The Reason Chapter 10

The Reason Chapter 10

thereasoncover

Author :

• HanneulKim

Title :

• The Reason Chapter 10 –Kesalahpahaman –

Category :

• Friendship, Yadong, NC-17,Chapter

Cast :

• Cho Kyuhyun

• Kim Hyuna (OC/ Bukan HyunA 4minute ya… eh tapi, tergantung pemikiran kalian deh.. hehe J)

Other cast :

• Lee Sungmin

• Choi Siwon

• Find other

Warning!!! Typo bertebaran…. Siapkan hati dan fikiran anda… terutama kantong muntah…

Happy reading Guys :*

Pagi ini begitu dingin, warna putih telah mendominasi seluruh kota. Salju yang turunlah menjadi penyebab utamanya. Mereka begitu sejuk, membuat siapapun terbuai olehnya. Begitu pula Hyuna, perempuan itu masih larut dalam selimutnya. Suhu yang cukup dingin bergesekan dengan kulitnya yang telanjang, membawanya lebih khusyuk kedalam mimpinya.

‘Kring… kring…’

“Sial!” Dia mengumpat pelan. Dengan terpaksa, ia beranjak dari tempat tidurnya. Dalam beberapa saat, dia baru menyadari bahwa pria itu tidak lagi tidur disampingnya.

“Kemana dia??” Hyuna berjalan pelan sembari memunguti pakaian yang berserakan di lantai. Mengingat apa yang terjadi semalam membuat pipinya memerah.
.
.

“Eommanim…” Hyuna menyapa seorang wanita paruh baya yang tengah dengan berbagai macam peralatan didapur. Semenjak pulang dari Hawai, mereka memilih untuk tinggal dirumah orang tua Kyuhyun. Well, sebenarnya mereka tidak begitu mempermasalahkan mengenai tempat tinggal. Mengingat, rumah orang tua mereka letaknya bersebelahan.

“Ah, Hyuna-ya. Kau sudah bangun rupanya!” Hyuna berjalan mendekat kearah Ibu mertuanya itu.

“Ne, apa ada yang bisa kubantu??” Tanya-nya. Saat ia hendak memegang pisau, sebuah tangan mencekalnya.

“Tidak perlu! Kau hanya perlu duduk manis disana, sayang! Aku yakin kau pasti lelah!” Mertuanya itu mengedipkan matanya jahil. Hyuna tersipu mendengar maksud terselubungnya itu. Matanya menyusuri setiap sudut ruangan, mencoba menemukan jejak- jejak Kyuhyun disana.

“Jika kau mencari ‘suamimu’ maka kau tak akan menemukannya disini, sayang! Dia sedang berlari pagi diluar.” Dia menghembuskan nafasnya. Bagaimana aku bisa melupakan kebiasaannya?? Bodoh!

Hyuna duduk diam dikursinya, menatap punggung wanita paruh baya itu penuh tanya. Kelembutan dan kehangatan yang diberikannya sama sekali tidak menggambarkan sosok ibu tiri, ataupun sosok perempuan perebut suami orang. Kasih sayangnya sungguh berbeda. Dia tampak menyayangi Kyuhyun sebagaimana darah dagingnya sendiri.

Ya, Kyuhyun memiliki ibu tiri yang selama ini ia panggil Eomma. Wanita itu begitu menyayangi Kyuhyun, bahkan melebihi kasih sayang ibu kandungnya sendiri. Ibu kandungnya bahkan meninggalkan luka yang sangat dalam dan berbekas dihatinya. Kalian akan mengerti apa yang kumaksudkan, bukan?

“Hyuna-ya! Jangan melamun terus.” Ucapnya lembut. Hyuna tersenyum pada wanita paruh baya itu. Dia menggeleng- gelengkan kepalanya pelan. Aku tahu maksudnya! Pipinya bersemu merah.


“Kyuhyun!” Pria itu menoleh. Namun tetap berkonsentrasi pada jalanan yang terhampar didepannya.

“Ada apa??” Hyuna berfikir sebentar. Apa sudah saatnya aku menanyakan hal itu padanya??

“Ah, tidak jadi.” Mereka terus diam. Perjalanan itu menjadi sangat panjang karena keanehan yang mereka buat sendiri.

“Kyu.. Apa nanti siang kau ada acara??” Kyuhyun menggeleng pelan.

“Kurasa tidak, ada apa??”

“Bagaimana jika kita makan siang bersama??” Matanya berbinar. Dia sangat ingin menikmati makan siang yang indah bersama suaminya itu.

“Baiklah, nanti akan kujemput.” Pria itu masih tetap berkonsentrasi pada jalanan dihadapannya. Tak lama, mobil yang mereka kendarai berhenti disebuah klinik tempat Hyuna bekerja.

