Love In Sillence

Love-in-Sillence-poster-picsay2

Title :
Love in Sillence
Author :
HanneulKim
Cast :
Cho Kyuhyun, Kim Hyuna, and other.
Category :
Romance, Family, PG-15, Oneshoot.

‘Kau membuat diriku nyaman ditengah duniamu yang hening….’

Aku mengeraskan suara I-Pod ku, memendam semua makian yang terdengar ditelingaku. Headphone menjadi teman setiaku disaat suka dan duka. Aku memejamkan mata, meredam air yang terus mengalir dari mataku. Berjalan lebih cepat dari sebelumnya, tak peduli jika rintihan hujan terus menghunus kulitku.

Rasa dingin begitu menusuk kulitku, hingga membuatku merasa tidak lagi berpijak. Aku tak peduli, ini tidak sebanding dengan apa yang kulakukan. Aku terus menangis, aku rindu appa.

Aku memandang langit malam yang mendung, tak ada sinar rembulan ataupun bintang yang menghiasinya. Halte terasa sepi karena orang- orang lebih memilih menghangatkan diri dirumah. Tetapi, Aku tak berniat pulang meskipun hujan telah reda, meski dingin menyeruak dari pakaian basahku. Daripada nanti aku melukai mereka akan kehadiranku dirumah.

Aku merasakan seseorang duduk disebelahku, tapi aku tidak peduli karena terlalu larut dalam perasaanku. Aku hanya diam hingga sebuah tangan hangat menyentuh pundak-ku. Aku menolehkan kepalaku padanya, Dia tersenyum dan memandangku hangat.

Dia seorang pria, tubuhnya pucat dan cukup tinggi, hidungnya mancung dan mata coklatnya yang tajam itu menghunus mataku. Dia tersenyum dan membuka mantel coklatnya dan menyerahkan itu padaku.

“Maaf tuan… Aku tidak bisa menerimanya. Lagipula, hari ini sangat dingin.” Aku menolak mantelnya secara halus. Meskipun dia memakai pakaian tebal yang berlapis tapi tetap saja terasa dingin, ini musim gugur.

Pria itu mengerutkan dahinya dan menuliskan sesuatu pada note kecil ditangannya. Selesai menulis dia menatapku lembut dan memberikan secarik kertas itu padaku. Aku membaca tulisannya.

‘Gwaenchana… Hari ini begitu dingin nona! Bajumu juga basah, nanti kau bisa sakit ^^’

Aku sedikit tersenyum membaca tulisannya, senang jika masih ada yang mau memperhatikanku seperti ini.

“Baiklah tuan jika kau memaksa…. Gamsha hamnida..” Aku mengambil mantel itu dari tangan pria itu dan memakainya segera. Dia tersenyum dan memandang jalanan yang sepi.

Dia memberiku sebuah kertas kecil lagi padaku setelah kami diam selama beberapa waktu. Aku kembali tersenyum membaca notenya.

‘Apa yang kau lakukan dimalam yang dingin ini dengan pakaian yang basah nona?? Jika tidak terpaksa aku akan mengurung diriku dirumah…’

Baru kali ini aku merasa diperhatikan. Aku tersenyum ramah padanya dan kembali berkata.

“Aku hanya ingin jalan- jalan. Tapi, tak lama aku kehujanan..” ucapku padanya yang tersenyum padaku. Dia menganggukan kepalanya dan kembali memandang kearah jalanan. Tampak sebuah bis melaju perlahan dari kejauhan, pria itu tersenyum padaku dan kembali menuliskan notenya.

‘Namaku Cho Kyuhyun, bisku sudah sampai dan aku harus pergi. Siapa namamu?? Aku berharap kita akan bertemu lagi nanti.’ Aku kembali tersenyum menatapnya dan menggenggam tangan pucatnya.

“Namaku Hyuna, Kim Hyuna.” Ucapku dan dia tersenyum. Setelah kami bersalaman cukup lama, dia beranjak pergi dariku dan masuk kedalam bus yang telah berhenti tepat dihadapan kami. Dia tersenyum dan melambaikan tangannya padaku di pintu bus.

“Sampai jumpa lagi Kyuhyun-ssi” aku sedikit berteriak karena pintu bus yang mulai tertutup.
.
.
.
.
****
.
.
.
.
Pada hari selanjutnya di jam yang sama, Aku duduk sendirian di halte bus. Memegang sebuah mantel coklat milik Kyuhyun ditangan kananku. Aku begitu bodoh karena berharap bisa berjumpa lagi dengannya. Entah apa yang memikatku untuk bertemu lagi dengannya. Tapi, yang pasti aku sangat menghargainya karena sikap hangatnya padaku yang tak pernah kudapat dari orang lain kecuali appa.

