Maaf dan Gosip

Hai, sudah berbulan2 saya tidak mengunjungi blog ini dan tidak meng-update ff…

sebenarnya, saya sudah hampir menyelesaikan ff saya itu, namun komputer saya terkena virus (akibat kecerobohan sendiri) yang menyebabkan data2 saya hilang semua bahkan skripsi kakak2 saya juga hilang T.T

 

saya gak bisa berjanji apa2 tentang lanjutan ff tersebut… Maaf yang sebesar-besarnya,

 

Oh ya, karena terlalu sibuk dengan UN dan registrasi PTN saya jadi banyak sekali ketinggalan gosip tentang para author ternama… dan saya pikir saya tidak perlu menyebutkan nama terdakwa(Berat) dan para korban…

 

sejujurnya saya juga terkejut dan kecewa (walaupun saya bukan korban), karena saya cukup mengenal beliau -sebut saja CR- dari akun FB nya (kami sudah berteman >2tahun)

I can believe that reality, and i wish everything gonna be okkay 🙂

 

 

Like a Star -Prolog (Not FF)

Lifetime Wish Prolog

Someday might be today, we’ll be together, and not say another goodbye again…

“Apa yang akan kau lakukan, jika kau diberi satu kesempatan lagi??” Tanyanya. Mereka tengah memandang langit malam yang indah di taman rumah sakit.

“Aku punya seribu satu hal yang akan aku lakukan jika aku diberikan waktu yang lebih lama…” Jawabnya dengan senyuman penuh harapan. Bibirnya yang pucat itu membentuk senyuman, dia begitu bahagia membayangkan apa yang akan dilakukannya.

“Banyak sekali, mungkin tidak akan selesai malam ini jika aku menceritakan semuanya!” Pria itu tersenyum melihat wajah gadisnya yang terlihat sangat bahagia.

“Aku yakin, salah satunya pasti melakukan perawatan rambut. Hahahaha!” Dia mengusap kepala plontos gadis itu. ‘Memang dia punya rambut??’ Cibir gadis itu dalam hati.

“Ah, lupakan! Lalu, bagaimana denganmu??” Gadis itu bertanya pada sang pria yang masih asyik tertawa.

“Apanya yang bagaimana??” Tanyanya setelah selesai tertawa.

“Harapanmu jika kau juga di berikan kesempatan…”

“Oh, itu…” Pria itu tampak sedikit berpikir. Kemudian, dia kembali tersenyum sambil menatap lautan bintang yang terhampar dihadapannya.

“Aku hanya punya dua harapan…” Dia menggenggam tangan pucat gadis yang duduk disebelahnya itu.

“Yang pertama, aku ingin memperbaiki kehidupanku…” Dia mengusap punggung tangan gadis itu pelan dan tersenyum padanya.

“Yang kedua, aku akan menikahi seorang gadis..” Perempuan itu terkesiap, hatinya merasa sakit.

“Seorang gadis yang menyadarkanku, menemaniku, menyemangatiku…” Nafasnya tercekat, dadanya terasa sesak penuh dengan luka. Pria itu berdiri dari duduknya dan berlutut pada gadis itu.

“Berjanjilah padaku, bahwa kau akan menjadi gadis itu! Selalu menemaniku, mengingatkanku bila aku salah, menyemangatiku…” Dia merasa terkejut.

“Aku ingin kau yang menjadi gadis itu, dan aku akan menikahi Erythros Aima..”

Tunggu lanjutannya ya…