“Aku pergi dulu, Kyu! Hati- hati dijalan.” Cupp. Hyuna mengecup pipi Kyuhyun , sebelum akhirnya memilih keluar dari mobil itu. Sementara Kyuhyun hanya diam, mencoba mengenali getaran aneh yang terus bergelayut manja didalam relung hatinya.


“Kau telah merebut suamiku! Dasar jalang!” Seorang yeoja maju beberapa langkah, wajahnya memerah menahan amarah. Dia berjalan mendekati perempuan lain yang tengah berdiri di hadapannya dengan ekspresi cemas.

“Kau salah, eonnie! Aku tak pernah merebutnya darimu, ini semua hanya salah paham!” Dia semakin merasa takut saat wanita itu semakin mendekat.

“Salah paham??!” Teriaknya. Suaranya menggelegar, terdengar begitu menyeramkan.

“Salah paham katamu, setelah bukti yang kuterima saat ini??” Dia menunjuk kearah perempuan itu, masih dalam nada yang cukup tinggi.

“Tidak, eonnie! Ini tidak seperti yang kau pikirkan!” Wanita yang dipanggil ‘eonnie’ itu mendenguskan nafasnya.

“Apa yang kau tahu tentang pikiranku??” Desisnya. Nadanya sangat pelan, namun mencekam. Wanita itu tertawa mengejek.

“Kau tak akan pernah tau, karena kau dan bayi sialanmu itu merebut segalanya dariku! Segalanya, sampai tak tersisa sedikitpun!” Perempuan itu mematung.

“Maafkan aku, eonnie. Ini semua salahku, apa yang harus aku lakukan untuk menebus segalanya??” Dia menangis. Beban yang berat menghimpit dadanya, dia tak pernah tau ini akan menyakiti wanita itu.

“Tak ada satupun yang bisa kau lakukan kecuali…” Wanita itu menyeringai, kemudian melanjutkan kalimat mengejutkannya.

“Tinggalkan Kyuhyun, dan menjauhlah dari kehidupan kami. Selama- lamanya!”


“Kyu, bolehkah aku bertanya sesuatu padamu???” Tanya Hyuna setelah menghabiskan suapan terakhir dipiringnya. Kyuhyun hanya menjawabnya dengan sebuah gumaman, karena pria itu masih asyik dengan makanan dihadapannya.

“Apa kau… err, menyayangi Ibumu??” Kyuhyun menghentikan makannya, menatap Hyuna dengan diam.

“Kau tak harus menjawabnya sekarang, Kyu. Aku akan menunggu kapanpun kau akan siap dengan jawabanmu!” Kyuhyun masih diam.

“Kyu, ayo lanjutkan saja makanmu! Anggap saja aku tak pernah menanyakan hal ini padamu!” Hyuna meletakkan tangan pria itu kembali pada tempat terakhirnya, dengan sendok dan garpunya. Tak lama, Kyuhyun melanjutkan kegiatannya dalam diam.

Hening melanda mereka, suasana canggung yang cukup kental begitu mengganggu. Kyuhyun menyelesaikan makannya, pria itu menatap piringnya yang telah bersih. Dia bingung, pertanyaan itu begitu membingungkan dan menyakitkan. Dia memiliki dua sosok Ibu yang ia kenal. Keduanya memiliki sifat yang berkebalikan, yang tidak seharusnya.

“Hyuna-ya…” Dia mendongak. Menatap Kyuhyun yang masih setia dengan piringnya.

“Hmm??”

“Aku berjanji akan menjawab pertanyaanmu, jika aku mampu.” Mereka saling bertatapan. Hyuna melemparkan senyumannya pada Kyuhyun, kemudian dia berdiri dan mengamit lengan Kyuhyun.

“Ya, tentu. Nah, kita memiliki pekerjaan lain sekarang. Ayo, jam makan siang sudah hampir habis!” Pria itu menyambutnya dengan sukacita, mereka berjalan beriringan. Hyuna berharap akan selalu ada pada posisi seperti ini selamanya.
.
.
Hyuna kembali ke klinik tempatnya bekerja dengan penuh senyum kebahagiaan. Namun, semuanya luntur seketika saat sebuah pemandangan mengacaukan penglihatannya. Seorang gadis yang begitu ia kenal tengah duduk manis di ruang tunggu, dia mengelus perutnya. Semua itu terasa tidak masuk akal baginya, baru satu bulan berlalu dan kini semuanya terasa sangat aneh. Tidak sesuai dengan waktu dan keadaan.

“Kim Haneul??” Perempuan itu mendongak. Ekspresinya terkejut saat melihat Hyuna yang menatapnya dalam ekspresi yang sama.

“Kau Kim Haneul kan??” Gadis itu berdiri dengan gugup, kemudian mengangguk pelan pada Hyuna.