Setetes air mata meluncur bebas dari mataku. Aku sangat merindukan beliau, aku membuka ponselku dan menatap fotonya. Aku selalu melihat wajah itu agar aku tak melupakannya. Tetesan kedua kembali meluncur, ketika aku mencoba untuk mengingat suaranya. Tak ada satupun memori yang hinggap diotakku tentang suaranya. Aku hanya diam dan mengosongkan fikiranku agar tidak menangis lagi.

Aku mendongakan kepalaku ketika sebuah tangan hangat itu menyapa pundakku lagi. Dia memamerkan senyum tiga jarinya dan mengatakan ‘annyeong’ meskipun tanpa suara. Akupun tersenyum dan mempersilahkan Kyuhyun duduk disampingku.

“Sepertinya harapanmu dikabulkan Kyuhyun-ssi. Senang bertemu denganmu lagi…” Dia tersenyum menyimak apapun yg kuucapkan, kemudian mengeluarkan sebuah note kecil dari saku kemejanya.

‘Ya… Kurasa ini benar- benar hari keberuntunganku.’

Aku menatapnya dengan sejuta rasa penasaran. Memang terlihat jelas dari raut wajahnya, dia sedang bahagia.

“Keberuntungan apa saja yang kau dapat hari ini?? Kau terlihat sangat bahagia hari ini…” Dia tersenyum dan memainkan jari- jarinya. Kemudian menuliskan beberapa kata pada notenya.

‘Banyak sekali… Salah satunya itu, mantel kesayanganku kembali.’

Aku menatapnya yang menunjuk jarinya ke arah mantel coklat yang ada ditanganku. Hampir saja aku lupa mengembalikannya.

Aku meletakan mantel itu ditangan Kyuhyun. Dia tersenyum padaku dan menggerakan bibir tebalnya. ‘Gomawo’ Meski tidak bersuara aku yakin kata itulah yang sedang dia katakan.

Aku tersenyum hangat padanya dan memandangi pohon- pohon disisi halte. Malam ini begitu dingin, daun- daun berguguran. Semua ini identik dengan musim gugur. Kutatap Kyuhyun dan tersenyum lagi padanya.

“Kyuhyun- ssi…. Apa kita bisa menjadi teman..?” Tanyaku, dia mengerutkan dahinya dan menuliskan sesuatu pada notenya.

‘Apa maksudmu nona?? Menurutku itu pertanyaan yang tak perlu dijawab.’

Aku menatap Kyuhyun dan menghembuskan nafasku dalam- dalam.

“Maksudku, kita baru saja mengenal dan….” Kuhentikan ucapanku ketika dia menempelkan note kecilnya didahiku.

‘Tentu saja… Kita sudah berteman bahkan sejak kemarin.’
Aku tersenyum hangat padanya, dan menganggukan kepalaku pelan. “Gomawo…”

Kami terdiam, sibuk dengan diri masing- masing. Tak lama sebuah bis melaju pelan dari kejauhan. Kyuhyun menatapku dan tersenyum, kemudian menuliskan sesuatu di notenya dan tersenyum padaku.

‘Bisku sudah datang. Padahal aku ingin bicara banyak denganmu, jika Tuhan mengizinkan aku ingin terus mengenalmu…’

Aku mengangguk dan tersenyum padanya. Kyuhyun berdiri dan kemudian berjalan pelan menuju ketepi jalan.

“Kyuhyun- ssi…” Aku memanggilnya. Kyuhyun membalikan tubuhnya dan tersenyum padaku.

“Sampai jumpa lagi…” Kyuhyun kembali tersenyum dan melambaikan tangan pucatnya. Lalu masuk kedalam bis yang telah berhenti pada tempatnya. Kami saling melambaikan tangan hingga tidak bisa saling menjangkau.

Kuhembuskan nafasku berat dan berlalu dari tempat itu. Berjalan perlahan menuju kesebuah tempat yang kusebut ‘Rumah’
.
.
.
.
****
.
.
.
.
Semuanya terasa begitu asing bagiku. Mereka mengabaikanku dan sibuk dalam obrolan mereka masing- masing. Bahkan aku ragu mereka menganggapku nyata. Walaupun beberapa dari mereka memandangku sedikit sinis dan kembali berbisik.

Acara makan malam keluarga merupakan salah satu daftar acara yang paling tidak kusukai. Dimana acara itu akan membuatku merasa sendirian dalam keramaian.

Aku makan dalam diam dan menatap seonggok makanan dihadapanku, meski sesekali aku melirik eomma yang asik berbincang dengan keluarga barunya.
.
.
.
Setelah selesai makan, aku melangkahkan kakiku ke samping rumah. Disana terdapat sebuah taman dengan beberapa pohon maple. Tidak ada suasana hijau, hanya daun- daun coklat kering yang berguguran. Aku duduk di dekat pintu dan menyendiri disana.

