya saat melihat sepasang anak manusia itu berjalan kearah mereka.

“Waeyo??” Kyuhyun mengikuti arah pandangan Hyuna. Mendapati seorang namja bertubuh atletis itu tengah menggandeng seorang yeoja bertubuh tinggi dengan wajah orientalnya. Mereka tampak tidak menyadari kehadiran Kyuhyun dan Hyuna.

“Oh, Choi Siwon-sshi.” Ucap Kyuhyun saat mereka berpapasam. Mereka berdua berdiri dari tempat duduk itu saling berpandangan.

“Annyeonghaseo oppa!!” Ucap Hyuna. Siwon dan perempuan disampingnya itu terlihat terkejut dengan kehadiran kedua orang itu.

 

“Oh.. Annyeonghaseyo…” Ucap seorang gadis yang berdiri disamping Siwon. Sementara pria itu hanya diam mematung menatap kedua orang dihadapannya itu.

“Apa yang kalian lakukan disini??” Akhirnya pria itu angkat bicara.

“Ayahku sedang dirawat disini…” Ucap Kyuhyun. Siwon memandang Kyuhyun dan Hyuna.

“Oppa, siapa yang ada disampingmu itu?? Kenapa tidak mengenalkannya pada kami??” Tanya Hyuna santai, padahal rasa sakit menyelubungi hatinya saat ini.

 

“Dia calon istriku, Kim Haneul…” Gadis itu mengulurkan tangannya pada Kyuhyun dan Hyuna, mereka menyambut uluran itu dengan baik.

“Aku Kim Hyuna, teman Siwon oppa. Dan ini Cho Kyuhyun… eum.. Kekasihku!” Kedua pria yang ada disana menatap Hyuna terkejut. Terutama Kyuhyun, pria itu menatap Hyuna.

“Benarkah?? Baguslah kalau begitu…” Ucap Siwon datar. Sementara Haneu yang tidak begitu mengerti dengan situasi yang sebenarnya hanya diam memandangi mereka bertiga.

“Baiklah.. Aku permisi dulu, ayo sayang!” Ucap Siwon pada kekasihnya, mereka pergi meninggalkan tempat itu.

“Apa?? Kekasih…??” Tanya Kyuhyun saat kedua orang itu sudah tidak terlihat lagi. Pria itu memandang Hyuna dengan tatapan anehnya dan kembali duduk di bangku taman rumah sakit itu.

“Ya, kekasih… Eh Kyuhyun, aku punya usul…” Ucapnya memandang Kyuhyun dengan tatapan berbinarnya.

“Apa??”

“Bagaimana kalau kita menikah???” Tanya gadis itu.

“Oh… Menikah..” Jawab Kyuhyun santai, dia belum menyadari apa yang diusulkan Hyuna. Namun dalam beberapa saat kemudian.

“Apa?! Menikah?!!”

TBC

 

Part sebelumnya klik disini