“Nona Kim Haneul!” Seorang perawat keluar dari sebuah ruangan dan menghentikan niatan Hyuna untuk meminta penjelasan. Haneul berlalu menuju praktek dokter kandungan, menyisahkan kebingungan bersama Hyuna.

Hyuna menunggu Haneul didepan ruangan pemeriksaan di klinik itu. Dia ingin mengetahui cerita sebenarnya, apa yang menjadi kebenarannya. Sementara itu, Haneul memandang resah kearah dokter yang tengah memeriksakan keadaannya.

Dokter itu tersenyum pada Haneul, dan mengarahkan sebuah benda ke perut buncitnya yang teroleskan gel. Beberapa saat kemudian, keresahannya meluntur seketika begitu ia melihat gambaran kehidupan di perutnya. Hatinya menghangat, dia tak pernah merasa sebahagia ini sebelumnya. Merasa hidupnya tak selalu tidak berguna, dia merasa sangat diinginkan.

“Kandungan anda sangat sehat, nyonya. Saya harap anda dapat menjaga kesehatan anda, tidak terlalu lelah, atau stres, karena itu bisa mempengaruhi kehamilan anda!” Dokter itu membuyarkan lamunannya, kemudian menjelaskan hal- hal yang dibutuhkannya pada waktu yang akan datang.

Pertemuan itu berakhir sangat cepat, menurutnya. Tapi dapat membuatnya melupakan sebuah hal yang meresahkannya. Seseorang yang menanti penjelasannya dari balik pintu.

“Kim Haneul…” Dia menoleh kearah samping, dan mendapati Hyuna yang sedang duduk dikursi tunggu. Perempuan itu menampilkan wajah yang membutuhkan penjelasan padanya.

“Bisa kau ikut aku keruanganku, sekarang??” Tanyanya datar. Dengan pelan dan ragu, Haneul mengangguk. Gadis itu mengikuti Hyuna masuk kedalam ruangannya.


“Mianhaeyo, eonnie.”

“Kenapa kau harus meminta maaf padaku??” Hyuna mendengus. Dia belum mengerti kenapa gadis itu langsung meminta maaf padanya, memangnya dia punya salah apa??

“Aku telah merebut paksa Siwon oppa darimu…” Gumamnya pelan. Dia masih menunduk. Hyuna mendesah pelan.

“Memangnya aku memanggilmu untuk menanyakan hal itu??” Hyuna bertanya dengan ketus, sambil memegang pinggang.

“Tapi, hal itu mungkin berhubungan…”

“Apa??” Ucapnya saat mendengar bisikan Haneul. Namun, gadis itu hanya menggeleng pelan dan menunduk. Hatinya resah dan gelisah.

“Jadi bagaimana kau bisa memiliki perut sebesar ini, sementara kalian baru menikah satu bulan lamanya!” Haneul hanya diam. Dia masih takut untuk bersuara, atau tepatmya malu.

“Tapi, eonnie…” Dia terlihat ragu untuk menyampaikan kalimatnya.

“Kurasa ini bukan urusanmu…”Jawaban gadis itu membuat Hyuna bungkam. Ini memang bukan urusannya, dan seharusnya dia tak perlu perduli dengan kehidupan mereka. Karena dia memiliki kehidupannya sendiri.


“Hei!! Kenapa melamun?? ayo dimakan!” Ucap Kyuhyun yang menyadarkan Hyuna dari lamunannya. Perempuan itu melanjutkan makan malamnya, sementara otaknya masih terus berputar.

“Hyuna-ya!” Panggil Kyuhyun. Hyuna langsung menoleh padanya dan mengangkat satu alisnya.

“Ada apa, Kyu??”

“Mengenai pertanyaanmu tadi itu…” Kyuhyun terlihat ragu dengan kalimatnya.

“Tidak usah dijawab dulu, jika memang kau belum mau!” Kyuhyun menggeleng. Dia harus menjawab pertanyaan itu sekarang.

“Aku tidak tahu, apa yang kau maksud Ibu kandung atau Ibuku yang sekarang…” Kyuhyun memulai kalimatnya dengan satu tarikan nafas.

“Aku berbohong jika aku bilang aku tidak menyayangi Ibu kandungku… tapi, kau tahu bagaimana kejamnya dia saat aku kecil, dan itu membuatku ingin melupakannya!” Sambungnya.

“Mengenai Ibuku yang sekarang, aku sangat menyayanginya meskipun dia bukan Ibu kandungku! Tapi ada satu fakta yang membuatku meragukan kasih sayangku padanya…” Kyuhyun terlihat sedih.

“Apa itu?? Jika kau ingin memberitahuku!”