Angin sejuk musim gugur menerpa kulitku. Sungguh segar rasanya. Suasana hening, jauh lebih baik daripada aku harus memilih digunjingkan secara tak langsung didalam.

Sebuah tangan hangat menepuk punggungku pelan. Seorang yeoja berparas oriental yang kental tengah tersenyum, tubuhnya -mungkin- sedikit tinggi semampai, sayangnya dia hanya duduk di kursi roda. Aku tersenyum membalasnya, dan dia mendekat kearahku.

“Hai!!” Sapanya ramah.
“Hai…”jawabku.

Dia memandang pemandangan musim gugur yang khas dihadapannya. Menikmati deru angin yang menerpa kulit putih mulusnya. Dia terlihat sangat cantik meski dia menderita disabilitas.

Dia menolehkan kepalanya kearahku dan kembali tersenyum.

“Aku Haneul, siapa namamu??” Dia mengulurkan tangannya padaku, dan langsung kusambut sepenuh hati.

“Hyuna imnida…”

Dia tersenyum lagi dan melepaskan salaman. Kami sama- sama memandangi taman dan daun yang berguguran. Tanpa kusadari ternyata dia memandangku sambil tersenyum.

“Sepertinya usiamu lebih muda dariku. Dan kau harus memanggilku eonnie!!” Titahnya dan aku tertawa kecil.

“Ne Haneul eonnie!!” Kami tertawa bersama.

“Senang rasanya bisa menemukan teman…” Ucapnya dan memandang pohon maple dihadapan kami. Aku sedikit bingung apa yang dimaksudkannya.

“Teman yang lebih memilih menyendiri dibanding harus beramai- ramai. Aku benci keramaian!” Sambungnya lagi.

Aku tersenyum miris. ‘Aku bukannya tidak menyukai keramaian, aku hanya takut merasa sendirian ditengah keramaian…’ gumamku dalam hati.

“Ne…” Jawabku dia menatapku sambil tersenyum.

“Di keramaian pasti orang- orang hanya akan memandangku iba…” dia melirik kearah kakinya.

“Kurasa kita bisa menjadi teman…. Hyuna- ssi”
.
.
.
.
****
.
.
.
.
“Kyuhyun!!!”

Dia menolehkan kepalanya kearahku dan tersenyum kemudian melambaikan lagi tangannya.

“Hai kita bertemu lagi….” Kyuhyun memperhatikanku, dari ujung kaki hingga kepala. Lalu menuliskan note kecil dari saku jaketnya.

‘Kau masih seorang siswa SMA???’

Aku melirik Kyuhyun yang menatapku dalam- dalam. Hari ini sekolah mengadakan sebuah kegiatan, jadi pulang sedikit terlambat. Aku menganggukan kepalaku dan tersenyum. Kyuhyun menuliskan lagi notenya dan mengusap rambutku. Aku terdiam sebentar sebelum membaca tulisannya.

‘Kau harus memanggilku oppa yeoja kecil…’
Dia tersenyum padaku dan mengacak lagi rambutku.

Tanpa sadar setetes air mata jatuh bebas dipipiku. Belaian hangat tangan pucat itu mengingatkanku pada appa. Aku sangat ingat ketika appa mengelus rambutku dan tersenyum.

Tetesan itu kembali terus lebih banyak bagai aliran sungai han. Aku meringis pelan dalam isakanku. Aku menatap Kyuhyun nanar yang menatapku bingung. Dia mengusap punggungku lembut mencoba menenangkanku. Tapi itu tidak berhasil, karena Kyuhyun semakin mengingatkanku pada appa.

Dia berdiri dan berjalan menjauhiku. Aku terdiam memandangi punggungnya yang semakin lama semakin menjauh. Aku kembali menangis kencang, hingga tak menyadari seseorang telah duduk disampingku.

Aku menolehkan kepalaku. Kyuhyun sedang tersenyum dan memegang sebuah permen kapas ditangannya dan memberikan permen pink itu padaku. Aku menatap Kyuhyun yang sedang menulis dengan bingung. Dia menyerahkan note kecilnya padaku.

‘Aku harap kau berhenti menangis…. Maaf jika kau tak suka…’ Ucapnya dan tersenyum kikuk padaku.

“Hiks… Go.. Gomawo…” Dia tertawa pelan melihat tingkahku. Aku mencubit sedikit demi sedikit permen kapas itu. Rasanya begitu manis dan membuatku sedikit tersenyum pada Kyuhyun.

‘Kau terlihat cantik kalau tersenyum…’

Sial, pipiku pasti merona karena membaca notenya itu. Kyuhyun tersenyum dan tertawa pelan. Dia menuliskan sebuah kalimat lagi pada notenya.

‘Mulai saat ini kau harus memanggilku oppa, arraso!’

Aku mengangguk dan tersenyum lebar. “Ne… Kyuhyun oppa.” Ucapku padanya.

Kami hanya diam memandangi daun daun yang berguguran. Heningnya malam melarutkan kami, hembusan angin menerpa kulitku. Musim dingin datang tak lama lagi. Aku tersenyum menatap Kyuhyun oppa yang sedang memandangi daun kering yang berguguran.

Sebuah sinar datang dari kejauhan, berjalan mendekat memecah gelapnya malam. Kuhembuskan nafasku kasar, sarat akan kekecewaan. Kyuhyun oppa menatapku lembut dan tersenyum, melangkah kepinggir halte dan melambaikan tangannya. Bibirnya mengucapkan ‘Jaljayo’ dalam keheningan dan tersenyum.

“Annyeong oppa, Jalja!!!”
.
.
.
.
****
.
.
.
.
Aku dan Kyuhyun oppa sering bertemu selama seminggu terakhir ini. Hubungan kami bertambah dekat, tak jarang aku bercerita tentang kehidupanku. Namun, pertemuan kami tak pernah lebih dari 1 jam, karena bis akan datang dan mengacaukan segalanya.

“Jadi, berapa note yang kau habiskan selama satu hari, oppa?”

Dia terkikik pelan, meskipun terdengar aneh aku menyukainya. Dia menuliskan sesuatu dengan jari lentiknya, kemudian menyerahkannya padaku.

‘Tidak banyak… Tapi berlipat ganda setelah bertemu denganmu yeoja kecil.’

Aku mengerucutkan bibirku kesal, aku bukan anak kecil. Sementara itu Kyuhyun oppa tertawa, sungguh menyenangkan melihat tawanya yang lepas. Aku tersenyum, dia begitu tampan dan mempesona. Aku yakin, jika bukan karena kekurangannya dia pasti menjadi idola.

Perhatikan saja! Alisnya, rambut ikalnya, hidungnya, bibir tebalnya, dan mata onyxnya. Dia terlihat begitu sempurna jika kita mengabaikan kelemahannya. Kyuhyun oppa tersenyum padaku, membuat detak jantungku bekerja lebih keras daripada biasanya.

Seperti biasa, sebuah bis melaju pelan dari kejauhan. Dia tersenyum dan terkikik pelan ketika aku menghembuskan nafasku kecewa. Kyuhyun oppa mengacak rambutku pelan, rasa itu datang lagi.

Sepertinya jantungku tak lagi berada pada tempatnya. Aku mengalihkan sorot mataku, dapat kurasakan kedua pipiku merona.

Terdiam selama beberapa waktu, Kyuhyun oppa menepuk pundakku pelan dan menyerahkan sebuah kertas kecil padaku dan tersenyum.

‘Datanglah lagi kesini besok… Aku harus pergi sekarang.’

Aku tersenyum membaca note itu, dia memintaku datang lagi. Sebuah bis berhenti dihadapan kami. Dia berdiri, kemudian berjalan mendekati bis itu. Dia berbalik lagi dan melambaikan tangannya. Kami saling melemparkan senyum.
.
.
.
.
****
.
.
.
.
Aku membalikan tubuhku dan berjalan menjauh dari tempat itu. Aku duduk dibalik pohon di sebelah halte. Aku melihatnya tengah tersenyum, mendorong seseorang penuh semangat. Tak pernah kulihat pancaran bahagia yang seperti itu dari wajahnya selama bersamaku.

Aku duduk diam menahan semuanya. Langkah kaki itu mulai mendekat, lebih dekat dan berhenti. Aku yakin Kyuhyun sudah berada di halte.

“Kyuhyun…. Mana dia aku ingin melihatnya….” Terdengar suara seorang yeoja yang tidak terasa asing bagiku.

….

Tak ada suara selama beberapa saat. Hanya terdengar suara seorang perempuan yang terkikik pelan. Dan aku hanya diam menahan nafas, menanti apa yang terjadi selanjutnya.

“Aku hanya ingin memastikannya… Karena aku juga sayang padamu Kyuhyun-a…”

Dadaku berdesir, berdetak cepat tak karuan. Mataku merah, dan ingin menangis. Kalimat itu mampu membuatku sakit dan marah. Kenapa aku harus marah? Aku bukanlah siapa-s siapanya.

“Kapan dia akan datang?? Ini sudah satu jam berlalu Kyu-a…”

Ya, kakiku cukup pegal harus menjongkok selama satu jam. Tapi aku harus menahannya. Tak mungkin jika aku keluar dan menghampiri mereka bukan? Itu hanya akan menyakiti hatiku lebih dalam.

Aku mendengar sebuah ban mobil berdecit. Dan sebuah langkah kaki yang mendekat kearah halte.

“Haneul!! Kyuhyun!!” Sebuah suara berat menyapa mereka.