“Ibuku yang sekarang… adalah penyebab Ayah dan Ibuku berpisah, kau akan mengerti itu..”

‘Apa??’


“Eonnie…. Maafkan aku! Aku tidak bisa pergi darinya…” Seorang wanita yang terlihat tengah berlutut dihadapan seorang wanita yang lebih tua darinya.

“APA?!” Wanita yang lebih tua itu terlihat murka, api yang membara tergambar jelas dari kedua bola matanya.

“Sungguh! Kau wanita tidak tahu diri! Harusnya kau itu bersyukur karena orang tuaku masih mau mengurusmu, tapi apa yang kau perbuat?? Kau bahkan merebut suami kakakmu sendiri!” Teriaknya. Suaranya begitu menggambarkan apa yang dia pikirkan.

“Bisa tidak bisa, mau tidak mau, kau harus pergi darinya!”

“Eonnie, aku mungkin bisa meninggalkan Yeunghwan oppa… tapi tidak untuk putraku!” Wanita yang lebih tua itu tertawa pahit.

“Ya, seperti yang sudah aku katakan! Bisa ataupun tidak bisa, kau harus pergi dari kehidupan mereka!”

“Aku tetap tidak bisa, eonnie! Ibu mana yang bisa meninggalkan anaknya sendiri?? Bahkan hewanpun tidak mau meninggalkan anaknya…” Wanita yang lebih muda itu mencoba melawan.

“Kim Jihyun!”

“Eonnie… aku akan tetap pergi dari kehidupanmu! Tapi, izinkan aku membawa Kyuhyun bersamaku!” Suaranya melembut. Dia memohon pada wanita yang lebih tua darinya itu.

“Tidak!” Dia menggeleng keras.

“Jikyung Eonnie, pikirkan jika kaulah yang jadi aku! Bagaimana perasaanmu jika Ahra diambil secara paksa darimu??” Pandangan Jikyung melunak, tapi sebagian hatinya masih diselimuti oleh kebencian, trauma, dan dendam yang masih membara.

“Apa kau tidak pernah berfikir, jika kau yang jadi aku!!” Jikyung meninggikan suaranya. ‘Apa yang dia tau tentang bagaimana rasanya kehilangan itu??’ Bathinnya.

“Apa yang kau tahu tentang diriku??” Dia bertanya. Kali ini, nada suaranya terdengar begitu memilukan.

“Kau yang selalu ditatap Appa!! Kau yang selalu dibanggakan Appa!! Kau yang merebut Appa dari kami!! Kau dan Ibumu itu sama saja!!” Nadanya kembali berubah, seluruh intonasinya dipengaruhi oleh kebencian yang mendalam.

“Apa yang kau tahu tentang rasa sakit?? Apa yang kau tahu rasa sakit yang kualami ketika eomma melampiaskan kebenciannya pada Appa kepadaku?? Apa yang kau tahu tentang itu??” Jihyun terdiam, wanita itu benar!

“Dan akan kubuat Kyuhyun merasakan sakit yang kurasakan seumur hidupnya!”


“Yang aku tahu, Ibuku dan Ibuku yang sekarang adalah saudara tiri…” Kyuhyun menceritakan kisahnya, sebuah pengantar tidur bagi Hyuna.

“Kakek selalu memanjakan Jihyun eomma, tapi dia tak begitu memperhatikan nenek dan eomma..” Hyuna tengah berbaring, kepalanya beralaskan salah satu lengan Kyuhyun. Dia mendengarkan setiap kata yang diucapkan Kyuhyun tanpa terlewat satupun.

“Aku tak tahu apa yang terjadi pada mereka… tapi, menurutku ada sesuatu yang salah dari semua ini!” Ungkapnya lagi.

“Terlebih, aku merasakan ada hubungan yang kuat antara aku dan Jihyun eomma. Aku sendiri tidak mengerti, seharusnya aku membencinya bukan??” Hyuna menatap Kyuhyun, membelai pipi tembam pria itu.

“Tidak, Kyu! Bisa saja semua ini hanya salah paham…” Kyuhyun memejamkan matanya sebentar.

“Entahlah! Tapi semua yang kuingat mengatakan begitu, Jihyun eomma telah merebut appa, dan menyebabkan kepergian Ahra noona….” Hyuna menggeleng lagi.

“Kau tidak tau pasti apa yang terjadi, bukan?? Kenapa tidak kau tanyakan langsung saja??”


“Kyuhyun sayang…” Jihyun memanggil pria kecil yang tengah memainkan benda kecil persegi panjang itu dengan lembut.

“Ahjuma…”Kyuhyun mendekatinya, dan memeluknya erat melupakan mainan favoritnya. Baginya, wanita itu adalah seorang malaikat yang turun dari langit.