Tunggu!! Haneul, aku pernah mendengar nama itu. Yeoja cantik yang duduk disebuah kursi roda. Seorang yang ramah dengan wajah cantiknya *Author terbang*. Meskipun aku tak bisa melihat rupanya dari balik pohon. Tapi, aku sangat yakin dialah orangnya. Dari suara lembutnya, dan lekuk tubuhnya dari kejauhan.

“Siwon oppa!!”

“Ayo kita pulang….” Ucap namja tadi.

“Shireo…”

“Waeyo??? Hari ini sangat dingin… Nanti kalian bisa sakit…”

“Tidak… Ada seseorang yang harus kami temui…”

“Baiklah… Kita tunggu sebentar ne???”

Beberapa menit mereka diam, begitu pula aku. Rasa sakit dihatiku lebih menyakitkan dari sakit di kakiku.

“Sudah lima belas menit… Kajja kita pulang….”

Tak lama aku mendengar sebuah mesin mobil menyala dan berjalan menjauhi halte. Setelah benar- benar yakin mobil itu telah menjauh, aku melangkahkan kakiku mendekati halte. Duduk disudut bangku dan menangis kecil disana.

****
.
.
.
.
.

Aku terus berjalan ditengah derasnya hujan. Melangkahkan kakiku tanpa arah, tanpa mempedulikan tatapan orang disekelilingku. Dingin begitu menusuk tajam hingga ke tulang.

Ingin rasanya aku kembali ‘kerumah’, menghangatkan diri dibawah selimut. Atau minum cokelat panas. Tapi, aku tak sanggup. Bekas tamparan eomma masih begitu terasa.

Flashback
.
.
.
.
“Hyuna-ya….”

Aku hanya diam menatapnya, kedua mata tajamnya begitu menusuk tatapanku. Aku hanya diam dan mengalihkan pandanganku. Aku tak sanggup menatap kedua matanya yang menatapku penuh luka. Seakan merasakan sakit yang begitu dalam.

Aku menatap sebuah foto dibalik punggung ibuku. Foto itu diambil beberapa tahun silam, sebuah foto dimana keluarga bahagia terlihat disana. Memaksakan senyuman dalam kepedihan, setidaknya itulah yang kurasakan saat itu. Seharusnya hanya ada aku, eomma, dan appa difoto itu. Bukan orang lain yang menggantikan appa diposisinya.

“Hyuna- ya? Apa kau mendengar eomma?” Ucapnya, aku dapat menangkap kesedihan dalam setiap kata yang terucap dari bibirnya. Aku masih diam dan tak menjawab pertanyaannya.

“Hyuna- ya…. Maafkan eomma eoh?!”

“Apa maaf bisa mengembalikan appa?” Tanyaku. Menyunggingkan senyuman miris, tanpa menatapnya.

Dia menatapku dalam, diam dengan bibirnya yang bergetar. Menahan luka yang dipendamnya. Tapi, itu semua bohong. Dia meninggalkan appa dan memisahkanku dengannya.

Hari itu, tepat dihari yang sama dengan hari ini. Di musim gugur yang sejuk. Disaat semua orang menanti dinginnya musim dingin dan berbagi kehangatan, aku hanya menangis. Meraung dan meronta, saat aku direbut secara paksa dari pelukan hangat appa.

Meski sudah sembilan tahun berlalu, waktu yang cukup panjang untukku melupakan semuanya. Tapi kenangan itu, terlihat begitu jelas dan berputar dimemoriku. Tatapan sendunya, aroma tubuhnya, setiap lekuk wajahnya tercetak.begitu jelas dimemoriku.

Kutatap wajah eomma dalam- dalam. Membaca raut wajahnya yang terlihat begitu menyedihkan. Guratan luka terlihat begitu jelas dari kedua matanya. Aku tersenyum sinis dan mendengus.

“Appa… Apa permintaan maaf mu bisa membuatnya kembali lagi disisiku??” Tawa pelan mengakhiri pertanyaanku.

“Hyuna-ya…..”

“Andaikan aku bisa memilih aku tidak ingin….”

“Cukup!!”

“Aku tidak ingin dilahirkan dari seorang perempuan seperti eomma!!”

Plakk

Sebuah tamparan mendarat mulus dipipi kiriku. Terasa begitu sakit dan mungkin sedikit memerah. Aku memandang eomma yang memandangku dengan penuh luka. ‘apa yang ku ucapkan salah?’

Dia memandangi aku yang sibuk memegangi pipi kiriku yang masih terasa panas. Kristal bening mulai bercucuran dari wajahnya. Tak pernah kulihat tatapannya yang begitu perih menyayat hati. Aku ikut menangis, merasakan penyesalan atas suara hatiku yang terdengar bodoh itu.

Eomma beranjak dari hadapanku ketika aku hendak meminta maaf padanya. Tubuh berisinya itu melangkah menjauhiku. Aku hanya menangis merutuki bibirku ini.
.
.
.
.
Flashback off

Dia tersenyum padaku dibawah teduhnya halte. Tak ada yang dapat aku lakukan selain diam, membeku dibawah guyuran air hujan. Dia kembali tersenyum dan melambaikan tangan kanannya kearahku. Aku sedikit mengumpat, halte tempat yang salah untuk menenangkan diri. Meskipun dalam suasana yang hening, tapi aku harus bertemu dengannya yang tidak ingin kutemui untuk saat ini.

Aku membalikkan tubuhku, kemudian melangkah menjauhi tempat itu. Sebelum aku terlarut dalam pesonanya, sebelum aku tenggelam terlalu dalam pada cintanya, sebelum semua itu terjadi aku harus melupakannya.

Sebuah tangan hangat merengkuh lenganku erat. Aku berbalik dan menemukan dia yang menatapku erat dibawah payungnya. Dia menatapku heran dan mengerutkan dahinya. Mata onyxnya menatapku dalam. Aku terdiam, hanya mengalihkan wajahku agar tidak menatapnya lebih lama.

Tangan kiri hangatnya berlalu dari lenganku dan merambat menuju pipiku, mengusapkan telapak tangannya yang hangat diatas permukaan pipi kananku yang dingin. Dia tersenyum, aku hanya diam dan larut dalam kesunyian.

Tanpa sadar, kristal- kristal bening itu meluncur bebas dari mataku. Membentuk aliran sungai bersama dengan tetesan hujan yang membasuh wajahku. Dia mengusapkan tangan kirinya pada rambut coklatku. Aku menangis lagi dan merengkuh tubuh hangatnya dalam pelukanku. Menghirup aroma maskulinnya dalam- dalam, merasakan hembusan nafasnya diatas kepaku dan mendengar debaran jantungnya.

Dia menggandeng tangan dinginku erat, menyalurkan hangat tubuhnya. Dia menggiringku menuju ke bawah lindungan halte. Aku menatap tetesan hujan dalam diam.

Kurasakan sebuah mantel tengah melingkupi tubuhku. Aroma tubuhnya begitu memabukkan, yang akhir- akhir ini selalu kurindukan.

Sebuah note kecil melintas dihadapanku, kulihat Kyuhyun tersenyum menatapku dalam. Aku mengambil kertas kecil itu dengan tangan yang gemetar karena dinginnya temperatur udara.

‘Aku merindukanmu… Bogoshipoyo….’

Nafasku tercekat membaca tulisannya. Ingin aku berteriak kencang, menyatakan padanya Aku juga merindukannya. Namun, temperatur udara menelan keberanianku dalam- dalam. Aku hanya diam dengan perasaan bahagia yang membuncah dari dadaku.

‘Tidakkah kau merindukanku juga??’

Note lain menghampiriku setelah beberapa saat kami diam dalam keheningan. Aku tersenyum padanya. Bukan senyum merekah, hanya sebuah lengkungan tipis. Dia menatapku hangat dengan senyum khas miliknya. Aku mengangguk pelan dan berkata.

“Ne oppa… Nado Bogoshipo….”

****

Aku merapatkan mantel coklat yang membungkus tubuhku, menghalau dinginnya udara yang menusuk sela- sela kulitku. Hujan yang belum juga reda, dan langit yang semakin gelap menemani kesunyian diantara kami berdua.

Aku memperhatikannya, setiap lekuk wajahnya yang memandang langit malam yang mendung. Terkadang dia tersenyum lalu menatapku. Manik mata onyxnya begitu memukau, pesonanya melumpuhkan kinerja otakku.

Dia kini tersenyum menatapku, tanpa berniat memecah keheningan malam. Kami sama- sama tersenyum dalam diam. Perlahan Kyuhyun menggenggam tangan kananku erat, mengusap punggung tanganku pelan. Tangan kirinya yang bebas meraih sesuatu dari saku sweaternya. Sebuah kotak kecil dengan note yang menempel pada bungkusnya.

Tangan kanan Kyuhyun akhirnya melepas genggamannya. Menulis sesuatu pada note kecil itu, sambil tersenyum- senyum sendiri. Dia menyerahkan note itu dan menggaruk tengkuknya pelan. Aku tersenyum sebelum membaca notenya.

‘Sebenarnya, sudah lama aku ingin memberikan ini padamu, bukalah… Jangan lihat dari harganya, tapi lihatlah dari maknanya.. Arraseo?!’

Aku tersenyum dan menatap manik matanya. Perlahan kubuka kotak kecil berbungkuskan kertas berwarna biru muda itu, sebuah benda kecil yang tak pernah ku sangka akan menjadi isinya.

Sebuah hairband berbentuk pita yang terikat terlihat begitu cantik. Berwarna biru shapire yang bertahtakan permata- permata yang berkilauan. Aku menatapnya haru, sambil tersenyum simpul.