“Mulai sekarang, jangan panggil Jihyun ahjumma lagi, tapi panggil dia eomma!” Ucap ayahnya dari balik Jihyun, Kyuhyun menatap Ayahnya takut.

“Shireo!” Kyuhyun kecil melepaskan pelukannya. Dia memandang raut Jihyun yang penuh dengan kekecewaan.

“Mau ataupun tidak, kau harus memanggilnya eomma!” Ucap Ayahnya tegas. Namun, Kyuhyun belum bisa menerima permintaan ayahnya itu. Karena, menurutnya eomma nya hanya satu! Orang yang dipanggilnya eomma itu adalah sesosok monster yang selalu memukulinya. Dia tidak ingin Jihyun berubah menjadi monster saat Kyuhyun memanggilnya eomma.

“Andwe…” Kyuhyun kecil terus menggelengkan kepalanya. Dia tidak ingin mengulangi masa- masa menyakitkan itu lagi.

“Kyuhyun!”


“Eomma…” Kyuhyun memanggil ibunya dengan pelan, nyaris berbisik. Wanita itu berbalik, mengalihkan perhatiannya dari peralatan masak.

“Eomma…” Kyuhyun memikirkan kembali pertanyaan yang akan diajukannya. ‘Kenapa eomma menikahi Appa??’

“Mworago??” Tanyanya lembut. Kyuhyun hanya menggelengkan kepalanya dan tersenyum simpul.

“Tidak ada..” Dia kembali teringat kata- kata Hyuna semalam. ‘Kau tidak tau pasti apa yang terjadi, bukan?? Kenapa tidak kau tanyakan langsung saja??’

Dia sangat ingin mengetahui hal yang sesungguhnya, agar tidak terjadi kesalah pahaman. Tapi, hati kecilnya mengintruksikan agar dirinya tidak bertanya. Semuanya menjadi serba salah.

Hyuna melihat kebimbangan di mata Kyuhyun, wanita itu hanya diam dan mengawasi dari balik tembok pembatas ruang makan dan dapur. Mungkin Kyuhyun punya jalan sendiri untuk dirinya, dan Hyuna beranggapan dia tak punya hak untuk itu.

.
.

“Hyuna-ya??” Kyuhyun memanggil dengan pelan. Dia menoleh, menaikkan salah satu alisnya.

“Dulu sewaktu aku kecil, aku tidak pernah memanggil Ibuku dengan sebutan eomma…” Hyuna mendengarkan Kyuhyun. Suaminya itu mulai membuka dirinya, dan dia akan bercerita.

“Kenapa???” Hyuna tidak ingin terlalu banyak bertanya. Dia tidak mau merusak mood Kyuhyun yang sedang menceritakan masa lalunya.

“Karena, seorang yang akan kupanggil eomma akan menjadi sebuah monster yang sangat menyeramkan… Dan aku tidak ingin Ibu (Red: Ibu tiri) akan menjadi seperti eomma yang selalu memukulku dan noona! Tapi, dengan paksaan Appa akhirnya aku terbiasa memanggilnya eomma….” Dia menghela nafasnya pelan. Tapi itu semua belum apa- apa hingga Kyuhyun melanjutkan kalimatnya yang lebih mengejutkan.

“Aku tidak ingin menyayangi seorang perempuan, karena aku takut mereka meninggalkanku! Seperti Ahra noona dan eomma…”

.
.

“Hyuna-ya… Neo gwaenchana??” Kulit putihnya terlihat pucat, tubuhnya kaku, keringat dingin membasahi tubuhnya. Sedari tadi dia hanya menatap makanan siangnya tanpa minat, perutnya memang lapar tapi dia tidak sedang ingin makan saat ini.

“Ya, aku tidak apa- apa Dr. Kim!” Ucapnya.

“Jika kau memang tidak apa- apa, kenapa makanannya tidak dimakan??” Hyuna memandang makanannya tanpa minat.

“Tidak, aku hanya tidak sedang berselera! Kurasa aku terkena demam musim salju, ha-ha!” Candanya.

“Ada- ada saja kau ini! Apa itu demam musim dingin?? Selama aku menjadi dokter aku tidak pernah mendengar nama penyakit seperti itu…” Ucap Dr. Kim disela tawanya.

“Itu artinya, namaku bisa dimasukkan dalam sejarah!”


“Hhh… panas sekali..” Hyuna terbangun tidurnya. Langit masih belum menampakkan sinarnya. Malam itu, seluruh tubuhnya terasa panas, kepalanya juga terasa berputar.

“Apa yang terjadi denganmu, Hyuna-ya??” Kyuhyun yang melihat kegelisahan Hyuna tampak kebingungan.

“Tubuhku panas sekali…” Dia menyentuh kepala dengan punggung tangannya. Kyuhyun menatap Hyuna curiga, pria itu menautkan alisnya.