Sebuah tangan menghentikan aku yang sedang mencoba membaca suratnya. Dia memandangku dan menyodorkan sebuah note kecil.

‘Baca saja dirumah… Oh ya, hari sudah malam, kau harus pulang… Mau kuantar??’

Aku menatap Kyuhyun bingung, bagaimana caranya ia mengantarku pulang kerumah sementara dia saja naik bus. Mengerti akan jalan pikiranku, Kyuhyun menunjuk kearah sebuah mobil sedan hitam yang terparkir cantik disana.

“Kita naik itu??” Kyuhyun mengangguk pasti.

Dia merangkul tanganku, kemudian menggiring langkah kaki kami menuju mobil itu.

Suasana hening menyelimuti mobil Kyuhyun. Seperti yang kalian tahu, Kyuhyun tak pernah mengeluarkan suaranya dihadapanku. Hanya tulisan tangan diatas lembaran note lah yang mewakili semuanya. Aku tak tau apa penyebab utama pria ini tak pernah mengeluarkan suaranya. Tapi, apapun yang terjadi dengannya aku tetap mencintainya. Mencintai Kyuhyun meskipun akan berada dalam keheningan dunianya selamanya, aku rela.

Aku menunjukan arah kerumahku dengan bahasa tubuh yang kubuat. Sesekali Kyuhyun menganggukkan kepalanya dan bergumam tak jelas.

Ketika kami sampai di ujung jalan, aku mengisyaratkan Kyuhyun untuk berhenti di depan rumah yang cukup sederhana.
Aku bergegas keluar, kemudian melambaikan tanganku padanya yang mulai menjauh. Ku rengkuh tubuhku pelan, meminimalisir rasa dingin dan sebagian rasa gugupku.

Sebenarnya, aku masih takut pulang kerumah. Tempat dimana aku harus berhadapan dengannya. Aku takut, menyesal dan juga marah padanya. Aku tak tau apa yang harus kuperbuat dihadapannya.
.
.
Rumah terasa begitu sepi, tak ada tanda- tanda kehidupan disini. Aku bernafas lega, setidaknya aku tak perlu salah tingkah bila harus berhadapan dengan eomma.

Aku membuka selembar kertas berwarna biru ini pelan. Kemudian kubaca setiap kata yang terkandung didalamnya perlahan.

Dear Kim Hyuna,

Baiklah…. Nona, setelah beberapa saat mengenalmu ada sesuatu yang menggangguku.
Lebih tepatnya sesuatu yang membuatku ingin lagi dan lagi untuk bertemu denganmu.
Setelah sekian lama, aku mempelajari sesuatu yang menggangguku itu.
Namun, kau menjauhiku ketika aku mengerti apa yang kurasakan.
Aku sangat takut kau akan meninggalkanku karena kekuranganku, yang akan membuatmu terjebak dalam dunia heningku.
Tapi, kau kembali setelah beberapa saat.
Meskipun ini terasa tak mungkin, yang jelas aku selalu berdo’a pada Tuhan agar dapat mengenalmu lebih lama… Bahkan seumur hidupku.

Aku memberikanmu sebuah jepit rambut bermotif pita yang selalu diberikan generasi lelaki tertua keluarga Cho kepada wanita yang dicintainya….
Pita itu sendiri bermakna sebuah jalinan kasih yang terikat selalu…
Dan aku ingin sekali mengikat tali kasihku dengan milikmu Hyuna-ya…
Jika kau juga memiliki perasaan yang sama, datanglah ke halte besok… Di jam yang sama saat pertama kali kita bertemu..

Aku selalu menunggumu…

Cho Kyuhyun.

Aku tersenyum manis. Kyuhyun oppa sudah secara tidak langsung menyatakan perasaannya padaku. Rasa senang mengalir keseluruh tubuhku.

Namun, aku kembali teringat kejadian beberapa waktu lalu. Pertemuan terakhirku dengan Kyuhyun sebelum hari ini. Haneul, seorang yeoja cantik dan ceria ditengah disabilitasnya.

Jutaan pertanyaan mengenai hubungan Kyuhyun dan gadis yang kupanggil eonnie itu hinggap di otakku. Aku terlalu takut, bila nanti hubungan mereka seperti yang aku bayangkan aku harus bagaimana? Jujur saja, ini pengalaman pertamaku berhubungan dengan namja selain anggota keluargaku.

****

“Hatcihh..” Entah berapa kali aku bersin hari ini. Tubuhku hangat, hidungku gatal dan selalu ingin bersin.

Mungkin aku akan flu, mengingat kemarin aku hujan- hujanan tanpa menggunakan mantel. Oh, sialnya mengapa ini harus terjadi tepat disaat aku akan bertemu dengannya.