“Jangan- jangan…” Kyuhyun menggantungkan kalimatnya. Hyuna menatap bingung Kyuhyun yang pergi meninggalkannya menuju kamar mandi.

“Kau tidak minum obat ‘ini’ lagi kan??” Kyuhyun menodongkan obat ‘terlarang’ itu pada Hyuna. Obat yang menjadi penyebab tragedi malam pertama itu terjadi.

“Tentu saja tidak, bodoh!” Hyuna melempar Kyuhyun dengan bantal yang terbaring rapi disampingnya.

“Ya, mungkin saja kan?? Hey! Bukankah dia yang bodoh??” Gerutu Kyuhyun yang masih dapat didengar Hyuna, meskipun pria itu tengah melangkahkan kakinya kembali menuju ke kotak first aid disudut kamar.

“Aku mendengar itu, Cho Kyuhyun!”

.
.

“Kyuhyun….” Erang Hyuna dalam tidurnya. Kyuhyun yang berbaring disebelahnya itu terbangun karena Hyuna sedari tadi terus memanggil namanya.

“Hey… Hyuna- ya!” Kyuhyun menepuk pipinya pelan. Kyuhyun semakin panik saat kulit mereka bersentuhan, suhu tubuhnya sangat panas.

“Kyuhyun… uhhukk.. uhhukk..” Hyuna mengerang lagi sambil terbatuk.

“Hey bangun….” Kyuhyun menepuk pipinya lagi. Dia harus memastikan, apakah gadis itu masih sadar atau tidak.

“Kyuhyun!” Matanya yang merah itu terbuka, Hyuna menatapnya sendu sambil meracaukan hal yang tidak jelas.

“Kyuhyun cium aku… uhhukk… uhuukk..” Kyuhyun menaikkan salah satu alisnya bingung.

“Hey… kau ini kenapa??” Dia menepuk pipi Hyuna lagi.

“Kyuhyun cium aku… uhkk..”

“Hyuna kau ini… hmnpphh.” Ucapan Kyuhyun terpotong saat bibir perempuan itu membungkamnya. Hyuna mencium Kyuhyun dengan kesadaran yang rendah, namun permainannya mampu memancing gairah pria itu. Hingga akhirnya, Kyuhyun membalas ciuman Hyuna. Dia menyusupkan lidahnya kedalam mulut panas Hyuna.

“Kyuhh…” Hyuna mendesah pelan saat tangan liar Kyuhyun meraba tonjolan(?) kembarnya. Kegiatan mereka bertambah panas saat kecupan- kecupan nakal Kyuhyun berpindah kelehernya, dan meninggalkan jejak disana.

“Uhukk… uhhukk… Kyuhyun… Uhkk.” Kyuhyun tersadar. Pria itu terlalu larut dalam gairahnya, dia sampai lupa kalau Hyuna sedang sakit.

“Mianhae- yo… Aku akan mencarikan obat flu untukmu!” Kyuhyun menghentikan kegiatan mereka, pria itu beranjak menuju kotak first aid yang terletak disudut kamar. Dengan teliti, dia mengambil botol putih itu.


“Dr. Kim, mianhae sepertinya aku tidak bisa masuk bekerja hari ini uhhkk. Aku sedang terkena flu, hachimmm.” Hyuna sedang menelpon. Dia terlihat cukup sulit untuk berbicara, karena batuk dan bersin yang selalu mengganggu.

‘….’

“Oh ne… Tentu saja, uissa-nim! Oh, kau baik hati sekali… maaf merepotkanmu.”

‘…..’

“Ne, gamsha hamnida… Anyeong.” Dia memutus sambungan telepon itu. Huh, Hyuna sangat membenci saat- saat dimana dia harus terserang penyakit.
Dimana dia tidak akan bisa pergi kemana- mana dan kesepian dirumah. Kyuhyun sudah berangkat ke kantor tadi pagi, begitu pula dengan Ayah mertuanya. Kini, dia hanya berdua dirumah dengan sang Ibu mertua yang tengah sibuk didapur.

‘knock.. knock..’

“Hyuna- ya, apa kau sudah bangun??” Suara lembut Ibu mertuanya terdengar dari balik pintu.

“Ne… Silahkan masuk hhk.. uhhk, eomma-nim.” Jawabnya sambil berusaha bangun dari ranjangnya. Seluruh tubuhnya terasa lemas, kepalanya juga ikut berputar. Jika dipaksakan, mungkin dia akan berakhir pada toilet.

“Apa kepalamu masih pusing, sayang??” Ucap wanita paruh baya itu sambil membawa seperangkat sarapan disertai obat flu milik Hyuna yang baru saja diambilnya dari sudut kamar.

“Ne, eomma. Tapi, sudah lebih baik dibanding semalam hachim…” Jawabnya. Ibu mertuanya pun duduk disisi ranjang dan menempatkan nampan berisi bubur dan lain- lain itu di atas pangkuan Hyuna.

“Ayo dimakan, sayang! Kau harus sarapan dulu, lalu minum obat.” Ucapnya lembut. Hyuna mengangguk dan memulai sarapannya. Dia harus makan jika ingin sembuh, walaupun semua yang melewati tenggorokannya terasa hambar dan terkadang pahit.

“Gomawo-yo, eomma.” Ucap Hyuna setelah dia menghabiskan menu sarapannya, dan meminum obat flu.

“Eomma-nim…” Panggil Hyuna pelan saat ibunya itu beranjak dari sisi ranjangnya. Wanita paruh baya itu berbalik dan memberikan senyuman terhangatnya.

“Apa, sayang?? Ada sesuatu yang kau butuhkan??” Tanyanya dengan nada yang sangat lembut. Hyuna menggeleng, dia hanya ingin bertanya satu hal.

“Tapi… Bolehkah aku bertanya beberapa hal padamu, eomma-nim??” Jihyun kembali duduk disisi ranjang tadi dan meletakkan nampan yang dibawanya di meja samping ranjang.

“Tentu saja!”

“Ini mengenai masa kecilnya Kyuhyun…” Hyuna memelankan suaranya, terlebih saat melihat Ibu mertuanya itu terdiam. Wanita paruh baya itu menatap Hyuna sendu.

“Tidak perlu diceritakan jika eomma…”

“Tidak, tak apa! Hal yang wajar jika seorang istri ingin mengetahui masa lalu suaminya…” Jihyun tersenyum, yang Hyuna tau itu hanyalah sebuah senyum paksa. Ada sesuatu yang pahit yang di sembunyikannya.

“Ya…” Ucap Hyuna pelan. ‘Andai kau tahu, eomma! Aku melakukan semua ini karena aku ingin Kyuhyun kembali normal….’

“Eomma, apa kau sangat menyayangi Kyuhyun??” Tanya Hyuna pelan. Jihyun tersenyum penuh kasih sayang.

“Tentu saja, tidak ada ibu yang tidak mencintai anaknya…” Ucapnya penuh kebahagiaan.

“Bahkan, jika aku harus menukarkan nyawaku dengannya… aku rela, sayang!” Lanjutnya lagi.

“Mianhae, eomma…” Hyuna tertunduk, dia merasa sangat bersalah karena telah meragukan kasih sayang yang telah diberikan Jihyun pada suaminya.

“Aniya, gwaenchanna… Memang sudah wajar jika kau meragukan kasih sayangku pada Kyuhyun mengingat statusku yang hanya…”

“Bagi Kyuhyun, eomma merupakan orang yang paling dia sayangi…” Hyuna memotong kalimat Jihyun. Kemudian mereka saling berpelukan, penuh kasih dan sayang.

“Terima kasih karena sudah mendampingi Kyuhyun….” Ucap Sang Ibu mertua. Hyuna menggeleng pelan dan berkata.

“Seharusnya aku yang berterima kasih karena eomma mau menerimaku sebagai menantu dirumah ini…”

.
.

“Hyuna- ya… uhhkk…” Kyuhyun memanggil Hyuna saat dia memasuki kamar. Kyuhyun tampak pucat dan kelelahan. Hyuna yang berbaring diatas ranjang langsung berdiri dan melihat Kyuhyun khawatir.

“Hei… Apa kau baik- baik saja??” Suaranya menggambarkan kekhawatiran yang wanita itu rasakan. Dia berdiri dari tempat tidur, dan membantu Kyuhyun untuk duduk disofa dekat jendela.

“Tenggorokkanku sakit sekali… uhhk.. Apa kau sudah merasa lebih baik??” Kyuhyun terbatuk. Hyuna memandang Kyuhyun penuh penyesalan.

“Ya, aku merasa cukup sehat hari ini… Maaf, mungkin aku sudah menularkan penyakitku padamu…” Ucapnya penuh penyesalan.

“Ya… Tapi, aku suka caramu menularkannya padaku.” Kyuhyun tertawa genit. Hyuna hanya menatap Kyuhyun dengan tidak mengerti.

“Maksudmu?? Memangnya, bagaimana aku menularkan penyakitku padamu??” Tanya Hyuna penasaran. Kyuhyun mengacak rambut Hyuna pelan dan tertawa.

“Untuk yang satu itu, anak kecil sepertimu tidak boleh tau.” Ucapnya tenang sambil sesekali terbatuk.

“Yak!!! Cho Kyuhyun!!” Hyuna berteriak saat menyadari maksud terselubung Kyuhyun, walaupun dia mengabaikan fakta mengenai pipinya yang memerah.