Aku melilitkan syal biru muda pada leherku, guna menghangatkan tubuhku dihari yang dingin ini. Melangkahkan kakiku keluar rumah menuju halte.

Tak terasa musim gugur akan berakhir satu minggu lagi, warna coklat yang mendominasi akan tergantikan oleh warna putih. Tak ada lagi daun yang berguguran, tak ada lagi hujan, yang ada hanya pepohonan gundul dan jalanan yang tertutup salju.

Aku duduk ditempat itu sendirian. Lagi- lagi halte sangat sepi, meskipun ada beberapa mobil yang berlalu lalang. Sudah beberapa kali aku bersin, namun tak kuhiraukan. Aku sangat ingin bertemu dengannya.

Sebuah mobil sedan hitam berhenti didekat halte. Pria yang sedang kutunggu itu keluar dan melemparkan senyumannya padaku. Namun, pria itu tidak sendirian. Dia menggopoh(?) seorang yeoja yang tak asing baginya menuju kesebuah kursi roda yang telah dikeluarkannya tadi.

Kyuhyun mendorong kursi roda itu mendekatiku. Dia dan yeoja itu tersenyum penuh arti padaku. Dapat kulihat, sebuah cincin emas tengah bertengger di jari manis kirinya.

“annyeonghaseo…” ucap perempuan itu ramah.
“Aku tak pernah menyangka kita akan bertemu lagi, Hyuna-ssi…” ucapnya, aku tersenyum simpul.
“ne, senang bertemu denganmu eonnie…” Kyuhyun menatap kami dengan alis berkerutnya.

“Kau tak perlu bingung Kyuhyun-ah… Kami memang kenal sebelumnya, dia sepupu tiriku.” Aku sangat yakin jika Kyuhyun terkejut, itu tergambar jelas dari mimik wajahnya.

“Jadi, Hyuna-ya apa jawabanmu untuk sahabatku ini?” Aku lega mendengar kata Sahabat yang terlontar dari bibir tebal Haneul.
Aku tersenyum simpul sebelum menjawab pertanyaannya.
“Ne… Tentu saja.”

****

Aku menundukan kepalaku dalam- dalam. Mencoba menghindar dari tatapan matanya. Eomma tengah duduk sendiri di salah satu sofa, memegang sebuah bingkai foto. Sebuah foto usang yang sangat kurindukan.

Aku bersusah payah menahan genangan air mataku. Aku sangat merindukannya, setiap belaian tangannya diatas kepalaku. Aku mendekatkan diriku pada eomma, melangkahkan kakiku pelan. Duduk disampingnya dan memeluk tubuh itu dari belakang.

Aku tahu eomma terkejut atas perlakuanku. Namun, dia menyembunyikan semuanya dengan baik.

“eomma… Mianhae.” gumamku padanya.
“Eomma…..” Aku berbisik pelan. Aku sangat ingin memohon maaf darinya saat ini. Aku tahu, eomma menyimpan semuanya dariku karena satu hal dan mungkin belum saatnya aku mengetahui hal itu.

Kini eomma membalikkan tubuhnya padaku, menatapku dari balik matanya yang memerah. Dia kemudian memelukku erat, akupun begitu. Aku sangat merindukannya.

Mulai saat ini aku berjanji pada diriku sendiri untuk tidak menyakitinya, dan menomor-satukan dirinya dalam hidupku.

****

Aku menatap sepasang anak manusia itu dari barisan kursi terdepan. Menyaksikan peristiwa sakral itu dengan senyuman. Aku merasakan sebuah tangan menggenggam tanganku erat. Aku meliriknya, dan dia tersenyum padaku.

Pria ini selalu tau bagaimana cara menebarkan pesonanya. Kyuhyun menuliskan beberapa kata pada note kecil andalannya.

‘Aku ingin menikahimu Hyuna-ya…. Kita akan memiliki pernikahan yang lebih indah dari mereka….’

Aku tertawa pelan dan memukul bahunya pelan. Dia terkikik tanpa suara, dia terlihat mempesona.

“Yakk!!! Oppa, bagaimana kita bisa menikah??? Aku kan masih seorang siswi SMA tingkat akhir…” Bisikku padanya.

‘Nanti, saat kau lulus dan aku juga lulus kuliah… Aku akan melamarmu.. Jadi…’

“Jadi???”

‘Would you marry me??’

The End

Huaaaahhh akhirnya ff ini selesai… Dari musim gugur aku mulai nulis FF ini sampai akhirnya awal musim salju baru selesai… MAAF banget kalo ada salah kata atau kekurangan…

RCL yaa….

10 thoughts on “Love In Sillence

  1. heerohee

    Haii , aku reader baru di sini , salam kenal^^

    Jujur aku suka sekali oneshoot ini. Simple tapi feel nya dapet. Sepertinya bukan cuma aku aja yang butuh sequel ini xixixi.
    Terima kasih😆

    Reply

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s