“Ssstt! Berisik… uhukk..” Kyuhyun menutup mulut wanita itu dengan sebelah tangannya sambil berdiri.

“Cho Kyuhyun, apa kau sudah makan??” Tanya Hyuna setelah Kyuhyun melepaskan tangannya. Pria itu mengangguk dan berbaring, tanpa perlu melepaskan pakaian kerjanya.

“Apa sudah makan obat??” Tanpa suara, Kyuhyun menjawab dengan gelengan kepala pelan.

“Baiklah, tunggu disini! Aku akan mengambilkan obat untukmu…” Hyuna berjalan menuju sudut kamar dan mengambil sebuah botol putih dari kotak first aid, kemudian memberikannya pada Kyuhyun lengkap dengan air putihnya.

“Ini obatnya dimakan…” Kyuhyun langsung bangkit dari tidurnya, kemudian memakan obat yang diberikan Hyuna padanya.

.
.

“Hyuna- ya…” Kyuhyun memanggil Hyuna pelan, dia mencoba membangunkan wanita itu dari tidurnya. Namun, tidak ada tanggapan yang diberikan.

“Hyuna- ya…” Hyuna menggerakkan tubuhnya pelan, tapi belum juga membuka matanya. Kyuhyun menjadi kesal melihat Hyuna yang tidak kunjung bangun dari alam bawah sadarnya.

“Yak!! Hyuna-ya, ayo bangun…” Kyuhyun menaikkan nada suaranya. Pria itu menatap Hyuna dengan kesal. Bagaimanapun, Hyuna harus bangun dari tidurnya untuk membantunya. Entah apa yang diberikan perempuan itu padanya semalam, dia merasa kepanasan.

“Hmmm…” Setelah banyak usaha yang Kyuhyun lakukan, dia hanya mendapatkan gumaman aneh sebagai jawabannya.

“Hah… eottokhae???” Kyuhyun melepaskan piyamanya. Dia juga menyalakan AC dengan suhu yang cukup dingin. Hyuna yang tertidur lelap merasa kedinginan, dia lantas bersembunyi di balik bed cover. Sementara itu, Kyuhyun merasa gelisah karena suhu tubuhnya, terlebih bagian bawahnya yang menegang entah karena apa.

“Kyuhyun!! dingin!” Gumam Hyuna saat Kyuhyun menarik paksa bed cover itu dari tubuhnya.

“Kyuh… hhmmmph…” Belum sempat dia melayangkan protesnya yang kedua kali, pria itu langsung membungkamnya dengan ciuman yang penuh dengan gairah.

“Hah.. Kau ingin membunuhku ya???” Teriak Hyuna dengan terengah, saat Kyuhyun melepaskan bungkamannya. Mata merah Kyuhyun menatap Hyuna seperti seekor singa yang hendak menerkam mangsanya.

“Hyuna- ya…” Panggil Kyuhyun dengan suara seraknya. Hyuna hanya menaikkan sebelah alisnya melihat tingkah aneh Kyuhyun.

“Kau ini kenapa sih??” Kyuhyun mendekatkan wajahnya ke wajah Hyuna, membuat mereka saling merasakan deru nafas masing- masing.

“Aku… uhkk, butuh bantuanmu…” Jawabnya sambil sedikit terbatuk.

“Apa?? Apa masih sakit??” Hyuna memandang Kyuhyun khawatir. Tangannya sibuk memeriksa suhu tubuh Kyuhyun di kepalanya. Namun, tangan Kyuhyun memegang tangan Hyuna yang berada dikepalanya.

“Aku tidak butuh bantuan disitu… tapi disini….” Kyuhyun menarik tangan Hyuna dari atas kepalanya.

“Kyaa…” Hyuna terlonjak kaget saat tangan Kyuhyun meletakkan tangannya diatas benda keramat milik Kyuhyun yang sedang berdiri.

Ini cuman Previewnya aja guys… buat part penuhnya tunggu di FlyingNC aja yah… maaf gak bisa update cepet… maklum lagi sibuk banget…. setelah menyelesaikan ff ini, rencananya aku mau hiatus sementara, buat persiapan UN 2016

5 thoughts on “The Reason Chapter 10

    1. hanneulkim Post author

      hahahaha maaf baru dibalas say…
      ff itu kemungkinannya kecil untuk d lanjutkan 😀 by the way berdoa saja semoga ada ilham yang membuatku melanjutkan ff itu yaaa

      Reply
    2. hanneulkim Post author

      hahahaha maaf baru dibalas say…
      ff itu kemungkinannya kecil untuk d lanjutkan 😀 by the way berdoa saja semoga ada ilham yang membuatku melanjutkan ff itu yaaa

      Reply

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s